Saturday, May 2, 2026

CARA SHOLAT KHUSYU’ YANG MAMPU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR MENURUT TUNTUNAN AL-QUR'AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, DAN PETUNJUK FIQIH EMPAT MADZHAB

CARA SHOLAT KHUSYU’ YANG MAMPU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR MENURUT TUNTUNAN AL-QUR'AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, DAN PETUNJUK FIQIH EMPAT MADZHAB

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini

A. PENDAHULUAN

Sholat merupakan tiang agama dan amalan pertama yang dihisab di hari kiamat. Esensi sholat tidak hanya pada gerakan fisik, melainkan pada kekhusyu’an yang melahirkan kesadaran moral. Allah SWT secara eksplisit menyatakan bahwa sholat mencegah perbuatan keji (fahsya’) dan mungkar (munkar). Namun, realitanya banyak orang yang sholat namun masih terjerumus dalam kemaksiatan. 

Riset ini menganalisis secara normatif-yuridis tuntunan Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) tentang cara mencapai sholat khusyu’ yang efektif sebagai pencegah kejahatan.

Sholat dalam Islam adalah ibadah mahdhah yang memiliki dimensi vertikal (hablun minallah) dan horizontal (hablun minannas). Sayangnya, banyak umat Islam yang sholat tetapi perilaku sosialnya tidak berubah. Fenomena ini menjadikan pertanyaan mendasar: bagaimana sholat dapat mencegah keji dan mungkar? Jawabannya terletak pada khusyu’. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ﴾

Artinya: “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Qs. Al-‘Ankabut [29]: 45)

Ayat ini adalah klaim normatif. Namun, sholat hanya akan mencapai fungsi tersebut jika dilakukan dengan khusyu’ sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW dan para ulama empat madzhab.

B. PENGERTIAN KHUSYU’ DAN HUBUNGANNYA DENGAN MORAL

Khusyu’ secara bahasa berarti ketundukan, ketenangan, dan penghayatan hati. Secara istilah, khusyu’ adalah hadirnya hati dalam sholat, disertai perasaan takut dan cinta kepada Allah sehingga anggota tubuh pun tenang. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menyatakan bahwa khusyu’ adalah ruh dari sholat. Tanpa khusyu’, sholat hanya seperti gerakan tanpa nyawa.

C. TUNTUNAN AL-QUR'AN TENTANG SHOLAT KHUSYU’

C.1. PERINTAH KHUSYU’ DALAM AL-QUR'AN

Allah SWT berfirman:

﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.” (Qs. Al-Mu’minun [23]: 1-2)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kekhusyu’an adalah fondasi keberhasilan seorang mukmin di dunia dan akhirat.

C.2. ANCAMAN BAGI ORANG YANG LALAI DALAM SHOLAT

Allah SWT juga memperingatkan:

﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴾

Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” (Qs. Al-Ma’un [107]: 4-5)

Menurut jumhur ulama, kelalaian (sahw) adalah lawan dari khusyu’. Sholat tanpa khusyu’ tidak akan mampu mencegah kejahatan.

D. TUNTUNAN AL-HADITS TENTANG SHOLAT KHUSYU’

D.1. HADITS TENTANG INTI KHUSYU’

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبْعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا، نِصْفُهَا»

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba sholat, tidak ditulis untuknya dari sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.’” (HR. Abu Dawud, no. 796 – dinyatakan hasan oleh Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan bahwa pahala sholat tergantung pada kadar kekhusyu’an.

E. CARA MENCAPAI SHOLAT KHUSYU’ MENURUT TUNTUNAN FIQIH EMPAT MADZHAB

Para ulama empat madzhab sepakat bahwa khusyu’ adalah wajib secara batin, namun mereka berbeda dalam beberapa aspek teknis dan rekomendasi.

E.1. MADZHAB HANAFI (IMAM ABU HANIFAH)

· Persiapan: Sangat menekankan at-tahannuts (berdiam diri sejenak sebelum sholat) dan menghadirkan niat.
· Gerakan: Harus thuma’ninah (tenang) setiap gerakan. Tidak sah sholat jika tergesa-gesa.
· Pandangan: Dianjurkan melihat tempat sujud untuk menghindari gangguan.
· Cegah Keji: Menurut Hanafi, sholat yang benar (dengan syarat dan rukun sempurna) akan menimbulkan cahaya dalam hati yang mencegah dosa.

E.2. MADZHAB MALIKI (IMAM MALIK BIN ANAS)

· Khusyu’ sebagai Fardhu Kifayah: Dalam madzhab Maliki, khusyu’ hati adalah fardhu ain, tetapi jika hilang karena was-was, tidak membatalkan asal sholat.
· Sunah: Membaca Al-Qur’an dengan tartil, merenungkan makna (tadabbur).
· Praktis: Menganjurkan sholat di awal waktu, karena kelambanan melemahkan kekhusyu’an.

E.3. MADZHAB SYAFI'I (IMAM ASH-SYAFI'I)

· Pendekatan Psikologis: Imam Syafi’i menganjurkan berpura-pura seolah-olah melihat Allah (ihsan), atau minimal yakin bahwa Allah melihatnya.
· Langkah Teknis:
  · Menyiapkan tempat yang gelisah (tidak ramai).
  · Membaca ta’awudz untuk mengusir setan yang memecah konsentrasi.
  · Memahami arti bacaan (wajib menurut Syafi’i untuk mendapatkan pahala sempurna).
· Pencegahan Mungkar: Sholat yang khusyu’ akan melahirkan muraqabah (rasa diawasi) sehingga seseorang enggan berbuat dosa.

E.4. MADZHAB HANBALI (IMAM AHMAD BIN HANBAL)

· Teologis: Khusyu’ adalah buah dari takwa. Semakin tinggi takwa, semakin khusyu’.
· Tuntunan: Meninggalkan segala hal yang menyibukkan hati sebelum sholat (makanan, hajat WC, urusan dunia).
· Larangan: Menoleh ke kanan/kiri dalam sholat (makruh karena melawan khusyu’).
· Cegah Keji: Imam Ahmad menegaskan bahwa sholat yang tidak mencegah keji adalah sholat cacat, dan orang tersebut perlu bermuhasabah.

F. INDIKATOR SHOLAT YANG MAMPU MENCEGAH KEJI DAN MUNGKAR

Berdasarkan sintesis pendapat ulama, sholat yang mampu mencegah fahsya’ wa munkar memiliki indikator:

1. Adanya perubahan perilaku: Setelah sholat, seseorang menjadi lebih sabar, jujur, dan menjauhi ghibah, zina, riba, dan kezaliman.
2. Rasa malu kepada Allah: Saat hendak berbuat dosa, teringat bahwa ia telah berdiri di hadapan Allah dalam sholat.
3. Konsistensi: Tidak hanya khusyu’ saat sholat, tetapi juga istiqamah dalam ketaatan pasca sholat.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا»

“Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dalam sisi Allah kecuali semakin jauh.’” (HR. Ath-Thabrani, dan dinilai hasan oleh Al-Haytsami)

G. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Sholat khusyu’ bukan sekadar ritual, melainkan sistem pembinaan moral yang efektif. Al-Qur’an, Hadits, dan empat madzhab sepakat bahwa khusyu’ dicapai melalui persiapan mental, pemahaman bacaan, ketenangan gerak, dan kesadaran akan kebesaran Allah. Sholat yang demikian akan melahirkan ‘ishmah (penjagaan diri) dari dosa besar dan kecil. Sebaliknya, sholat tanpa khusyu’ adalah sholat yang kehilangan ruhnya dan tidak akan mencegah pelakunya dari kejahatan.

Rekomendasi: Umat Islam hendaknya berusaha menghadirkan hati, mempelajari makna sholat, dan mengamalkan sunnah-sunnah yang mendukung kekhusyu’an sesuai dengan salah satu madzhab yang diikuti.

DAFTAR PUSTAKA

1. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats. (2009). Sunan Abi Dawud. Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid. Beirut: Al-Maktabah Al-‘Asriyyah.
2. Al-‘Asqalani, Ibnu Hajar. (2010). Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Kairo: Dar Al-Hadits.
3. Al-Ghazali, Abu Hamid. (2015). Ihya’ ‘Ulumiddin (Jilid 1). Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
4. Al-Haytsami, Nuruddin Ali bin Abi Bakar. (2014). Majma’ Az-Zawa’id wa Manba’ Al-Fawa’id. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
5. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman. Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
6. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman. Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
7. Al-Jaziri, Abdurrahman. (2003). Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah. Kairo: Dar Al-Hadits.
8. Al-Qayyim, Ibnu. (2011). Ash-Shalah wa Ahkamu Tarikiha. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
9. Al-Qur’an Al-Karim.
10. Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris. (2008). Al-Umm. Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
11. Ibnu Katsir, Abu Al-Fida’ Ismail. (2012). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah.
12. Malik bin Anas. (2015). Al-Muwaththa’. Abu Dhabi: Muassasah Zayed.
13. Sabiq, Sayyid. (2014). Fiqh As-Sunnah. Kairo: Al-Fath li Al-I’lam Al-‘Arabi.

Ref: https://www.facebook.com/share/p/18oXQZG5NR/

MELINTASI TUJUH ALAM (ALAM RUH, ALAM RAHIM, ALAM DUNIA, ALAM BARZAKH, ALAM MAHSYAR, ALAM HISAB, ALAM AKHIRAT)

MELINTASI TUJUH ALAM (ALAM RUH, ALAM RAHIM, ALAM DUNIA, ALAM BARZAKH, ALAM MAHSYAR, ALAM HISAB, ALAM AKHIRAT) PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR'AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, TEOLOGI, FILSAFAT, TASAWUF, MAKRIFATULLAH, ESKATOLOGI, KOSMOLOGI DAN METAFISIKA

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini

A. PENDAHULUAN

Perjalanan eksistensi manusia tidak terbatas pada kehidupan dunia semata. Dalam akidah Islam, setiap jiwa melintasi beberapa tahapan alam (al-awalim) sejak sebelum penciptaan jasad hingga kehidupan abadi di akhirat. 

Riset ilmiah Irfani ini menyajikan kajian komprehensif tentang tujuh alam utama: alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, alam padang mahsyar, alam hisab, dan alam akhirat (surga/neraka). Dengan pendekatan multidispliner—meliputi perspektif Tafsir Al-Qur'an, Hadits, akidah Ahlussunnah, teologi, filsafat, tasawuf, makrifatullah, eskatologi, kosmologi, dan metafisika.

Riset ilmiah irfani ini menguraikan hakikat "kehidupan" di setiap alam serta relevansinya dengan seruan adzan "hayya ala al-falah". 

Kesimpulannya menunjukkan bahwa setiap alam memiliki bentuk kehidupan yang berbeda secara ontologis namun saling terhubung dalam satu kesatuan perjalanan spiritual menuju keberuntungan hakiki (al-falah al-haqiqi).

Setiap muslim meyakini adanya kehidupan setelah kematian sebagai bagian rukun iman yang kelima: iman kepada hari Akhir. Namun, pemahaman tentang alam-alam yang dilalui ruh seringkali masih bersifat global dan kurang mendalam. 

Pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti "apakah di alam barzakh ada kesadaran?" atau "bagaimana bentuk 'kehidupan' di padang mahsyar?" memerlukan jawaban yang tidak sekadar tekstual, tetapi juga filosofis dan spiritual.

Riset ilmiah Irfani ini berupaya menjawab kebutuhan tersebut dengan menyajikan analisis terintegrasi. Ruang lingkup pembahasan mencakup definisi dan gambaran kehidupan di ketujuh alam, serta telaah khusus tentang relevansi seruan hayya `ala al-falah dengan seluruh rangkaian perjalanan kosmis tersebut. Sumber utama yang digunakan adalah Al-Qur'an, Hadis-hadis shahih, kitab At-Tadzkirah karya Imam al-Qurthubi, Tafsir Arsyurrahman dan Tafsir Midadurrahman karya Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini, serta pandangan ulama sufi dan filosof seperti al-Ghazali dan Mulla Sadra.

B. DEFINISI "ALAM" DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Secara etimologis, kata "alam" (عالم) berasal dari akar kata `alama (علم) yang berarti "tanda". Alam adalah sesuatu yang menunjukkan keberadaan Penciptanya.

Dalam terminologi teologi Islam, alam merujuk pada seluruh realitas selain Allah SWT, baik yang kasat mata (syahadah) maupun tidak (ghaib).

Para filsuf Muslim membagi alam menjadi tiga kategori besar: alam akal (alam al-aql), alam misal (alam al-mitsal atau alam imajinal), dan alam fisik (alam al-jism). Sementara itu, dalam tradisi tasawuf, alam dipahami sebagai manifestasi (tajalli) dari Asma dan Sifat Ilahi dalam tingkatan-tingkatan yang berurutan . Imam al-Qurthubi, dalam At-Tadzkirah, mendeskripsikan alam-alam perjalanan ruh secara berurutan sebagai bentuk rahmat Allah agar manusia mempersiapkan bekal sebelum kematian menjemput.

Hakikat "kehidupan" (al-hayah) di setiap alam berbeda secara fundamental. Jika kehidupan dunia bersifat material dan temporal, kehidupan di alam barzakh bersifat ruhaniah dan berdimensi imajinal, sementara kehidupan di akhirat bersifat abadi dan sempurna. Perbedaan ini bukan menunjukkan ketiadaan kehidupan, melainkan gradasi kualitas hayah itu sendiri.

C. TUJUH ALAM DALAM PERJALANAN MANUSIA

1. ALAM RUH (عالم الأرواح)

Alam ruh adalah dimensi eksistensi pertama manusia sebelum diturunkan ke rahim. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَٰفِلِينَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).'" (QS. Al-A'raf [7]: 172)

Ayat ini menjadi landasan utama keberadaan alam ruh. Dalam perspektif tasawuf, alam ruh adalah alam kesucian di mana setiap jiwa telah mengakui rububiyah Allah. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyebutnya sebagai `alam al-wahdah (alam kesatuan) sebelum memasuki alam keragaman.

Para ulama akidah menjelaskan bahwa perjanjian primordial (mitsaq) ini menjadi fitrah dasar manusia yang tidak pernah hilang meskipun tertutup oleh kelalaian duniawi.

Kehidupan di alam ruh adalah kehidupan tanpa jasad—kesadaran murni yang hanya mengenal Tuhannya. Inilah sebabnya mengapa setiap manusia yang terlahir ke dunia memiliki kecenderungan bawaan (fitrah) untuk mengakui keberadaan Tuhan.

2. ALAM RAHIM (عالم الرحم)

Setelah fase ruh, Allah menempatkan manusia ke dalam rahim ibunya. Proses ini dijelaskan secara rinci dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

Dari Abdullah bin Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ...

"Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nutfah (air mani), kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian diutus kepadanya malaikat lalu meniupkan ruh padanya..." (HR. Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643)

Di alam rahim inilah terjadi penyatuan antara jasad yang sedang berkembang dengan ruh yang telah ada sebelumnya. Pada tahap ini, Allah juga menetapkan empat perkara pokok setiap manusia: rezeki, ajal, amal, dan nasib akhiratnya (suka atau celaka).

Penetapan ini dalam terminologi teologi Islam disebut qada` muallaq, yang dapat berubah melalui doa dan amal saleh.

Kehidupan di alam rahim adalah kehidupan biologis dalam bentuk paling awal—manusia mulai merasakan, mendengar, dan bahkan bereaksi terhadap stimulus eksternal, namun dalam ketidaksadaran penuh akan realitas di luar rahim.

3. ALAM DUNIA (عالم الدنيا)

Dunia adalah fase ujian (dar al-ibtila) sekaligus ladang (mazra'ah) untuk akhirat. Allah SWT berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Kehidupan dunia memiliki karakteristik relatif, fana, dan penuh dengan tipu daya (ghurur). Dalam perspektif filsafat Islam, dunia adalah alam huduts (keterjadian) dan fasad (kerusakan). Mulla Sadra menjelaskan bahwa dunia merupakan "bayangan" dari realitas yang lebih tinggi (alam misal dan alam akal). Namun demikian, dunia bukanlah realitas semu tanpa makna; ia adalah medan bagi jiwa untuk berkembang (al-sayr wa al-suluk) menuju kesempurnaan.

Ulama tasawuf membagi kehidupan dunia menjadi beberapa sub-fase: alam kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua—masing-masing dengan karakteristik dan ujiannya sendiri.

Setiap fase dipaksa untuk dilalui sebagai bagian dari proses pendewasaan spiritual.

4. ALAM BARZAKH (عالم البرزخ)

Secara etimologi, barzakh berarti "penghalang" atau "dinding pemisah". Allah SWT berfirman:

وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun [23]: 100)

Alam barzakh dimulai sejak kematian hingga hari kebangkitan. Ini adalah fase pertama kehidupan pasca-dunia. Dalam At-Tadzkirah, Imam al-Qurthubi menjelaskan secara panjang lebar tentang nikmat dan azab kubur sebagai realitas yang pasti terjadi di alam ini.

Kehidupan di alam barzakh adalah kehidupan dengan jasad mitsali (jasad misal/idealis), bukan jasad fisik yang membusuk di dalam tanah. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْقَبْرَ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ

"Sesungguhnya kubur itu adalah taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka." (HR. Tirmidzi no. 2460)

Bagaimana mungkin kubur yang sempit dan gelap menjadi "taman surga"? Inilah hakikat kehidupan barzakh, ia tidak terikat oleh hukum-hukum fisik material. Kenikmatan atau siksaan di alam barzakh dialami oleh ruh yang terhubung dengan jasad mitsali-nya. Dalam sebuah hadis panjang, dijelaskan bahwa ruh orang beriman akan didatangi oleh seorang lelaki berwajah tampan, berpakaian indah, dan berbau wangi yang berkata: "Aku adalah amalmu yang saleh" . Sebaliknya, ruh orang kafir didatangi sosok mengerikan yang berkata: "Aku adalah amal perbuatanmu yang buruk".

Peristiwa ini menunjukkan bahwa di alam barzakh, amal perbuatan duniawi "dijelmakan" (tajassud al-a`mal) menjadi bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan. Inilah pandangan yang dianut oleh mayoritas ulama Ahlussunnah, termasuk Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.

5. ALAM MAHSYAR (عالم المحشر)

Setelah ditiupnya sangkakala kedua (nafkhah al-ba`ats) oleh Malaikat Israfil, seluruh manusia dari zaman Adam hingga akhir zaman dibangkitkan dari kuburnya dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Allah SWT berfirman:

يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَىٰ نُصُبٍ يُوفِضُونَ

"(Yaitu) hari keluar dari kubur dengan cepat seolah-olah mereka pergi kepada berhala-berhala (segera)." (QS. Al-Ma'arij [70]: 43)

Alam Mahsyar adalah lokasi pengumpulan seluruh makhluk dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, dan belum dikhitan, sebagaimana ditegaskan dalam hadis shahih (HR. Bukhari-Muslim). 

Kehidupan di Mahsyar adalah kehidupan dengan jasad jasmani yang dibangkitkan kembali (al-jasad al-ukhrawi), namun dengan realitas yang berbeda dari jasad duniawi, ia bersifat abadi dan tidak dapat mati lagi.

Menurut Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini dalam Tafsir Arsyurrahman dan Tafsir Midadurrahman, pengumpulan di Mahsyar bertujuan untuk menunjukkan keadilan Allah secara publik kepada seluruh makhluk.

Tidak ada seorang pun yang luput dari pengumpulan ini, sekecil apa pun amalnya akan ditampakkan (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8).

Di Padang Mahsyar, manusia akan merasakan ketakutan, kehausan, dan kepanasan dalam kadar yang sangat berat, kecuali bagi mereka yang mendapat naungan Arsy Allah. Rasulullah SAW bersabda tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya (HR. Bukhari). Inilah sebabnya mengapa alam ini disebut *yaum al-azhim* (hari yang dahsyat).

6. ALAM HISAB (عالم الحساب)

Setelah sekian lama menunggu di Padang Mahsyar (dalam riwayat disebut 50.000 tahun bagi orang kafir), tibalah giliran setiap jiwa untuk dihisab amalnya. Allah SWT berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Hijr [15]: 92-93)

Hisab adalah proses perhitungan amal yang disaksikan oleh Allah, malaikat, anggota tubuh manusia sendiri, dan bahkan bumi tempat ia berbuat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ

"Barangsiapa yang diperiksa hisabnya dengan teliti, maka ia akan diazab." (HR. Bukhari no. 103, Muslim no. 2876)

Oleh karena itu, Allah memberikan kemudahan bagi orang mukmin dengan cara hisab yang ringan (hisab yasir) yaitu sekadar memperlihatkan catatan amal tanpa pemeriksaan rinci. Adapun orang kafir dan munafik akan dihisab dengan sangat teliti.

Setelah hisab, amal perbuatan ditimbang di mizan (neraca). Al-Qur'an menyebutkan:

وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

"Dan timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raf [7]: 8)

Menariknya, kata al-muflihun (orang-orang yang beruntung) pada ayat ini menggunakan akar kata yang sama dengan al-falah. Inilah kaitan langsung antara proses hisab dengan seruan hayya `ala al-falah—bahwa keberuntungan hakiki baru terwujud di akhirat, ketika timbangan amal berat pada kebaikan.

7. ALAM AKHIRAT: SURGA DAN NERAKA (عالم الجنة والنار)

Tahap final perjalanan manusia adalah penetapan tempat tinggal abadi: surga bagi yang beriman dan bertakwa, neraka bagi yang ingkar dan durhaka. Allah SWT berfirman:

فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَسَعِيدٌ

"Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." (QS. Hud [11]: 105)

Kehidupan akhirat adalah kehidupan sejati (al-hayat al-haqiqiyyah), abadi tanpa kematian, sempurna tanpa kekurangan. Surga digambarkan sebagai tempat yang penuh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, atau terlintas dalam hati manusia (HR. Bukhari-Muslim). Neraka sebaliknya adalah tempat siksaan yang pedih dan kekal.

Dalam perspektif tasawuf, surga tidak hanya dipahami sebagai tempat fisik dengan sungai susu dan madu, tetapi juga sebagai kenikmatan ma'rifatullah, yaitu melihat wajah Allah SWT (ru'yah Allah). Inilah kenikmatan tertinggi yang tidak dapat ditandingi oleh kenikmatan fisik apa pun.

D. RELEVANSI HAYYA `ALA AL-FALAH DENGAN TUJUH ALAM

Seruan hayya `ala al-falah (حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ) yang dikumandangkan muadzin lima kali sehari memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar ajakan menunaikan shalat. Secara etimologis, al-falah berasal dari akar kata falaha (فلح) yang mengandung tiga makna utama: membelah tanah untuk bercocok tanam, berhasil (sukses), dan memperoleh sesuatu yang dicari.

Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini dalam Tafsir Arsyurrahman dan Tafsir Midadurrahman menjelaskan bahwa al-falah dalam Al-Qur'an disebut sebanyak 40 kata dalam berbagai variasi. Sebanyak 11 kali dirangkaikan dengan la'allakum tuflihun "agar kamu beruntung", dan 12 kali dalam bentuk al-muflihun "orang-orang yang beruntung".

Menurut Raghib al-Ashfahani, kebahagiaan duniawi mencakup kelanggengan hidup, kekayaan, dan kemuliaan, sementara kebahagiaan ukhrawi adalah kelanggengan tanpa kepunahan, kekayaan tanpa kebutuhan, kemuliaan tanpa kehinaan, dan ilmu tanpa ketidaktahuan.

Apakah seruan hayya `ala al-falah mencakup ketujuh alam tersebut? Jawabannya adalah ya. Berikut penjelasannya:

Pertama, dari perspektif temporal, al-falah tidak terbatas pada kehidupan dunia. Dalam doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Kebaikan di dunia (hasanah fi al-dunya) mencakup kehidupan yang baik di alam dunia dan persiapan untuk alam-alam berikutnya. Kebaikan di akhirat mencakup keselamatan di alam barzakh (nikmat kubur), kemudahan di mahsyar dan hisab, serta kemenangan masuk surga.

Kedua, dari perspektif eskatologis, al-falah adalah hasil akhir dari seluruh proses. Dalam Surah Al-Mu'minun ayat 1-2, Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalatnya."

Kata muflihun (orang yang beruntung) pada ayat ini, menurut Tafsir Al-Mishbah, mencakup keberuntungan di semua tingkatan alam—selamat ketika sakaratul maut, selamat dari azab kubur, selamat dari dahsyatnya mahsyar, mudah hisabnya, ringan timbangannya, cepat melintasi shirath, dan akhirnya masuk surga .

Ketiga, dari perspektif makrifatullah, seruan hayya `ala al-falah adalah panggilan transendental yang menggema dari alam ruh hingga akhirat. Para sufi memahami bahwa hakikat "falah" adalah kembalinya ruh kepada Penciptanya dalam keadaan suci dan sempurna. Ketika muadzin berseru "marilah menuju kemenangan", ia sejatinya mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan singkat menuju realitas abadi. Persiapan terbaik untuk falah adalah dengan menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs) sebagaimana firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya." (QS. Asy-Syams [91]: 9) 

Dengan demikian, hayya `ala al-falah bukan sekadar ajakan shalat, melainkan seruan lintas-alam untuk senantiasa mempersiapkan diri menghadapi seluruh fase kehidupan—dari alam ruh hingga keputusan final di akhirat. Shalat yang dituju adalah shalat yang hakikatnya adalah mi'raj al-mu'min—tangga spiritual yang membawa pelakunya mendekat kepada Allah, yang merupakan inti dari al-falah abadi.

E. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Perjalanan manusia melintasi tujuh alam—ruh, rahim, dunia, barzakh, mahsyar, hisab, dan akhirat—merupakan satu kesatuan proses kosmis yang tidak terputus. Setiap alam memiliki bentuk kehidupan yang berbeda secara ontologis, tetapi semuanya nyata dan bermakna. Kehidupan di alam ruh adalah kesadaran primordial akan Tuhan; di rahim adalah kehidupan biologis awal; di dunia adalah ujian dan pengembangan jiwa; di barzakh adalah kehidupan imajinal dengan tajassud amal; di mahsyar adalah pengumpulan dengan kesadaran kolektif; di hisab adalah perhitungan transparan; dan di akhirat adalah kehidupan abadi yang sempurna.

Seruan hayya `ala al-falah yang dikumandangkan setiap hari mengandung pesan universal yang mencakup seluruh alam tersebut. Kemenangan hakiki (al-falah al-haqiqi) bukan hanya kesuksesan duniawi, tetapi keselamatan di setiap fase perjalanan pasca-kematian, yang puncaknya adalah masuk surga dalam ridha Allah SWT. Wallahu a'lam bi al-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-`Asqalani, A. H. (1379 H). Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
2. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International, 2017.
3. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International, 2017.
4. Al-Qurthubi, S. (2022). At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mawta wa Umur al-Akhirah. Bandung: Jabal. 
5. Al-Sulami, M. H. (2019). Simbolisasi Alam Semesta dalam Ajaran Tasawuf (Perspektif Penafsiran Isyari). Al-Dzikra

Ref: https://www.facebook.com/share/p/18QJHSyjhr/