DUA NABI, SATU POLA: KEAJAIBAN TERSEMBUNYI DI BALIK KISAH YUSUF DAN MUSA DALAM AL-QURAN
Pernahkah kita membaca Al-Quran dan tiba-tiba merasa seperti sedang melihat dua cermin yang saling berhadapan? Itulah yang terjadi ketika kita membaca kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa secara berdampingan.
Dua kisah, dua zaman, dua tokoh tetapi dengan pola yang begitu mirip hingga terasa seperti bukan sebuah kebetulan. Dan memang bukan kebetulan. Ini adalah keindahan Al-Quran yang disengaja.
01 – DUA KISAH AGUNG YANG SALING BERCERMIN
Kisah Nabi Yusuf disebut sebagai ahsanal qashash sebaik-baik kisah. Kisah Nabi Musa adalah kisah yang paling banyak diulang dalam Al-Quran. Keduanya bermula di tempat yang sama: Mesir.
Keduanya pernah "hilang" dari keluarga yang mencintai mereka. Keduanya melewati lorong-lorong gelap yang panjang sebelum sampai pada kemuliaan.
Tapi justru di dalam kemiripan itulah Allah ﷻ menyimpan perbedaan kecil yang mengandung pelajaran besar tentang takdir, ujian, kasih sayang, dan cara Allah ﷻ bekerja di balik layar kehidupan manusia.
02 – DILEMPAR KE TEMPAT GELAP: OLEH BENCI DAN OLEH CINTA
Yusuf dilempar ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya yang membencinya. Musa dihanyutkan ke dalam sungai oleh ibunya yang sangat mencintainya atas perintah Allah ﷻ.
Dua tindakan yang secara fisik mirip, tapi secara ruh sangat berbeda. Yang pertama lahir dari rencana manusia yang dipenuhi dengki. Yang kedua lahir dari rencana Allah ﷻ yang dipenuhi kasih.
Lalu, apa hasilnya? Keduanya selamat. Keduanya justru sampai di tempat yang lebih baik.
Di sinilah Al-Quran mengajarkan sesuatu yang menyentuh: tidak semua "lemparan" dalam hidup kita adalah kejahatan.
Terkadang, Allah ﷻ menghanyutkan kita ke tempat yang tampak menakutkan, justru karena di sanalah takdir kemuliaan kita sedang menunggu.
03 – ISTANA YANG SAMA, PERAN YANG BERBEDA
Keduanya tumbuh di dalam istana penguasa. Keduanya diasuh oleh orang-orang berpengaruh di lingkaran kekuasaan.
Namun, coba perhatikan perbedaan yang menakjubkan ini:
Dalam kisah Musa, istri penguasa adalah yang meminta agar bayi Musa diasuh dan diselamatkan. Ia menjadi sumber keamanan dan perlindungan.
Dalam kisah Yusuf, istri penguasa justru menjadi sumber gangguan dan ujian terberat ia yang menggoda Yusuf dan kemudian memfitnahnya hingga Yusuf masuk penjara.
Dua istri penguasa, dua peran yang bertolak belakang. Satu menjadi pelindung, satu menjadi ujian. Seolah Allah ﷻ ingin mengatakan bahwa …
Jabatan dan status seseorang tidak menentukan apakah ia akan menjadi berkah atau cobaan bagi kita. Yang menentukan adalah takdir Allah ﷻ Yang Mahabijaksana.
04 – AIR MATA YANG BERBEDA, KERINDUAN YANG SAMA
Kesedihan pun hadir dalam dua wajah yang berbeda.
Ketika Musa dihanyutkan, hati sang ibu menjadi kosong. Seperti wadah yang tiba-tiba kehilangan isinya. Ia hampir tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Ketika Yusuf menghilang, mata sang ayah Nabi Ya'qub memutih karena terlalu banyak menangis dan terlalu dalam merindukan putranya.
Dua orangtua, dua cara Allah ﷻ menggambarkan kesedihan mereka. Tapi keduanya menyimpan satu kesamaan yang indah: Allah ﷻ tidak membiarkan air mata itu jatuh sia-sia.
Ibu Musa akhirnya bertemu kembali dengan anaknya. Nabi Ya'qub akhirnya memeluk Yusuf kembali setelah bertahun-tahun terpisah.
05 – SAUDARA YANG MENYAKITI DAN SAUDARA YANG MEMBANTU
Saudara-saudara Yusuf adalah yang merencanakan kejatuhan dan pembuangannya. Merekalah yang melemparnya ke sumur dan membawa baju berlumuran darah palsu kepada ayah mereka.
Tetapi dalam kisah Musa, justru saudari perempuannya yang mengikuti keranjang bayi Musa di tepian sungai dan menjadi jembatan yang mempertemukan kembali Musa dengan sang ibu.
Saudara kandung bisa menjadi sebab kejatuhan, bisa pula menjadi sebab keselamatan.
Lagi-lagi Al-Quran memperlihatkan bahwa bukan siapa orangnya yang menentukan, akan tetapi bagaimana Allah ﷻ menggerakkan peran mereka dalam skenario besar-Nya.
06 – UJUNG JALAN: KEMULIAAN DENGAN CARA YANG BERBEDA
Ketika dewasa, keduanya menerima anugerah yang sama: ilmu dan hikmah dari Allah ﷻ. Tapi jalan menuju kemuliaan mereka berbeda total.
Musa harus berhadapan langsung dengan penguasa menghadapi Firaun, dikejar, diancam, dan berjuang keras untuk membebaskan kaumnya. Kemuliaan Musa lahir dari konfrontasi.
Yusuf justru dimuliakan dan didekatkan oleh penguasa dari budak dan tahanan, ia menjadi pemegang otoritas tertinggi di Mesir. Kemuliaan Yusuf lahir dari kesabaran di dalam sistem yang pernah menghancurkannya.
Dua jalan yang berbeda, dua ujung yang sama: Allah ﷻ tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang sabar dan bertakwa.
07 – SATU HAL YANG SENGAJA TIDAK DISEBUTKAN
Ada satu detail kecil yang sangat menarik. Dalam seluruh kisah Yusuf yang panjang, tidak disebutkan ibunya. Dalam seluruh kisah Musa, tidak disebutkan ayahnya.
Apakah ini kekurangan dalam narasi? Tentu tidak! Allah ﷻ Mahateliti dalam memilih setiap kata.
Ini adalah pengingat bahwa dalam setiap kisah, Allah ﷻ mengangkat sosok yang paling relevan dengan hikmah yang ingin disampaikan. Dan, Zat Yang Mahakuasa menutup tirai atas yang lainnya.
Tidak semua hal perlu dijelaskan. Cukup percaya bahwa setiap yang Allah ﷻ tulis dan diamkan, keduanya sama-sama penuh makna.
08 – JIKA ALLAH ﷻ YANG MERANCANG, PASTI ADA KEINDAHAN DI UJUNGNYA
Dari dua kisah agung ini, ada satu kesimpulan yang paling kuat dan paling menghibur:
Jika manusia yang merancang sesuatu atas kita, bisa jadi itu penuh kebencian dan kerusakan. Seperti saudara-saudara Yusuf yang melemparnya ke sumur.
Namun, jika Allah ﷻ yang merancang, pasti di dalamnya ada kasih sayang dan hikmah yang mungkin belum kita pahami sekarang.
Seperti halnya ibunda Musa yang menghanyutkan anaknya dengan air mata, tetapi dengan keyakinan penuh pada janji Allah ﷻ.
Maka, ketika hidup terasa sedang "melempar" kita ke tempat yang gelap dan asing ingatlah Yusuf di dasar sumur, ingatlah Musa di dalam keranjang yang hanyut.
Keduanya tidak tahu ke mana mereka akan dibawa. Akan tetapi, keduanya bisa sampai pada kemuliaan. Mengapa demikian?
Karena, ketika Allah ﷻ yang mengatur, tidak ada satu pun bagian dari perjalanan itu yang terbuang sia-sia.
📚 … Disarikan dari kajian Perbandingan Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa dalam Al-Quran oleh Ustadz Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.
No comments:
Post a Comment