Saturday, May 2, 2026

CARA SHOLAT KHUSYU’ YANG MAMPU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR MENURUT TUNTUNAN AL-QUR'AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, DAN PETUNJUK FIQIH EMPAT MADZHAB

CARA SHOLAT KHUSYU’ YANG MAMPU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR MENURUT TUNTUNAN AL-QUR'AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, DAN PETUNJUK FIQIH EMPAT MADZHAB

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini

A. PENDAHULUAN

Sholat merupakan tiang agama dan amalan pertama yang dihisab di hari kiamat. Esensi sholat tidak hanya pada gerakan fisik, melainkan pada kekhusyu’an yang melahirkan kesadaran moral. Allah SWT secara eksplisit menyatakan bahwa sholat mencegah perbuatan keji (fahsya’) dan mungkar (munkar). Namun, realitanya banyak orang yang sholat namun masih terjerumus dalam kemaksiatan. 

Riset ini menganalisis secara normatif-yuridis tuntunan Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) tentang cara mencapai sholat khusyu’ yang efektif sebagai pencegah kejahatan.

Sholat dalam Islam adalah ibadah mahdhah yang memiliki dimensi vertikal (hablun minallah) dan horizontal (hablun minannas). Sayangnya, banyak umat Islam yang sholat tetapi perilaku sosialnya tidak berubah. Fenomena ini menjadikan pertanyaan mendasar: bagaimana sholat dapat mencegah keji dan mungkar? Jawabannya terletak pada khusyu’. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ﴾

Artinya: “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Qs. Al-‘Ankabut [29]: 45)

Ayat ini adalah klaim normatif. Namun, sholat hanya akan mencapai fungsi tersebut jika dilakukan dengan khusyu’ sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW dan para ulama empat madzhab.

B. PENGERTIAN KHUSYU’ DAN HUBUNGANNYA DENGAN MORAL

Khusyu’ secara bahasa berarti ketundukan, ketenangan, dan penghayatan hati. Secara istilah, khusyu’ adalah hadirnya hati dalam sholat, disertai perasaan takut dan cinta kepada Allah sehingga anggota tubuh pun tenang. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menyatakan bahwa khusyu’ adalah ruh dari sholat. Tanpa khusyu’, sholat hanya seperti gerakan tanpa nyawa.

C. TUNTUNAN AL-QUR'AN TENTANG SHOLAT KHUSYU’

C.1. PERINTAH KHUSYU’ DALAM AL-QUR'AN

Allah SWT berfirman:

﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.” (Qs. Al-Mu’minun [23]: 1-2)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kekhusyu’an adalah fondasi keberhasilan seorang mukmin di dunia dan akhirat.

C.2. ANCAMAN BAGI ORANG YANG LALAI DALAM SHOLAT

Allah SWT juga memperingatkan:

﴿فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴾

Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” (Qs. Al-Ma’un [107]: 4-5)

Menurut jumhur ulama, kelalaian (sahw) adalah lawan dari khusyu’. Sholat tanpa khusyu’ tidak akan mampu mencegah kejahatan.

D. TUNTUNAN AL-HADITS TENTANG SHOLAT KHUSYU’

D.1. HADITS TENTANG INTI KHUSYU’

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبْعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا، نِصْفُهَا»

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba sholat, tidak ditulis untuknya dari sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.’” (HR. Abu Dawud, no. 796 – dinyatakan hasan oleh Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan bahwa pahala sholat tergantung pada kadar kekhusyu’an.

E. CARA MENCAPAI SHOLAT KHUSYU’ MENURUT TUNTUNAN FIQIH EMPAT MADZHAB

Para ulama empat madzhab sepakat bahwa khusyu’ adalah wajib secara batin, namun mereka berbeda dalam beberapa aspek teknis dan rekomendasi.

E.1. MADZHAB HANAFI (IMAM ABU HANIFAH)

· Persiapan: Sangat menekankan at-tahannuts (berdiam diri sejenak sebelum sholat) dan menghadirkan niat.
· Gerakan: Harus thuma’ninah (tenang) setiap gerakan. Tidak sah sholat jika tergesa-gesa.
· Pandangan: Dianjurkan melihat tempat sujud untuk menghindari gangguan.
· Cegah Keji: Menurut Hanafi, sholat yang benar (dengan syarat dan rukun sempurna) akan menimbulkan cahaya dalam hati yang mencegah dosa.

E.2. MADZHAB MALIKI (IMAM MALIK BIN ANAS)

· Khusyu’ sebagai Fardhu Kifayah: Dalam madzhab Maliki, khusyu’ hati adalah fardhu ain, tetapi jika hilang karena was-was, tidak membatalkan asal sholat.
· Sunah: Membaca Al-Qur’an dengan tartil, merenungkan makna (tadabbur).
· Praktis: Menganjurkan sholat di awal waktu, karena kelambanan melemahkan kekhusyu’an.

E.3. MADZHAB SYAFI'I (IMAM ASH-SYAFI'I)

· Pendekatan Psikologis: Imam Syafi’i menganjurkan berpura-pura seolah-olah melihat Allah (ihsan), atau minimal yakin bahwa Allah melihatnya.
· Langkah Teknis:
  · Menyiapkan tempat yang gelisah (tidak ramai).
  · Membaca ta’awudz untuk mengusir setan yang memecah konsentrasi.
  · Memahami arti bacaan (wajib menurut Syafi’i untuk mendapatkan pahala sempurna).
· Pencegahan Mungkar: Sholat yang khusyu’ akan melahirkan muraqabah (rasa diawasi) sehingga seseorang enggan berbuat dosa.

E.4. MADZHAB HANBALI (IMAM AHMAD BIN HANBAL)

· Teologis: Khusyu’ adalah buah dari takwa. Semakin tinggi takwa, semakin khusyu’.
· Tuntunan: Meninggalkan segala hal yang menyibukkan hati sebelum sholat (makanan, hajat WC, urusan dunia).
· Larangan: Menoleh ke kanan/kiri dalam sholat (makruh karena melawan khusyu’).
· Cegah Keji: Imam Ahmad menegaskan bahwa sholat yang tidak mencegah keji adalah sholat cacat, dan orang tersebut perlu bermuhasabah.

F. INDIKATOR SHOLAT YANG MAMPU MENCEGAH KEJI DAN MUNGKAR

Berdasarkan sintesis pendapat ulama, sholat yang mampu mencegah fahsya’ wa munkar memiliki indikator:

1. Adanya perubahan perilaku: Setelah sholat, seseorang menjadi lebih sabar, jujur, dan menjauhi ghibah, zina, riba, dan kezaliman.
2. Rasa malu kepada Allah: Saat hendak berbuat dosa, teringat bahwa ia telah berdiri di hadapan Allah dalam sholat.
3. Konsistensi: Tidak hanya khusyu’ saat sholat, tetapi juga istiqamah dalam ketaatan pasca sholat.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا»

“Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dalam sisi Allah kecuali semakin jauh.’” (HR. Ath-Thabrani, dan dinilai hasan oleh Al-Haytsami)

G. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Sholat khusyu’ bukan sekadar ritual, melainkan sistem pembinaan moral yang efektif. Al-Qur’an, Hadits, dan empat madzhab sepakat bahwa khusyu’ dicapai melalui persiapan mental, pemahaman bacaan, ketenangan gerak, dan kesadaran akan kebesaran Allah. Sholat yang demikian akan melahirkan ‘ishmah (penjagaan diri) dari dosa besar dan kecil. Sebaliknya, sholat tanpa khusyu’ adalah sholat yang kehilangan ruhnya dan tidak akan mencegah pelakunya dari kejahatan.

Rekomendasi: Umat Islam hendaknya berusaha menghadirkan hati, mempelajari makna sholat, dan mengamalkan sunnah-sunnah yang mendukung kekhusyu’an sesuai dengan salah satu madzhab yang diikuti.

DAFTAR PUSTAKA

1. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats. (2009). Sunan Abi Dawud. Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid. Beirut: Al-Maktabah Al-‘Asriyyah.
2. Al-‘Asqalani, Ibnu Hajar. (2010). Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Kairo: Dar Al-Hadits.
3. Al-Ghazali, Abu Hamid. (2015). Ihya’ ‘Ulumiddin (Jilid 1). Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
4. Al-Haytsami, Nuruddin Ali bin Abi Bakar. (2014). Majma’ Az-Zawa’id wa Manba’ Al-Fawa’id. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
5. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman. Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
6. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman. Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
7. Al-Jaziri, Abdurrahman. (2003). Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah. Kairo: Dar Al-Hadits.
8. Al-Qayyim, Ibnu. (2011). Ash-Shalah wa Ahkamu Tarikiha. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
9. Al-Qur’an Al-Karim.
10. Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris. (2008). Al-Umm. Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
11. Ibnu Katsir, Abu Al-Fida’ Ismail. (2012). Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah.
12. Malik bin Anas. (2015). Al-Muwaththa’. Abu Dhabi: Muassasah Zayed.
13. Sabiq, Sayyid. (2014). Fiqh As-Sunnah. Kairo: Al-Fath li Al-I’lam Al-‘Arabi.

Ref: https://www.facebook.com/share/p/18oXQZG5NR/

MELINTASI TUJUH ALAM (ALAM RUH, ALAM RAHIM, ALAM DUNIA, ALAM BARZAKH, ALAM MAHSYAR, ALAM HISAB, ALAM AKHIRAT)

MELINTASI TUJUH ALAM (ALAM RUH, ALAM RAHIM, ALAM DUNIA, ALAM BARZAKH, ALAM MAHSYAR, ALAM HISAB, ALAM AKHIRAT) PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR'AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, TEOLOGI, FILSAFAT, TASAWUF, MAKRIFATULLAH, ESKATOLOGI, KOSMOLOGI DAN METAFISIKA

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini

A. PENDAHULUAN

Perjalanan eksistensi manusia tidak terbatas pada kehidupan dunia semata. Dalam akidah Islam, setiap jiwa melintasi beberapa tahapan alam (al-awalim) sejak sebelum penciptaan jasad hingga kehidupan abadi di akhirat. 

Riset ilmiah Irfani ini menyajikan kajian komprehensif tentang tujuh alam utama: alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, alam padang mahsyar, alam hisab, dan alam akhirat (surga/neraka). Dengan pendekatan multidispliner—meliputi perspektif Tafsir Al-Qur'an, Hadits, akidah Ahlussunnah, teologi, filsafat, tasawuf, makrifatullah, eskatologi, kosmologi, dan metafisika.

Riset ilmiah irfani ini menguraikan hakikat "kehidupan" di setiap alam serta relevansinya dengan seruan adzan "hayya ala al-falah". 

Kesimpulannya menunjukkan bahwa setiap alam memiliki bentuk kehidupan yang berbeda secara ontologis namun saling terhubung dalam satu kesatuan perjalanan spiritual menuju keberuntungan hakiki (al-falah al-haqiqi).

Setiap muslim meyakini adanya kehidupan setelah kematian sebagai bagian rukun iman yang kelima: iman kepada hari Akhir. Namun, pemahaman tentang alam-alam yang dilalui ruh seringkali masih bersifat global dan kurang mendalam. 

Pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti "apakah di alam barzakh ada kesadaran?" atau "bagaimana bentuk 'kehidupan' di padang mahsyar?" memerlukan jawaban yang tidak sekadar tekstual, tetapi juga filosofis dan spiritual.

Riset ilmiah Irfani ini berupaya menjawab kebutuhan tersebut dengan menyajikan analisis terintegrasi. Ruang lingkup pembahasan mencakup definisi dan gambaran kehidupan di ketujuh alam, serta telaah khusus tentang relevansi seruan hayya `ala al-falah dengan seluruh rangkaian perjalanan kosmis tersebut. Sumber utama yang digunakan adalah Al-Qur'an, Hadis-hadis shahih, kitab At-Tadzkirah karya Imam al-Qurthubi, Tafsir Arsyurrahman dan Tafsir Midadurrahman karya Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini, serta pandangan ulama sufi dan filosof seperti al-Ghazali dan Mulla Sadra.

B. DEFINISI "ALAM" DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Secara etimologis, kata "alam" (عالم) berasal dari akar kata `alama (علم) yang berarti "tanda". Alam adalah sesuatu yang menunjukkan keberadaan Penciptanya.

Dalam terminologi teologi Islam, alam merujuk pada seluruh realitas selain Allah SWT, baik yang kasat mata (syahadah) maupun tidak (ghaib).

Para filsuf Muslim membagi alam menjadi tiga kategori besar: alam akal (alam al-aql), alam misal (alam al-mitsal atau alam imajinal), dan alam fisik (alam al-jism). Sementara itu, dalam tradisi tasawuf, alam dipahami sebagai manifestasi (tajalli) dari Asma dan Sifat Ilahi dalam tingkatan-tingkatan yang berurutan . Imam al-Qurthubi, dalam At-Tadzkirah, mendeskripsikan alam-alam perjalanan ruh secara berurutan sebagai bentuk rahmat Allah agar manusia mempersiapkan bekal sebelum kematian menjemput.

Hakikat "kehidupan" (al-hayah) di setiap alam berbeda secara fundamental. Jika kehidupan dunia bersifat material dan temporal, kehidupan di alam barzakh bersifat ruhaniah dan berdimensi imajinal, sementara kehidupan di akhirat bersifat abadi dan sempurna. Perbedaan ini bukan menunjukkan ketiadaan kehidupan, melainkan gradasi kualitas hayah itu sendiri.

C. TUJUH ALAM DALAM PERJALANAN MANUSIA

1. ALAM RUH (عالم الأرواح)

Alam ruh adalah dimensi eksistensi pertama manusia sebelum diturunkan ke rahim. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَٰفِلِينَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).'" (QS. Al-A'raf [7]: 172)

Ayat ini menjadi landasan utama keberadaan alam ruh. Dalam perspektif tasawuf, alam ruh adalah alam kesucian di mana setiap jiwa telah mengakui rububiyah Allah. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyebutnya sebagai `alam al-wahdah (alam kesatuan) sebelum memasuki alam keragaman.

Para ulama akidah menjelaskan bahwa perjanjian primordial (mitsaq) ini menjadi fitrah dasar manusia yang tidak pernah hilang meskipun tertutup oleh kelalaian duniawi.

Kehidupan di alam ruh adalah kehidupan tanpa jasad—kesadaran murni yang hanya mengenal Tuhannya. Inilah sebabnya mengapa setiap manusia yang terlahir ke dunia memiliki kecenderungan bawaan (fitrah) untuk mengakui keberadaan Tuhan.

2. ALAM RAHIM (عالم الرحم)

Setelah fase ruh, Allah menempatkan manusia ke dalam rahim ibunya. Proses ini dijelaskan secara rinci dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

Dari Abdullah bin Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ...

"Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nutfah (air mani), kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian diutus kepadanya malaikat lalu meniupkan ruh padanya..." (HR. Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643)

Di alam rahim inilah terjadi penyatuan antara jasad yang sedang berkembang dengan ruh yang telah ada sebelumnya. Pada tahap ini, Allah juga menetapkan empat perkara pokok setiap manusia: rezeki, ajal, amal, dan nasib akhiratnya (suka atau celaka).

Penetapan ini dalam terminologi teologi Islam disebut qada` muallaq, yang dapat berubah melalui doa dan amal saleh.

Kehidupan di alam rahim adalah kehidupan biologis dalam bentuk paling awal—manusia mulai merasakan, mendengar, dan bahkan bereaksi terhadap stimulus eksternal, namun dalam ketidaksadaran penuh akan realitas di luar rahim.

3. ALAM DUNIA (عالم الدنيا)

Dunia adalah fase ujian (dar al-ibtila) sekaligus ladang (mazra'ah) untuk akhirat. Allah SWT berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Kehidupan dunia memiliki karakteristik relatif, fana, dan penuh dengan tipu daya (ghurur). Dalam perspektif filsafat Islam, dunia adalah alam huduts (keterjadian) dan fasad (kerusakan). Mulla Sadra menjelaskan bahwa dunia merupakan "bayangan" dari realitas yang lebih tinggi (alam misal dan alam akal). Namun demikian, dunia bukanlah realitas semu tanpa makna; ia adalah medan bagi jiwa untuk berkembang (al-sayr wa al-suluk) menuju kesempurnaan.

Ulama tasawuf membagi kehidupan dunia menjadi beberapa sub-fase: alam kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua—masing-masing dengan karakteristik dan ujiannya sendiri.

Setiap fase dipaksa untuk dilalui sebagai bagian dari proses pendewasaan spiritual.

4. ALAM BARZAKH (عالم البرزخ)

Secara etimologi, barzakh berarti "penghalang" atau "dinding pemisah". Allah SWT berfirman:

وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun [23]: 100)

Alam barzakh dimulai sejak kematian hingga hari kebangkitan. Ini adalah fase pertama kehidupan pasca-dunia. Dalam At-Tadzkirah, Imam al-Qurthubi menjelaskan secara panjang lebar tentang nikmat dan azab kubur sebagai realitas yang pasti terjadi di alam ini.

Kehidupan di alam barzakh adalah kehidupan dengan jasad mitsali (jasad misal/idealis), bukan jasad fisik yang membusuk di dalam tanah. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْقَبْرَ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ

"Sesungguhnya kubur itu adalah taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka." (HR. Tirmidzi no. 2460)

Bagaimana mungkin kubur yang sempit dan gelap menjadi "taman surga"? Inilah hakikat kehidupan barzakh, ia tidak terikat oleh hukum-hukum fisik material. Kenikmatan atau siksaan di alam barzakh dialami oleh ruh yang terhubung dengan jasad mitsali-nya. Dalam sebuah hadis panjang, dijelaskan bahwa ruh orang beriman akan didatangi oleh seorang lelaki berwajah tampan, berpakaian indah, dan berbau wangi yang berkata: "Aku adalah amalmu yang saleh" . Sebaliknya, ruh orang kafir didatangi sosok mengerikan yang berkata: "Aku adalah amal perbuatanmu yang buruk".

Peristiwa ini menunjukkan bahwa di alam barzakh, amal perbuatan duniawi "dijelmakan" (tajassud al-a`mal) menjadi bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan. Inilah pandangan yang dianut oleh mayoritas ulama Ahlussunnah, termasuk Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.

5. ALAM MAHSYAR (عالم المحشر)

Setelah ditiupnya sangkakala kedua (nafkhah al-ba`ats) oleh Malaikat Israfil, seluruh manusia dari zaman Adam hingga akhir zaman dibangkitkan dari kuburnya dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Allah SWT berfirman:

يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ ٱلْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَىٰ نُصُبٍ يُوفِضُونَ

"(Yaitu) hari keluar dari kubur dengan cepat seolah-olah mereka pergi kepada berhala-berhala (segera)." (QS. Al-Ma'arij [70]: 43)

Alam Mahsyar adalah lokasi pengumpulan seluruh makhluk dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, dan belum dikhitan, sebagaimana ditegaskan dalam hadis shahih (HR. Bukhari-Muslim). 

Kehidupan di Mahsyar adalah kehidupan dengan jasad jasmani yang dibangkitkan kembali (al-jasad al-ukhrawi), namun dengan realitas yang berbeda dari jasad duniawi, ia bersifat abadi dan tidak dapat mati lagi.

Menurut Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini dalam Tafsir Arsyurrahman dan Tafsir Midadurrahman, pengumpulan di Mahsyar bertujuan untuk menunjukkan keadilan Allah secara publik kepada seluruh makhluk.

Tidak ada seorang pun yang luput dari pengumpulan ini, sekecil apa pun amalnya akan ditampakkan (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8).

Di Padang Mahsyar, manusia akan merasakan ketakutan, kehausan, dan kepanasan dalam kadar yang sangat berat, kecuali bagi mereka yang mendapat naungan Arsy Allah. Rasulullah SAW bersabda tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya (HR. Bukhari). Inilah sebabnya mengapa alam ini disebut *yaum al-azhim* (hari yang dahsyat).

6. ALAM HISAB (عالم الحساب)

Setelah sekian lama menunggu di Padang Mahsyar (dalam riwayat disebut 50.000 tahun bagi orang kafir), tibalah giliran setiap jiwa untuk dihisab amalnya. Allah SWT berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Hijr [15]: 92-93)

Hisab adalah proses perhitungan amal yang disaksikan oleh Allah, malaikat, anggota tubuh manusia sendiri, dan bahkan bumi tempat ia berbuat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ

"Barangsiapa yang diperiksa hisabnya dengan teliti, maka ia akan diazab." (HR. Bukhari no. 103, Muslim no. 2876)

Oleh karena itu, Allah memberikan kemudahan bagi orang mukmin dengan cara hisab yang ringan (hisab yasir) yaitu sekadar memperlihatkan catatan amal tanpa pemeriksaan rinci. Adapun orang kafir dan munafik akan dihisab dengan sangat teliti.

Setelah hisab, amal perbuatan ditimbang di mizan (neraca). Al-Qur'an menyebutkan:

وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

"Dan timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raf [7]: 8)

Menariknya, kata al-muflihun (orang-orang yang beruntung) pada ayat ini menggunakan akar kata yang sama dengan al-falah. Inilah kaitan langsung antara proses hisab dengan seruan hayya `ala al-falah—bahwa keberuntungan hakiki baru terwujud di akhirat, ketika timbangan amal berat pada kebaikan.

7. ALAM AKHIRAT: SURGA DAN NERAKA (عالم الجنة والنار)

Tahap final perjalanan manusia adalah penetapan tempat tinggal abadi: surga bagi yang beriman dan bertakwa, neraka bagi yang ingkar dan durhaka. Allah SWT berfirman:

فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَسَعِيدٌ

"Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." (QS. Hud [11]: 105)

Kehidupan akhirat adalah kehidupan sejati (al-hayat al-haqiqiyyah), abadi tanpa kematian, sempurna tanpa kekurangan. Surga digambarkan sebagai tempat yang penuh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, atau terlintas dalam hati manusia (HR. Bukhari-Muslim). Neraka sebaliknya adalah tempat siksaan yang pedih dan kekal.

Dalam perspektif tasawuf, surga tidak hanya dipahami sebagai tempat fisik dengan sungai susu dan madu, tetapi juga sebagai kenikmatan ma'rifatullah, yaitu melihat wajah Allah SWT (ru'yah Allah). Inilah kenikmatan tertinggi yang tidak dapat ditandingi oleh kenikmatan fisik apa pun.

D. RELEVANSI HAYYA `ALA AL-FALAH DENGAN TUJUH ALAM

Seruan hayya `ala al-falah (حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ) yang dikumandangkan muadzin lima kali sehari memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar ajakan menunaikan shalat. Secara etimologis, al-falah berasal dari akar kata falaha (فلح) yang mengandung tiga makna utama: membelah tanah untuk bercocok tanam, berhasil (sukses), dan memperoleh sesuatu yang dicari.

Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini dalam Tafsir Arsyurrahman dan Tafsir Midadurrahman menjelaskan bahwa al-falah dalam Al-Qur'an disebut sebanyak 40 kata dalam berbagai variasi. Sebanyak 11 kali dirangkaikan dengan la'allakum tuflihun "agar kamu beruntung", dan 12 kali dalam bentuk al-muflihun "orang-orang yang beruntung".

Menurut Raghib al-Ashfahani, kebahagiaan duniawi mencakup kelanggengan hidup, kekayaan, dan kemuliaan, sementara kebahagiaan ukhrawi adalah kelanggengan tanpa kepunahan, kekayaan tanpa kebutuhan, kemuliaan tanpa kehinaan, dan ilmu tanpa ketidaktahuan.

Apakah seruan hayya `ala al-falah mencakup ketujuh alam tersebut? Jawabannya adalah ya. Berikut penjelasannya:

Pertama, dari perspektif temporal, al-falah tidak terbatas pada kehidupan dunia. Dalam doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Kebaikan di dunia (hasanah fi al-dunya) mencakup kehidupan yang baik di alam dunia dan persiapan untuk alam-alam berikutnya. Kebaikan di akhirat mencakup keselamatan di alam barzakh (nikmat kubur), kemudahan di mahsyar dan hisab, serta kemenangan masuk surga.

Kedua, dari perspektif eskatologis, al-falah adalah hasil akhir dari seluruh proses. Dalam Surah Al-Mu'minun ayat 1-2, Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalatnya."

Kata muflihun (orang yang beruntung) pada ayat ini, menurut Tafsir Al-Mishbah, mencakup keberuntungan di semua tingkatan alam—selamat ketika sakaratul maut, selamat dari azab kubur, selamat dari dahsyatnya mahsyar, mudah hisabnya, ringan timbangannya, cepat melintasi shirath, dan akhirnya masuk surga .

Ketiga, dari perspektif makrifatullah, seruan hayya `ala al-falah adalah panggilan transendental yang menggema dari alam ruh hingga akhirat. Para sufi memahami bahwa hakikat "falah" adalah kembalinya ruh kepada Penciptanya dalam keadaan suci dan sempurna. Ketika muadzin berseru "marilah menuju kemenangan", ia sejatinya mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan singkat menuju realitas abadi. Persiapan terbaik untuk falah adalah dengan menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs) sebagaimana firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya." (QS. Asy-Syams [91]: 9) 

Dengan demikian, hayya `ala al-falah bukan sekadar ajakan shalat, melainkan seruan lintas-alam untuk senantiasa mempersiapkan diri menghadapi seluruh fase kehidupan—dari alam ruh hingga keputusan final di akhirat. Shalat yang dituju adalah shalat yang hakikatnya adalah mi'raj al-mu'min—tangga spiritual yang membawa pelakunya mendekat kepada Allah, yang merupakan inti dari al-falah abadi.

E. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Perjalanan manusia melintasi tujuh alam—ruh, rahim, dunia, barzakh, mahsyar, hisab, dan akhirat—merupakan satu kesatuan proses kosmis yang tidak terputus. Setiap alam memiliki bentuk kehidupan yang berbeda secara ontologis, tetapi semuanya nyata dan bermakna. Kehidupan di alam ruh adalah kesadaran primordial akan Tuhan; di rahim adalah kehidupan biologis awal; di dunia adalah ujian dan pengembangan jiwa; di barzakh adalah kehidupan imajinal dengan tajassud amal; di mahsyar adalah pengumpulan dengan kesadaran kolektif; di hisab adalah perhitungan transparan; dan di akhirat adalah kehidupan abadi yang sempurna.

Seruan hayya `ala al-falah yang dikumandangkan setiap hari mengandung pesan universal yang mencakup seluruh alam tersebut. Kemenangan hakiki (al-falah al-haqiqi) bukan hanya kesuksesan duniawi, tetapi keselamatan di setiap fase perjalanan pasca-kematian, yang puncaknya adalah masuk surga dalam ridha Allah SWT. Wallahu a'lam bi al-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-`Asqalani, A. H. (1379 H). Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
2. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International, 2017.
3. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International, 2017.
4. Al-Qurthubi, S. (2022). At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mawta wa Umur al-Akhirah. Bandung: Jabal. 
5. Al-Sulami, M. H. (2019). Simbolisasi Alam Semesta dalam Ajaran Tasawuf (Perspektif Penafsiran Isyari). Al-Dzikra

Ref: https://www.facebook.com/share/p/18QJHSyjhr/

Thursday, April 23, 2026

DUA NABI, SATU POLA: KEAJAIBAN TERSEMBUNYI DI BALIK KISAH YUSUF DAN MUSA DALAM AL-QURAN

DUA NABI, SATU POLA: KEAJAIBAN TERSEMBUNYI DI BALIK KISAH YUSUF DAN MUSA DALAM AL-QURAN

Pernahkah kita membaca Al-Quran dan tiba-tiba merasa seperti sedang melihat dua cermin yang saling berhadapan? Itulah yang terjadi ketika kita membaca kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa secara berdampingan.

Dua kisah, dua zaman, dua tokoh tetapi dengan pola yang begitu mirip hingga terasa seperti bukan sebuah kebetulan. Dan memang bukan kebetulan. Ini adalah keindahan Al-Quran yang disengaja.

01 – DUA KISAH AGUNG YANG SALING BERCERMIN

Kisah Nabi Yusuf disebut sebagai ahsanal qashash sebaik-baik kisah. Kisah Nabi Musa adalah kisah yang paling banyak diulang dalam Al-Quran. Keduanya bermula di tempat yang sama: Mesir.

Keduanya pernah "hilang" dari keluarga yang mencintai mereka. Keduanya melewati lorong-lorong gelap yang panjang sebelum sampai pada kemuliaan.

Tapi justru di dalam kemiripan itulah Allah ﷻ menyimpan perbedaan kecil yang mengandung pelajaran besar tentang takdir, ujian, kasih sayang, dan cara Allah ﷻ bekerja di balik layar kehidupan manusia.

02 – DILEMPAR KE TEMPAT GELAP: OLEH BENCI DAN OLEH CINTA

Yusuf dilempar ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya yang membencinya. Musa dihanyutkan ke dalam sungai oleh ibunya yang sangat mencintainya atas perintah Allah ﷻ.

Dua tindakan yang secara fisik mirip, tapi secara ruh sangat berbeda. Yang pertama lahir dari rencana manusia yang dipenuhi dengki. Yang kedua lahir dari rencana Allah ﷻ yang dipenuhi kasih.

Lalu, apa hasilnya? Keduanya selamat. Keduanya justru sampai di tempat yang lebih baik.

Di sinilah Al-Quran mengajarkan sesuatu yang menyentuh: tidak semua "lemparan" dalam hidup kita adalah kejahatan.

Terkadang, Allah ﷻ menghanyutkan kita ke tempat yang tampak menakutkan, justru karena di sanalah takdir kemuliaan kita sedang menunggu.

03 – ISTANA YANG SAMA, PERAN YANG BERBEDA

Keduanya tumbuh di dalam istana penguasa. Keduanya diasuh oleh orang-orang berpengaruh di lingkaran kekuasaan.

Namun, coba perhatikan perbedaan yang menakjubkan ini:

Dalam kisah Musa, istri penguasa adalah yang meminta agar bayi Musa diasuh dan diselamatkan. Ia menjadi sumber keamanan dan perlindungan.

Dalam kisah Yusuf, istri penguasa justru menjadi sumber gangguan dan ujian terberat ia yang menggoda Yusuf dan kemudian memfitnahnya hingga Yusuf masuk penjara.

Dua istri penguasa, dua peran yang bertolak belakang. Satu menjadi pelindung, satu menjadi ujian. Seolah Allah ﷻ ingin mengatakan bahwa …

Jabatan dan status seseorang tidak menentukan apakah ia akan menjadi berkah atau cobaan bagi kita. Yang menentukan adalah takdir Allah ﷻ Yang Mahabijaksana.

04 – AIR MATA YANG BERBEDA, KERINDUAN YANG SAMA

Kesedihan pun hadir dalam dua wajah yang berbeda.

Ketika Musa dihanyutkan, hati sang ibu menjadi kosong. Seperti wadah yang tiba-tiba kehilangan isinya. Ia hampir tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Ketika Yusuf menghilang, mata sang ayah Nabi Ya'qub memutih karena terlalu banyak menangis dan terlalu dalam merindukan putranya.

Dua orangtua, dua cara Allah ﷻ menggambarkan kesedihan mereka. Tapi keduanya menyimpan satu kesamaan yang indah: Allah ﷻ tidak membiarkan air mata itu jatuh sia-sia.

Ibu Musa akhirnya bertemu kembali dengan anaknya. Nabi Ya'qub akhirnya memeluk Yusuf kembali setelah bertahun-tahun terpisah.

05 – SAUDARA YANG MENYAKITI DAN SAUDARA YANG MEMBANTU

Saudara-saudara Yusuf adalah yang merencanakan kejatuhan dan pembuangannya. Merekalah yang melemparnya ke sumur dan membawa baju berlumuran darah palsu kepada ayah mereka.

Tetapi dalam kisah Musa, justru saudari perempuannya yang mengikuti keranjang bayi Musa di tepian sungai dan menjadi jembatan yang mempertemukan kembali Musa dengan sang ibu.

Saudara kandung  bisa menjadi sebab kejatuhan, bisa pula menjadi sebab keselamatan.

Lagi-lagi Al-Quran memperlihatkan bahwa bukan siapa orangnya yang menentukan, akan tetapi bagaimana Allah ﷻ menggerakkan peran mereka dalam skenario besar-Nya.

06 – UJUNG JALAN: KEMULIAAN DENGAN CARA YANG BERBEDA

Ketika dewasa, keduanya menerima anugerah yang sama: ilmu dan hikmah dari Allah ﷻ. Tapi jalan menuju kemuliaan mereka berbeda total.

Musa harus berhadapan langsung dengan penguasa  menghadapi Firaun, dikejar, diancam, dan berjuang keras untuk membebaskan kaumnya. Kemuliaan Musa lahir dari konfrontasi.

Yusuf justru dimuliakan dan didekatkan oleh penguasa  dari budak dan tahanan, ia menjadi pemegang otoritas tertinggi di Mesir. Kemuliaan Yusuf lahir dari kesabaran di dalam sistem yang pernah menghancurkannya.

Dua jalan yang berbeda, dua ujung yang sama: Allah ﷻ tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang sabar dan bertakwa.

07 – SATU HAL YANG SENGAJA TIDAK DISEBUTKAN

Ada satu detail kecil yang sangat menarik. Dalam seluruh kisah Yusuf yang panjang, tidak disebutkan ibunya. Dalam seluruh kisah Musa, tidak disebutkan ayahnya.

Apakah ini kekurangan dalam narasi? Tentu tidak! Allah ﷻ Mahateliti dalam memilih setiap kata.

Ini adalah pengingat bahwa dalam setiap kisah, Allah ﷻ mengangkat sosok yang paling relevan dengan hikmah yang ingin disampaikan. Dan, Zat Yang Mahakuasa menutup tirai atas yang lainnya.

Tidak semua hal perlu dijelaskan. Cukup percaya bahwa setiap yang Allah ﷻ tulis dan diamkan, keduanya sama-sama penuh makna.

08 – JIKA ALLAH ﷻ YANG MERANCANG, PASTI ADA KEINDAHAN DI UJUNGNYA

Dari dua kisah agung ini, ada satu kesimpulan yang paling kuat dan paling menghibur:

Jika manusia yang merancang sesuatu atas kita, bisa jadi itu penuh kebencian dan kerusakan. Seperti saudara-saudara Yusuf yang melemparnya ke sumur.

Namun, jika Allah ﷻ yang merancang, pasti di dalamnya ada kasih sayang dan hikmah yang mungkin belum kita pahami sekarang.

Seperti halnya ibunda Musa yang menghanyutkan anaknya dengan air mata, tetapi dengan keyakinan penuh pada janji Allah ﷻ.

Maka, ketika hidup terasa sedang "melempar" kita ke tempat yang gelap dan asing ingatlah Yusuf di dasar sumur, ingatlah Musa di dalam keranjang yang hanyut.

Keduanya tidak tahu ke mana mereka akan dibawa. Akan tetapi, keduanya bisa sampai pada kemuliaan. Mengapa demikian?

Karena, ketika Allah ﷻ yang mengatur, tidak ada satu pun bagian dari perjalanan itu yang terbuang sia-sia.

📚 … Disarikan dari kajian Perbandingan Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa dalam Al-Quran oleh Ustadz Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.

Wednesday, April 22, 2026

7 PEREMPUAN HEBAT, TUMBUH DAN BERKARYA BESAR DARI MASJID

7 PEREMPUAN HEBAT, TUMBUH DAN BERKARYA BESAR DARI MASJID
Oleh : H. A. Muhammad Nur Syahid, SE., ME. 

Coba sebutkan satu nama laki-laki besar dalam Islam yang ilmunya lahir di pasar? Banyak. Di medan perang? Bejibun. Di masjid? Wah, itu tempatnya para Imam Mazhab bersandaram di tiang . Tapi, coba sebutkan berapa nama perempuan besar yang lahir dan berkarya dari masjid? Di sinilah letak mindblowing-nya. Sejarah yang sering kita dengar adalah sejarah laki-laki yang membangun mihrab. Sementara itu, kita luput melihat bahwa separuh isi peradaban ini sebenarnya mengalir deras dari sisi lain tirai masjid, dari halaman tempat wudu, bahkan dari bilik kecil di pojok serambi atau yang diabadikan dalam Al-Qurah adalah Mihrab Maryam yang mencengangkan dunia menggungcang langit, dari mihrab selalu mengalir rezeki yang mengejutkan. 

Ternyata ada barisan perempuan tangguh yang tidak pernah merasa bahwa masjid itu "terlalu sempit" untuk mimpi mereka. Masjid bagi mereka bukan sekadar karpet hijau untuk sujud lalu pulang. Masjid adalah kawah candradimuka—tempat meledakkan ide-ide raksasa yang mengguncang dunia berabad-abad. Mari kita bicara dari hati ke hati tentang tujuh nama ini, tujuh perempuan yang membuat saya, sebagai laki-laki, harus menunduk hormat setiap kali melewati gerbang masjid yang karya raya. 

1. Sang Rektor dari Bilik Jendela: Sayyidah Aisyah (Madinah, Jazirah Arab)

Kita mulai dari yang paling bikin ulama klasik geleng-geleng kepala: Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar ra. Dengar kata "Aisyah", bayangan kita biasanya soal hadis, fiqih, atau peristiwa tertentu. Tapi coba perhatikan hubungan beliau dengan masjid. Kamar beliau itu nempel langsung dengan Masjid Nabawi, jendelanya tembus ke makam Rasulullah. Dari jendela itulah ribuan mata rantai ilmu memancar. Hampir seperempat agama ini riwayatnya melalui kecerdasannya. Laki-laki tangguh sekelas Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar saja duduk manis dikoreksi periwayatannya. Jadi, masjid di era awal Islam itu bukan cuma tempat sujud, tapi ruang kuliah terbuka dengan "rektor" perempuan sekaligu ibu orang-orang beriman, ummul mu'minin. Dari kamar yang nyaris menyatu dengan masjid inilah lahir 25-30% syariat Islam. Maka tidak relevan jika hari ini masih ada yang belum selesai denat perempuan boleh ke masjid atau tidak. Lha, Sayyidah Aisyah malah berkarya dengan karya yang tidak main-main dari bilik Masjid sejak Abad 6 Masehi. 

2. Sang Founder Perguruan Tinggi Pertama Di Dunia: Fatimah al-Fihri (Fez, Maroko, Afrika Utara)

Lompat ke abad pertengahan, kita memiliki sosok yang mungkin lebih pantas disebut "CEO Properti Wakaf" bukan donatur biasa : Fatimah al-Fihri. Namanya mungkin sudah sering Anda dengar sebagai pendiri Masjid, Madrasah dan Universitas al-Qarawiyyin. Tapi kita sering lupa satu detail kecil yang sangat penting: kampus tertua di dunia yang masih beroperasi itu awalnya sebuah masjid. Fatimah mewakafkan seluruh warisannya untuk membangun Masjid al-Qarawiyyin. Cintanya pada masjid bukan cinta posesif yang cuma pengen mushalla bersih dan wangi. Cintanya adalah cinta visioner: "Masjid ini harus jadi pusat ibadah, iya. Tapi juga pusat diskusi astronomi, pusat debat filsafat, pusat gagasan politik, pusat pengkajian fisika kimia, pusat dialegtika sosial budaya dan laboratorium sains serta kedokteran, dan pusat tata kelola ekonomi mikro dan makro." Hasilnya? Dari masjid yang dia bangun sejak Abad 8 Masehi, lahir Paus Sylvester II (yang ngajarin Eropa angka nol) dan filsuf Maimonides. Perempuan ini membangun masjid di Afrika, lalu seluruh Eropa kena imbas pencerahannya. Bandingkan dengan pengurus masjid kita yang kebuntuan ide, rapat bulanan cuma mikirin ganti warna cat tembok itupun penuh debat.

3. Sang Ahli Logistik dan Pengairan : Zubaidah binti Ja'far (Baghdad ke Mekkah, Jazirah Arab)

Masih di era yang sama, ada Zubaidah binti Ja'far, istri Khalifah Harun ar-Rasyid. Namanya harum karena sumur-sumur dan jalan haji sepanjang Kufah ke Mekkah. Tapi tahukah Anda bahwa proyek infrastruktur raksasa zaman Abbasiyah itu justru berawal dari rasa gemasnya melihat jamaah haji kehausan di Masjidil Haram? Ketika haji, Zubaidah melihat kondisi air zamzam yang keruh dan jamaah yang pontang-panting. Bukannya cuma mengeluh sambil kipas-kipas seperti kebanyakan dari kita, perempuan ini pulang ke Baghdad dan langsung memerintahkan para insinyur terbaik kerajaan untuk membuat kanal dan beberapa sumur yang membentang 1.500an kilometer. Kalau kita baru bagi-bagi air dus itupun setahun sekali minggir dulu. Hehe.. Cintanya pada masjid dan jamaah masjid, mewujud jadi rahmat lintas zaman. Kalau pejabat kita cintanya pada masjid cuma sebatas potong pita peresmian AC baru sambil senyum ke kamera itupun menjelang pilkada kalau kalau karpet digulung kembali, Zubaidah ini levelnya beda: cintanya mengairi padang pasir buat jutaan manusia. Beliau sampai sekarang belum terpecahkan rekornya dalam berbagi air untuk jamaah sejak Abad 7 Masehi. Lha, masjid kita malah berdebat kas masjid gak boleh dipakai makan-makan atau minum-minum jamaah. 

4. Sang Ulama Perempuan Pendidik Laki-Laki: Rabi'ah al-Adawiyah (Basrah, Irak)

Sekarang kita masuk ke ranah yang lebih "spiritual" tapi akarnya sangat membumi: Rabi'ah al-Adawiyah. Sering dicap nyentrik yang lari dari dunia. Padahal, kalau ditelisik, Rabi'ah itu produk dan hasil kaderisasi Masjid Basrah. Lingkaran halaqah-nya di masjid itulah yang membuat konsep Mahabbah (Cinta Allah) viral. Dia tinggal di bilik kecil dekat masjid dan masjid itulah panggungnya untuk mendidik para santri salik dan zahid dari kalangan pria yang mentalnya masih labil soal dunia. Hebatnya, dia mengubah masjid dari sekadar tempat debat tekstual yang kaku menjadi ruang penghayatan cinta yang menggetarkan qalbu. Para ulama besar Basrah beritikaf di masjid itu bukan cuma buat shalat, tapi buat "menghanyutkan jiwa". Rabi'ah adalah bukti bahwa masjid bisa menjadi tempat laki-laki belajar tentang Tuhan dari guru perempuan. Ia dijuluki sebagai "The Mother of the Grand Master" bahkan pemikirannya terus dikaji di timur dan barat sejak abad ke 7 Masehi. 

5. Sang Mobilisator Perempuan Afrika: Nana Asma'u (Sokoto, Nigeria, Afrika Barat)

Nah, setelah dari Timur Tengah, mari kita jalan-jalan sebentar ke benua mutiara hitam. Kita punya Nana Asma'u. Putri pendiri Kekhalifahan Sokoto ini bukan cuma pinter ngaji di masjid, tapi juga memanfaatkan masjid sebagai pusat pelatihan dan kaderisasi untuk para guru perempuan yang ia sebut Yan Taru. Mereka ini disebar ke pelosok desa buat memberantas buta huruf dan ngajarin perempuan soal Islam sekaligus keterampilan hidup. Darimana? Dari masjid! Hasilnya? Gerakan literasi massal yang membuat perempuan Hausa di Nigeria jadi melek huruf jauh sebelum zaman kemerdekaan. Kalau sekarang ada yang bilang perempuan cukup di dapur aja, coba tengok Nana Asma'u—dia keluar masuk masjid dan pelosok desa justru buat membangun peradaban, membangun manusia dari masjid. Baginya masjid adalah pusat pemberdayaan perempuan, ia adalah pelopor feminisme modern berbasis Islam sejak Abad 17 Masehi. 

6. Sang Ratu yang Membangun Masjid Raksasa: Shah Jahan Begum (Bhopal, India, Asia Selatan)

Geser ke Asia Selatan, ada Shah Jahan Begum dari Bhopal, India. Jangan tertukar dengan Shah Jahan si pembangun Taj Mahal, ya. Ini perempuan penguasa Bhopal abad ke-19 yang membangun Taj-ul-Masajid—salah satu masjid terbesar di India. Bayangkan, di zaman ketika perempuan masih dianggap cuma "teman didapur, kasur dan sumur", Begum ini menggelontorkan 1,6 juta rupee buat membangun masjid megah. Dan bukan cuma itu: ia juga membangun masjid-masjid lain, sekolah, dan rumah sakit. Cintanya pada masjid bukan sekadar batu bata, tapi fondasi kerukunan lintas agama dan pendidikan perempuan. Ini bukti bahwa perempuan dan masjid bisa menjadi poros toleransi.

7. Sang Panglima dari Serambi Masjid: Ratu Kalinyamat (Jepara, Indonesia)

Sekarang kita pulang ke Indonesia. Ada Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara abad ke-16 yang membangun Masjid Mantingan. Tapi jangan cuma lihat masjidnya, lihat juga bagaimana masjid itu jadi pusat dakwah dan perlawanan. Ratu Kalinyamat ini bukan cuma jago ngurus kerajaan dan memimpin pertempuran melawan Portugis, tapi juga menjadikan masjid sebagai episentrum penyebaran Islam lewat seni ukir dan budaya. Perempuan ini paham betul bahwa masjid itu bukan cuma tempat sujud, tapi benteng identitas dan pusat mobilisasi kekuatan umat. Kalau sekarang ada masjid yang cuma rame pas Ramadhan, coba belajar dari Mantingan: masjidnya masih berdiri kokoh sampai sekarang, saking kuatnya fondasi peradaban yang ia bangun sejak Abad 15.

8. Sang Wartawati dari Surau: Rohana Kudus (Koto Gadang, Sumatera Barat, Indonesia)

Dan yang terakhir, dari Sumatera Barat, ada Rohana Kudus—jurnalis perempuan pertama Indonesia dan pahlawan nasional. Lahir di Koto Gadang tahun 1884, ia tumbuh dalam budaya yang nggak ngasih ruang buat perempuan sekolah. Tapi dari surau—masjid kecil khas Minangkabau—ia belajar tafsir Al-Qur'an dan menyimpulkan bahwa Islam justru mewajibkan perempuan berilmu. Dari surau itulah ia kemudian mendirikan sekolah perempuan dan surat kabar Soenting Melajoe. Surau baginya bukan cuma tempat ibadah, tapi ruang pembebasan. Dari situ ia membuktikan bahwa perempuan Minang bisa jadi guru, jurnalis, dan penggerak perubahan. Dia menjadi guru Al-Quran sejak masih kecil. Kalau ada yang masih mikir perempuan di masjid cuma jadi penghias saf belakang, ingatlah Rohana Kudus—dari surau kecil di Koto Gadang, ia mengguncang tradisi dan membuka jalan bagi perlawanan terhadap diskriminasi perempuan.

Jadi Masjid itu Milik Siapa? 

Nah, setelah tujuh nama ini kita beberkan—dari Madinah ke Maroko, dari Nigeria ke India, lalu ke Jepara dan Koto Gadang—masih adakah yang berani bilang bahwa perempuan dan masjid itu hubungannya cuma sebatas jilbab seragam dan majelis taklim rutin? Lihatlah peta peradaban yang mereka tinggalkan. Mereka tidak merengek minta "tempat yang layak", mereka langsung mengambil peran. Mereka membangun menara ilmu, menggali kanal kemanusiaan, mendidik para filsuf dan pemikir, hingga memimpin pergerakan dan perlawanan. Ini baru 7, sebenarnya masih banyak sekali. Jadi, kalau hari ini ada suara sumbang yang masih memperdebatkan perempuan dan masjid, atau melarang perempuan berkarya dari masjid, mari kita nyengir sinis. "Maaf, sejarah sedang tidak sepakat dengan antum." Perempuan dan masjid adalah dwitunggal yang menjadi rahim lahirnya pejuang dan perabadan besar sebagai rahmat untuk semesta.

Dari WA grup

Monday, February 23, 2026

Seni Menawar Takdir

Syekh Al-Qalyubi pernah mempertanyakan dalam kitab An-Nawadir, apakah doa benar-benar mengubah takdir atau hanya sekadar ritual menenangkan hati? 

Jawabannya mengejutkan, doa adalah seni menawar kepada Sang Maha Pemberi, bukan memaksa namun membangun relasi yang mengubah segalanya.
.
Ada kisah seorang lelaki saleh yang diberi pilihan oleh Allah, kaya di usia muda dan miskin di tua, atau sebaliknya. 

Ia memilih miskin di muda karena ingin kuat beribadah, namun istrinya menawar takdir itu dengan usaha bersama yang lebih baik.
.
Pasangan itu akhirnya memilih taat dan ikhlas bersama, lalu Allah mengubah ketetapan-Nya. Mereka diberi kekayaan sepanjang usia, bukan karena pilihan awal mereka

melainkan karena tekad mereka menawar takdir dengan amal shaleh yang tulus dan konsisten.
.
Dzun Nun Al-Mishri dan putrinya melepas ikan hasil tangkapan karena mendengar dzikirnya. Mereka bertawakal dalam keheningan total

lalu makanan turun dari langit selama dua belas tahun, bukan karena kekayaan, tapi karena keberanian melepaskan.
.
Bukan berarti takdir salah, tapi manusia diberi kuasa untuk berdialog dengan Penciptanya. Ikhtiar, doa, dan kesabaran adalah alat tawar-menawar yang Allah izinkan dalam hidup ini

asal niatnya bukan serakah namun mendekatkan diri kepada-Nya.
.
Jadi, masihkah kamu menerima takdir apa adanya begitu saja tanpa berusaha? Atau mulai belajar seni menawar seperti yang diajarkan Syekh Al-Qalyubi, bahwa takdir memang tertulis

tapi tintanya tidak pernah kering dan masih bisa direvisi oleh keikhlasanmu.

Sumber : postingan Facebook

Monday, December 8, 2025

RINDU ORANG TUA KEPADA ANAKNYA

RINDU

Pagi itu Pengadilan Negeri Semarang dipenuhi hiruk-pikuk seperti biasa. Di antara kerumunan orang yang menunggu giliran, tampak seorang lelaki tua berambut putih mengenakan batik dan kopiah lusuh. Tangannya yang keriput menggenggam erat selembar surat pengaduan. Matanya yang sayu sesekali menatap kosong ke arah pintu ruang sidang.

"Bapak Sastro Wijoyo?" panggil petugas pengadilan.
Lelaki tua itu mengangguk pelan, lalu berjalan tertatih masuk ke ruang sidang. Hakim Ketua memperhatikannya dengan seksama. Di sampingnya duduk dua hakim anggota yang juga tampak penasaran.
"Silakan duduk, Pak. Bapak mengajukan gugatan, ya? Terhadap siapa?" tanya Hakim Ketua sambil membuka berkas.
"Maaf, Pak Hakim. Saya menggugat anak saya sendiri. Namanya Arya Satria Wijoyo," jawab Pak Sastro pelan, hampir berbisik.
Hakim Ketua mengangkat alisnya, melirik sebentar ke arah rekan-rekannya yang juga tampak terkejut.

 Suasana ruang sidang mendadak hening.
"Baik, Pak Sastro. Bisa dijelaskan, apa tuntutan Bapak?"
Pak Sastro menarik napas panjang. "Sederhana saja, Pak. Saya minta anak saya memberi nafkah bulanan sesuai kemampuannya."
"Oh, itu hak Bapak, kok. Secara hukum dan agama, anak wajib memberi nafkah kepada orang tua. Tidak perlu diperdebatkan lagi," ujar Hakim Ketua mantap.
"Tapi, Pak Hakim..." Pak Sastro mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Saya sebenarnya mampu. Punya tanah warisan, punya rumah, tabungan juga ada. Saya tidak butuh uang."

Ruangan kembali sunyi. Hakim Ketua dan kedua hakim anggota saling berpandangan bingung.
"Lalu maksud Bapak apa?" tanya Hakim Ketua, kali ini dengan nada lebih lembut.
"Saya cuma mau minta uang jajan dari anak saya, Pak. Berapa pun, terserah dia. Yang penting... ada."Hakim Ketua tercenung. Ada sesuatu yang tidak biasa dari kasus ini. "Baiklah. Kami akan memanggil anak Bapak. Tolong sebutkan alamatnya."
Beberapa hari kemudian, sidang kedua digelar. Kali ini Arya Satria hadir—pria berusia empat puluhan, mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan rapi. Wajahnya tampak tegang, bingung bercampur malu. Di sampingnya, Pak Sastro duduk dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Saudara Arya Satria Wijoyo?" Hakim Ketua membuka sidang.
"Benar, Pak Hakim."
"Apakah Bapak Sastro ini ayah Saudara?"
"Iya, Pak. Beliau bapak saya," jawab Arya sambil menunduk.
"Bapak Saudara mengajukan gugatan, meminta nafkah bulanan dari Saudara. Apa tanggapan Saudara?"
Arya mengangkat wajahnya, menatap ayahnya sebentar, lalu kembali ke hakim. "Pak Hakim, saya bingung. Bapak punya uang. Rumahnya besar, di Jalan Pandanaran. Punya sawah di Ungaran, beberapa kios di Johar juga. Kenapa tiba-tiba minta nafkah dari saya?"

Hakim Ketua menoleh ke Pak Sastro. "Bagaimana, Pak?"
"Memang begitu, Pak Hakim. Tapi ini hak saya sebagai bapak, kan? Dan saya cuma minta sedikit," ujar Pak Sastro tenang.
"Berapa yang Bapak minta?"
"Lima puluh ribu sebulan, Pak. Cukup."
Seluruh ruangan terhenyak. Lima puluh ribu? Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk makan sehari di kota seperti Semarang.
Arya geleng-geleng kepala. "Pak Hakim, ini aneh. Lima puluh ribu itu... bahkan untuk ongkos ojek saja kurang."
"Tapi itulah maunya saya," sergah Pak Sastro dengan suara yang mulai bergetar. "Dan saya minta diserahkan langsung. Dari tangan kamu ke tangan saya. Tiap bulan. Tanpa perantara."
Hakim Ketua mulai memahami sesuatu. Tatapannya melembut.
"Baiklah. Majelis hakim telah mendengar keterangan dari kedua pihak." Ia mengetuk palu pelan. "Kami memutuskan: tergugat, Arya Satria Wijoyo, wajib memberikan nafkah bulanan kepada ayahnya, Sastro Wijoyo, sebesar lima puluh ribu rupiah, diserahkan langsung dari tangan ke tangan, setiap tanggal lima, seumur hidup ayahnya. Sidang ditutup."
Arya terdiam. Pak Sastro mengangguk pelan, tangannya gemetar saat menerima salinan putusan.
Sebelum mereka berdiri, Hakim Ketua mengangkat tangan. "Tunggu dulu. Pak Sastro, boleh saya bertanya sesuatu?"

Pak Sastro menoleh.
"Kenapa Bapak sampai segini, Pak? Kenapa minta jumlah sekecil itu padahal Bapak tidak butuh?"
Hening sesaat. Pak Sastro menarik napas panjang. Air matanya mulai membasahi pipi keriputnya.
"Pak Hakim..." suaranya bergetar. "Saya kangen sama anak saya. Sudah setahun lebih, kami tidak ketemu. Dia sibuk kerja, katanya. Telepon pun jarang. Padahal rumah kami cuma beda Kecamatan. Saya tidak marah, Pak. Tapi hati saya sakit. Saya sudah tua. Entah berapa lama lagi saya bisa lihat wajahnya."
Ruangan seperti kehilangan udara.
"Saya tidak butuh uangnya, Pak Hakim. Saya cuma butuh dia datang. Walau cuma sebulan sekali. Walau cuma lima menit ngobrol di teras sambil serahkan uang lima puluh ribu itu... sudah cukup buat saya. Sudah cukup untuk bikin saya bahagia sampai bulan depan."
Arya membeku. Wajahnya pucat. Tangannya mengepal di pangkuan.
Hakim Ketua mengusap matanya. Kedua hakim anggota menunduk dalam-dalam. Beberapa orang di ruang sidang terisak pelan.
"Ya Allah, Pak Sastro..."Hakim Ketua menggeleng. "Kalau dari awal Bapak bilang begini, saya akan hukum anak Bapak lebih berat. Saya akan masukkan penjara kalau perlu."
Pak Sastro tersenyum tipis, meski air matanya terus mengalir. "Tidak usah, Pak Hakim. Saya tidak mau sakiti hati anak saya. Keputusan ini saja sudah cukup. Saya cuma mau dia ingat... bahwa bapaknya masih hidup. Masih menunggu."
Arya akhirnya menangis. Ia bangkit, berlutut di depan ayahnya, memeluk kaki tua yang sudah mulai lemah itu.
"Maafkan saya, Pak. Maafkan Arya..."
Pak Sastro mengelus kepala anaknya dengan tangan yang gemetar. "Kamu tidak salah, Le. Bapak cuma kangen."
Hakim Ketua menutup berkasnya pelan, lalu berbisik kepada hakim anggota di sebelahnya. "Semoga anak-anak kita tidak menunggu sampai ada putusan pengadilan untuk ingat orang tua mereka."
Ruang sidang itu pagi itu dipenuhi isak tangis—bukan karena keadilan yang ditegakkan, tapi karena kerinduan yang terluka.
Sahabat Kisah,
Kadang, *yang paling mahal bukan uang. tapi waktu*. *Dan kadang, yang paling sakit bukan kemiskinan. Tapi dilupakan oleh orang yang kita cintai*.
😭😭😭
( Copy paste dari Group Pensiunan )