Wednesday, September 5, 2018

AZAN

AZAN

Oleh: Stevanus Pramono
(Wartawan Tempo) yg seorang pemeluk agama katolik

Tumbuh di negeri ini, entah sudah berapa puluh ribu kali saya mendengar lantunan azan. Lima kali sehari sepanjang tahun, semua masjid menyuarakannya. Tak pernah kita dengar ada masjid kekurangan pelantun azan. Rasanya tak mungkin pula Kementerian Agama mengeluarkan daftar muazin versi pemerintah.

Meski berbeda agama, tak pernah sekali pun saya jenuh mendengar azan. Saking sering mendengarnya, saya bisa melantunkan azan dari awal sampai akhir. Mungkin pula banyak non-muslim bisa melafalkannya karena sudah hafal.

Kala saya bersekolah di Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, azan magrib kerap terdengar bersamaan dengan lonceng kapel seminari. Di Gereja Katolik yang memilikinya, lonceng berbunyi tiga kali sehari: pagi, siang, dan petang. Hal itu merupakan ajakan untuk berdoa Angelus Domini atau Malaikat Tuhan.

Mendengar serentaknya denting genta dan azan, telinga dan hati saya sering merasa teduh. Tidak ada yang beradu mana yang lebih keras. Keduanya punya kemiripan: sama-sama mengundang untuk berdoa.

Melihat fungsi itu, saya memandang azan bukan hanya milik sebagian orang. Azan adalah milik mereka yang mau mendengar dan menyerahkan hati kepada Sang Pencipta. Azan tak sekadar membangunkan tidur manusia, tapi juga menggugah untuk berhenti sejenak dari aktivitas, seraya mengucap syukur atas segala nikmat dari-Nya. Azan bisa menyatukan mereka yang menghayatinya.

Itulah sebabnya saya menyukai azan yang disiarkan dengan khidmat untuk mengajak umat bersujud. Azan kerap mengingatkan saya untuk diam sejenak, menutup mata sambil mendengarkan kemerduan, lalu merasakan sapaan-Nya.

Maka, saya bisa terpana mendengar azan dari masjid di sebuah pulau di wilayah Banda yang dikepung pepohonan tinggi. Suaranya menggaung ke arah laut. Sekali lagi, sapaannya terasa tak hanya di telinga, tapi juga menembus ke hati. Air mata saya menetes karenanya.

Pun saya suka akan azan di Aleppo, Suriah, yang diserukan seorang milisi pemberontak pada suatu subuh, November 2012. Meski suaranya agak parau, lantunannya yang terdengar lirih lagi-lagi membuat saya menangis. Di tengah Aleppo yang porak-poranda dan penuh duka, azan seolah mengingatkan saya untuk berserah dengan segera karena hidup entah kapan berakhir.

Suatu sore, azan berkumandang dari masjid kecil yang masih berdiri di antara reruntuhan bangunan yang terkena mortir. Saya meminta fixer atau pemandu sekaligus penerjemah menghentikan kendaraan.

Melihat air di sudut mata saya, sang fixer menatap dan berkata, "Semoga kamu diberi hidayah." Ucapan itu saya balas dengan senyum. Dalam hati saya berkata, "Kawan, tanpa perlu saya berpindah agama, azan itu sudah mampu membawa saya kepada Pencipta."

(Koran Tempo)

Tuesday, September 4, 2018

POLIGAMI DAN POLITIK

POLIGAMI DAN POLITIK

By: Ustadzah Lathifah Musa

Judulnya lho ya, kok seperti mengada-ada. Mentang-mentang sedang trend suhu politik menghangat, lantas dikait-kaitkan. Wah, bukan maksud saya menaikkan poligami ke level politik. Ini adalah kesadaran saya yang muncul belakangan, khususnya setelah dalam bilangan tahun tercebur ke dalam dunia kehidupan politik, eh ups salah maksudnya kehidupan poligami.

Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan hikmahnya. Ada maksud di balik setiap peristiwa. Poligami yang bagi laki-laki, mungkin dambaan. Namun bagi kebanyakan perempuan tidak pernah dicita-citakan. Makanya, mungkin saya diceburkanNya pada situasi kehidupan berpoligami, agar bisa melihat dan membaca hikmahnya. Karena tanpa realita, apa yang saya (atau kami) sampaikan hanyalah dipandang sebagai opini belaka. Termasuk bagi saya pribadi, yang bila tanpa menjalaninya, maka hikmah poligami hanya sekedar opini yang belum terverifikasi.

Demikianlah memang hidup itu pilihan. Sekiranya tak ada peluang kebaikan dan upaya berbuat kebaikan, tentu pilihan ini tak akan berani saya ambil. Terlalu besar resikonya. Apalagi kalau dikaitkan dengan pahala dan siksa. Okey, mungkin ini seperti curhat pribadi, padahal sebenarnya alinea ini masuk dalam poin opini yang terverifikasi menjadi fakta

Baiklah, setelah pengantar pribadi sejenak, maka saya masuk ke judul Poligami dan Politik. Cetusan ide ini muncul setelah mengkaji kitab Siroh Nabawiyah yang ditulis oleh Prof. Dr. Muh. Rowwas Qol'ahji.

Sangat menarik, bahwa pada halaman membahas istri-istri Rasulullah Saw, beliau mengungkapkan pemikiran ini. Saya sebagai pembaca fakta mengakuinya.

Poligami adalah hukum Islam yang paling rawan dan mudah untuk diserang. Menurut saya pribadi, karena hukum ini dihadapkan pada situasi "ketika wanita lebih dominan menggunakan perasaannya". Demikian juga kaum laki-laki banyak terjebak pada "ketika perasaannya lebih mendominasi akal". Ini karena melibatkan masalah cinta. Perasaan terdalam yang bisa mewarnai qalbu. Untuk itu bagi wanita, laki-laki tampak begitu menyebalkan ketika membicarakan poligami. Sebaliknya bagi laki-laki, wanita tampak begitu menakutkan ketika disinggung tentang poligami. Umumnya demikian, khususnya ketika akal tidak dilibatkan untuk memutuskan sesuatu.

Barat (untuk menyebut Inggris dan Amerika sebagai pelopornya) mengetahui fakta ini. Fenomena yang bersifat insaniyah dan naluriyah. Apalagi melihat bahwa ternyata Islam membolehkan poligami. Jadilah poligami sebagai isu menarik yang dikaji secara khusus oleh dua negara besar ini untuk menyusun tahapan langkah menghancurkan Islam.

Sampai kalimat ini, biasanya ada pembaca yang menilai penulis telah terjangkiti gejala paranoid terhadap ide konspirasi.

Oh tidak, jangan menuduh saya. Ini adalah pendapat Prof. Qol'ahji dalam sebuah analisisnya tentang bagaimana Barat berusaha menghancurkan Islam melalui isu Poligami. Bahkan mengenai topik "Islam membolehkan poligami", dikaji secara khusus dalam lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang mereka bangun di dunia Islam. Sebagai lembaga pelopor, mereka membuka Universitas Amerika di Beirut dan Iskandariyah. Selanjutnya mereka mengirim alumni-alumninya ke negeri-negeri Islam untuk membuka lembaga pendidikan dengan kurikulum sejenis di sana.

Prof. Qol'ahji menulis, ada tiga tahap upaya Barat untuk menghancurkan Islam.

(1) Menciptakan keraguan terhadap kelayakan dan kebaikan prinsip-prinsip Islam seperti bolehnya poligami, cerai, haramnya riba dll

(2) Menjauhkan nilai-nilai dan prinsip Islam, setelah berusaha meyakinkan umat Islam bahwa nilai-nilai dan prinsip Islam sudah tidak layak untuk diterapkan.

(3) Menawarkan nilai-nilai dan prinsip yang mereka buat sendiri sebagai pengganti Islam.

Keberhasilan Barat dalam isu poligami ini adalah dengan banyaknya muslim yang membenci poligami. Bahkan selanjutnya membuat aturan-aturan yang menghalangi atau minimal mempersulit pelaksanaan poligami. Dengan demikian monogami adalah satu-satunya pilihan mulia. Untuk itu bagi para janda dianjurkan agar lebih mulia untuk bersabar dan menjadi single parent bagi anak-anaknya yang yatim. Program bekerja bagi para janda mendapatkan support yang kuat, untuk menguatkan posisi single parentnya. Agar mereka tidak memilih untuk menikah lagi, apalagi dipoligami. Mengenai anak-anak yatim, masih banyak cara untuk menyantuninya, tanpa perlu menikahi ibunya. Intinya, segala program yang mencegah poligami akan mendapatkan dukungan sepenuhnya. Karena poligami adalah ancaman bagi keutuhan dan keharmonisan rumah tangga.

Bila prinsip dan nilai Islam ini telah tanggal dengan program-programnya yang "tampak baik" di mata kaum muslimin, maka Barat melancarkan program yang lain untuk keberhasilan tujuannya.
Program ini bagaikan virus yang diinjeksikan ke dalam tubuh umat. Barat membuat program:

(1) Menebarkan perbuatan amoral dan akhlak yang tidak terpuji di tengah masyarakat muslim. Mereka memperalat wanita penghibur (pezina), pecandu minuman keras dan narkoba untuk menggoda kaum laki-laki. Dewasa ini banyak perempuan penggoda dengan akhlak buruk yang menggoyahkan iman dan ketaqwaan para suami. Muncullah para pelakor, yang oleh musuh-musuh Islam buru-buru disematkan juga secara langsung kepada perempuan istri kedua dalam poligami. Sebuah stigmatisasi buruk bagi perempuan baik-baik yang memang telah direncanakan. Tujuannya agar mereka malu dipoligami, atau minimal merasa rendah dan direndahkan sebagai istri kedua, ketiga dan keempat.

(2) Membatasi pertumbuhan penduduk di dunia Islam. Ketakutan Barat terhadap pesatnya pertumbuhan penduduk di dunia Islam, membuat mereka merancang program untuk mencegah para perempuan untuk hamil dan bersuami. Program ini berlabel pembatasan kelahiran di negera-negara berkembang. Poligami adalah ancaman bagi keberhasilan program pembatasan jumlah penduduk.

Jadi, apakah saya menyudutkan mereka yang memilih untuk tidak poligami? Tentu saja tidak sama sekali. Karena poligami itu pilihan yang mubah, dan perlu persiapan khusus agar sukses dan bisa meraih keberkahannya. Sebagaimana ujian dalam setiap jenjang pendidikan yang tidak sama, hingga berbeda-beda usaha mempersiapkannya

Poligami adalah sebuah pernikahan dengan amal-amal yang lebih banyak. Namun ingatlah bahwa yang terbaik itu bukanlah amalan yang terbanyak, namun amalan yang terbaik. "Liyabluwakum ayyukum Ahsanul amalan". Agar Dia menguji siapa di antara kalian yang terbaik amalnya. Untuk itu fokuslah untuk membangun keluarga dengan amal-amal terbaik.

Tulisan ini bertujuan untuk membela hukum-hukum Islam. Agar ada di antara umat Islam yang masih mampu berdiri tegak untuk membela salah satu hukum Islam yang selama ini dicerca. Agar ada salah satu dari umat Islam yang mengatakan bahwa poligami sebagai hukum yang dibolehkan oleh Allah Ta'ala adalah bagian dari solusi terbaik bagi persoalan manusia. Bukan sekedar opini namun telah menjadi realita, karena telah terverifikasi kebenarannya.[]
___

Monday, September 3, 2018

Mana yg lebih baik, beli dari Teman dekat, Keluarga atau Orang Asing?

Jack Ma : Kalau Disuruh Memilih, Anda Akan Membeli Barang Dari "Teman Dekat, Keluarga, atau Orang Asing"?

Seseorang ingin membeli ban dan ia mendapatkan beberapa informasi harga:

Harga teman dekat:840 dolar
Harga keluarga : 850 dolar
Harga orang asing : 780 dolar

Kalau kalian jadi orang itu, kalian akan beli ban dari orang mana?

Akhirnya orang itu memilh membeli ban dari orang asing dengan harga 780 dolar
Padahal orang itu tidak tahu bahwa teman dekatnya cuma ambil untung 20 dolar
Bahkan keluarganya tidak mendapat keuntungan sama sekali, malahan rugi karena harus bayar uang reparasi mobil.
Sedangkan orang asing mengambil keuntungan 580 dolar!
Parahnya lagi ternyata setelah diketahui, ban yang dibelinya itu palsu.

Itu bukan karena barangnya palsu, melainkan anda yang terlalu serakah.
Bukan karena kenalan dekatmu mau ambil keuntungan, tapi ia bisa memberi jaminan kepercayaan buatmu.

Mungkin Anda sudah sering mendengar nasihat dari Jack Ma (CEO Alibaba) berikut:

"Ketika berjualan ke teman dekat dan keluarga, berapa-pun harga yang Anda jual, mereka akan selalu berpikir, Anda sedang mencari untung dari uang mereka. Dan semurah apapun Anda jual, mereka tetap tidak akan menghargainya."

Selalu saja ada orang-orang yang tidak peduli dengan biaya, waktu, dan tenaga Anda. Mereka lebih baik memilih ditipu oleh orang lain daripada membiarkan Anda mendapatkan keuntungan dari mereka. Karena di dalam hati, mereka kerap berpikir berapa untung yang Anda dapat darinya? Bukannya berpikir berapa yang telah Anda bantu hematkan atau hasilkan untuk dia?

Ini adalah contoh klasik mental orang miskin.

Bagaimana caranya orang kaya menjadi kaya? Alasan utamanya adalah karena mereka bersedia mendukung bussiness associate (lingkaran kelompok usaha) mereka, menjaga kepentingan satu sama lain, maka secara alami mereka mendapatkan lebih banyak lagi. Teman-teman Anda akan secara bergantian mendukung Anda. Dan lingkaran kekayaan ini akan terus bertumbuh dan semakin bertumbuh.

Sederhananya, kita akan mulai menjadi kaya ketika kita memahaminya.

👆Bukannya _keinginan membantu sdra/temen dekat, tp malah kecurigaan yg kerap hadir di benak kita.

Yuuk kita ubah cara berpikir kita, utk sllu membantu dan mengutamakan sdra/temen dan org2 dekat di sktr kita.

Salam inspiratif...

Dari WA grup

Monday, August 20, 2018

Ekonomi Turki membaik Superman-nya Itu Tetangganya Sendiri.

Ekonomi Turki membaik
Superman-nya Itu Tetangganya Sendiri.

Oleh: Dahlan Iskan

Sabtu 18 Agustus 2018

Merdeka!
Dan Turki merdeka juga. Dari krisis moneter yang begitu mencekam.

Merdeka!
Dan Turki berhasil menginjak rem tepat waktu: saat roda ekonominya berada di bibir jurang.

Memang posisi rodanya masih tetap di tebing. Tapi sudah ada superman. Yang menahannya. Untuk tidak terjungkal.

Superman itu tetangganya sendiri: Emir Syeikh Tamim bin Hamal Al Thani. Pemimpin tertinggi Qatar. Negara kecil yang sakunya besar.

Syeikh Tamim datang ke Turki. Rabu lalu. Tepat waktu. Setelah bicara-bicara 3,5 jam semuanya beres: Qatar akan meminjami Turki. Dana besar. Angkanya luar biasa: 15 miliar Dolar. Hampir Rp 200 triliun.

Begitu mendapat obat penurun panas dari Qatar itu, suhu Lira turun. Mata uang Turki itu langsung menguat. Tiga hari terakhir sudah menguat 17 persen.

Memang belum bisa kembali seperti tahun lalu: 1 Dolar 4 Lira. Tapi kemarin 1 Dolar sudah 5,9 Lira. Tidak lagi 7 Lira. Krisis sudah bisa dihindari.

Betapa bahagia punya tetangga sebaik Qatar. Mau membantu. Dengan cepat. Dengan dana besar. Bahkan sang Emir yang datang sendiri ke Turki.

Tetangga mulia macam apa Qatar itu. Begitu terharu saya mencermatinya.

Mengingatkan saya pada tahun 1997/98. Saat kita dilanda krisis moneter. Yang luar biasa. Yang berlarut-larut. Menjadi krisis politik. Krisis rasial. Soeharto jatuh. Kepercayaan nasional runtuh.

Kalau saja tetangga kita seperti Qatar. Kalau saja ada yang mengulurkan tangan. Kerusuhan sosial tidak sampai terjadi.

Saya tidak bisa bayangkan. Betapa ‘nelongso’-nya Pak Harto saat itu. Minta bantuan ke tetangga kaya. Hanya dapat nasihat kata-kata.
Terpaksa Pak Harto ngemis ke IMF. Yang menyakitkan itu.

Qatar memang pernah merasakan budi baik Turki. Belum lama ini. Saat Qatar dikucilkan oleh negara-negara sesama Arab. Tetangga yang mengitarinya.

Saat itu Turki mendukung Qatar. Ketika negara-negara Arab melarang kirim barang ke Qatar, Turki turun tangan. Qatar bisa bertahan. Sampai hari ini. Di tengah isolasi.

Begitu marahnya pada Qatar, Arab Saudi sampai akan menggali daratannya. Yang berbatasan dengan Qatar. Selebar 200 meter. Sepanjang 200 km. Menjadi laut pemisah dua negara.
Qatar tidak menyerah. Tidak mau tunduk. Boikot Arab Saudi tidak sakti.

Dengan turunnya Superman itu Presiden Erdogan tidak perlu ngemis ke IMF. Martabatnya tidak perlu jatuh.

Bahkan Turki tetap bisa mempertahankan ideologi ekonominya: anti bunga tinggi. Yang dianggap sebagai ibu segala setan ekonomi.

Hanya saja Turki menerima saran ini: mengurangi defisit anggaran. Dengan cara mengurangi pengeluaran. Membatalkan proyek.
Tiap departemen diminta berhemat. Potong anggaran. Antara 20 sampai 30 persen.

Memang, pertumbuhan ekonomi Turki akan melambat. Tapi akan bisa lebih berkelanjutan. Daripada crash. Toh sudah 10 tahun Turki berhasil tumbuh cepat. Sampai pendapatan perkapitanya sangat tinggi: 17 ribu USD. Enam kali lipat lebih makmur dari kita.

Amerika masih terus berkoar. Akan meningkatkan lagi sanksi untuk Turki. Katanya: terbukti Turki bukan sahabat baik. Tidak mau membebaskan pastor Andrew Brunson. Asal Amerika. Yang kini ditahan di sebuah rumah, di Turki.

Ternyata punya tetangga baik itu membahagiakan. Baik dan kaya. Kaya dan baik. (dahlan iskan)

https://www.disway.id/superman-itu-tetangganya-sendiri/

Monday, August 13, 2018

CARA PRAKTIS MENGHITUNG DAGING QURBAN

CARA PRAKTIS MENGHITUNG DAGING QURBAN

Dari seekor sapi
Berat misal : 350 kg

Maka berat Karkasnya = 50% dari Berat hidupnya = 175 kg

Berat daging= 70% dari berat karkas =122,5 kg atau
35% dari Berat Hidup = 122,5 kg

Berat Jeroan 10% dari berat karkas = 17,5  kg atau 5% dari Berat Hidup.

Berat kaki sebanyak 4 kaki rata2 dagingnya 4,5 kg

Berat kepala 4% dari Berat Hidup= 14.5 kg per ekor

Berat ekor = 0,7% dari Berat Hidup = 2,45 kg

Ini penting untuk Panitia Qurban utk membagikan dan menyesuaikan jumlah ternak dengan jumlah mustahik. Perhitungan ini hanya memudahkan Panitia Qurban terlepas dari daging yg tercecer maupun yg masih melekat pada tulang.

Demikian untuk dimaklumi.

Nasional Qurban Center
(Disarikan dari Buku Pedoman Ber-Qurban yg Aman & Benar)
Halalan Thoyiban dan Ihsan

Wednesday, July 18, 2018

BUGHATS DAN REZEKINYA

BUGHATS (ANAK BURUNG GAGAK)

Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do'a yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭﺯُﻗﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙََ

Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats.

Apakah "bughats" itu?
Dan bagaimana kisahnya?

"Bughats" anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut "bughats".

Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab).
Apa perbedaan antara bughats dan ghurab?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.
Saat induknya menyaksikanya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.

Lalu bagaimana ia makan dan minum...?
Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah Subhanahuwata'ala menciptakan _aroma_ tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya.
ماشاءالله
Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri.

Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki.

... نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا

...Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia...
(QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)

Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah Subhanahuwata'ala, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah Subhanahuwata'ala, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah Subhanahuwata'ala. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah Subhanahuwata'ala. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah Subhanahuwata'ala kecuali dengan menta'atinya."

Jadi tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.

Mari introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yang kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum. Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat.

Itulah sikap selayaknya seorang muslim.

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

"Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu." (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu wahai kaum muslim, janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata'ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nikmat. Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahuwata'ala.

Selamat bekerja.
Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan didalam mencari karunia Allah Subhanahuwata'ala diatas muka bumi ini. Aamiin

Copas dari WA grup

Friday, June 22, 2018

800.000 titik cahaya , ide transformasi manajemen masjid

Tulisan bagus dari Rendy Saputra

*800.000 TITIK CAHAYA*

ummat saat ini memiliki 800.000 gedung yang hanya dipakai 5 jam per hari. Gedung itu bernama : *MASJID*.

Disinilah awal mula ide pemberdayaan Masjid sebagai asset ummat. Dari pondasi pemikiran ini, kita harus kembali memaknai... sudah sejauh mana kita MEMANFAATKAN 800.000 asset ini.

*****

Narasi tentang pemberdayaan masjid ini akan Saya sampaikan secara runut.

Pertama, optimalisasi masjid sebagai sarana ibadah.
Kedua, optimalisasi masjid sebagai titik manajemen ummat.
Ketiga, optimalisasi masjid sebagai asset fisik.

*****

Kita masuk pada pemikiran *pertama*, masjid sebagai sarana ibadah.

Sahabat, masjid biasanya dibangun secara bersama-sama oleh warga, walaupun ada masjid yang memang dibangun oleh pribadi. Perbedaan yang nampak nyata adalah... masjid yang dibangun oleh kekuatan publik biasanya lemah pada pengelolaan, dan masjid yang dibangun personal biasanya terkelola baik. Sederhananya, karena ada sponsor personal yang terus menyuplai kebutuhan perawatan masjid.

Pada ruang pemikiran pertama ini, Saya lebih memodelkan masjid yang memang dibangun bersama.

Masjid yang dibangun bersama berarti dimiliki bersama, dimiliki oleh warga. Artinya ia adalah milik ummat. Didalam bisnis, ummat menjadi "owner" dari masjid.

Tapi disisi lain, masjid juga dituntut melayani ibadah jamaah, maka ummat juga berada pada posisi "market" dalam waktu yang bersamaan.

Yang biasanya belum ada adalah "Dewan Eksekutif" yang memang menjalankan masjid secara profesional. Dewan direksi beserta jajarannya.

Sebagian masjid membentuk Dewan Kepengurusan Masjid (DKM), dan DKM secara sukarela menyisihkan waktu untuk mengurus masjid. _Pada pengurus DKM usia produktif, mengurus masjid tidak bisa menjadi aktivitas utama, karena harus bekerja dan berbisnis mencari nafkah_. Akhirnya mengurus masjid menggunakan waktu sisa.

Jika para pensiunan mewarnai DKM, aura eksekusinya juga tidak bisa diharapkan cepat, kurang kreatif ...karena natural nya organisasi itu dijalankan oleh usia produktif. (Dengan tetap menghargai para pensiunan yang menjadi DKM)

Maka, perlu digagas dewan eksekutif yang profesional dalam kepengurusan masjid. Muda, berkapasitas dan memang full dedikasinya untuk mengurusi masjid.

Artinya..., ada Owner beserta jajaran komisaris dan ada CEO beserta jajaran eksekutornya.

*Ide gila* nya disini : 1 masjid, harus dikelola oleh 1 CEO profesional dengan kepuasan jamaah sebagai Key Perfirmance Indicator nya.

1 CEO
1 direktur operasional-ibadah
1 direktur keuangan
1 direktur komunikasi-media
1 direktur ziswaf
1 direktur pembinaan jamaah
1 direkrur General Affair

1 CEO... 6 Direktur ... 7 BOD.

1 direktorat bisa merekrut lagi 5 staff. Akhirnya 1 masjid bisa menyerap 37 tenaga kerja.

Bayangkan angka 800.000 masjid x 37 tenaga pengelola. Anggaplah dengan masjid kecil, menjadi 20 pengelola per masjid, berarti untuk ranah pelayanan masjid saja, terbuka 16 juta lebih lapangan kerja baru.

Turunan dari cara kerja seperti ini akan sehat. Bapak-bapak DKM tetap elegan menjadi pengurus DKM. Bapak-bapak akan menjadi owner dan mengawasj kerja jajaran eksekutif. Ini mirip owner bisnis ngontrol pekerja.

Kan memang iya, uang ummat menggaji CEO+team dan mereka kembali melayani ummat, diawasi oleh perwakilan ummat... share holders..., namanya DKM.

Selanjutnya, SDM timur tengah yang sudah belajar diinul Islam, Quran, Hadist, akan terberdayakan dengan baik. Jika 1 masjid butuh 1 imam hafidz dan terdidik, maka kita bisa menyerap 800.000 hafidz. 800rb imam, 800rb muadzin.

Selanjutnya, SDM yang sekolah zakat, sekolah ekonomi, bisa duduk di direktorat keuangan dan zakat. Semua terberdayakan. Belum lagi kita bicara direktorat pembinaan jamaah yang akan saya sampaikan detail di poin ketiga.

******

Poin *kedua* adalah masjid sebagai titik menajemen ummat.

Jika kita bicara manajemen, kita bicara tentang SIAPA yang kita kelola dan BAGAIMANA, mau diapakan.

Jika kita hadir ke sebuah masjid, dan hadir ke jajaran DKM, mari tanyakan hal ini :

1. Berapa KK yang dilayani oleh masjid ini.
2. Ada berapa laki-laki dewasa yang telah sadar menjadi jamaah ini, nama, usia, profesi, keahlian, dan rumahnya dimana.
3. Berapa anak-anak muslim yang harus menjadi perhatian masjid ini.
4. Berapa muslimah...

Terus.. terus dan terus.. data.. data.. dan data.. dan saya yakin.. datanya tidak ada.

Kecuali memang masjidnya profesional.

Saya ingin membuka mata anak bangsa : Jumlah kelurahan dan desa di Negeri ini, menurut data BPS 2016, itu ada 82,030. Ada selisih dengan data lain, tapi bisa dibilang 80.000an

Jika jumlah masjid ada 800.000 dan jumlah desa kelurahan ada 80rb, berarti 1 desa/kelurahan terdapat 10 masjid. Sebuah proporsi yang pas untuk manajemen ummat.

Sahabat, bayangkan,....

Islam menuntun shalat berjamaah 5 waktu di masjid. Berarti ada sekumpulan laki-laki baligh dewasa yang "meet up" 5x sehari. Anehnya, meet up 5x sehari... tetapi hampir tidak ada sinergi yang terjadi. Yang nganggur tetap nganggur, yang sulit kuliah tetap sulit kuliah. Aneh bukan?

Konsep masjid sebagai wahana manajemen ummat, dalam benak Saya adalah benar-benar mengurus dan mensinergikan seluruh kekuatan yang ada dalam tubuh ummat.

Masjid memutuskan sejauh mana rentang wilayah layanannya. Petakan. Tarik area pake spidol. Arsir. Ini wilayah layanan masjid A. Clear.

Lalu masjid mendata seluruh kaum muslimin pada area tersebut, pokoknya yang muslim didata. Mau ke mesjid atau tidak,  harus menjadi target layanan masjid. _Kan dimandikan dan disholatkannya disitu toh?_

Dari data ini akan terbaca, tingkat pendidikan, keahlian, engagement dengan masjid, bahkan sampai kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi.

Lucu donk, ada anak muda bolak balik 5 waktu ke masjid, 5 bulan nganggur, sementara di mesjidnya ada pengusaha yang punya bisnis 100 outlet. Ini gak lucu blasss.

Lucu donk, ada jamaah yang bingung nyari guru private kalkulus anaknya, sementara sarjana matematika bolak balik berjamaah disebelah si bapak.

Pendataan ini adalah fungsi manajamen dan dengan begini... CEO masjid tidak hanya berfikir proses ibadah berjalan baik, tetapi juga beliau memiliki LIST UMMAT yang harus dilayani. Makanya wajar SDM dedicated, karena kerjanya full time.

- bapak itu sudah dapat kerjaan belum?
- ibu itu single parent butuh dicarikan suami nggak?
- anak keluarga itu pinter tapi kok gak kuliah kenapa?
- adek itu kok masih nganggur aja.
- mas itu bisnis kayaknya kurang modal.
Hayuk.. masjid bantu.. kira-kira jamaah kita ada yang punya solusi gak ya?

Bahasan-bahasan seperti ini harusnya menjadi wahana kerja setiap BOD masjid di 800.000 masjid yang ada. Bayangkan... saya membayangkan saja merinding.

Konsep pelayanan seperti ini akan menarik kekuatan donasi ummat lebih besar. Karena ada programnya be-RESONANSI. Ummat Islam Indonesia ini mudah, selama ada program, urunan jalan. Gampang. Asal konkret, komunikasi baik. Semua akan mengalir.

Dengan begini, potensi kekuatan ummat akan hadir. Setiap warga muslim yang terdaftar di masjid tertentu akan terperhatikan. Ikatan-ikatan sosial kita sebagai ummat akan kokoh. Karena masjid hadir bukan hanya sebagai fungsi fisiknya, tetapi fungsi intrinsiknya : melayani kebutuhan ummat

*****

Poin *ketiga*, masjid sebagai asset fisik ummat.

Sahabat, jika Anda berbisnis, Anda pasti memahami usability. Tingkat kegunaan asset yang Anda punya.

Masjid yang dibangun oleh sebagian besar ummat ini, relatif HANYA digunakan 5 waktu dalam sehari. Itu saja. Jika dari adzan hingga selesai dzikir dan doa itu anggaplah 1 jam, maka masjid hanya digunakan 5 jam dari 24 jam yang ada.

Anda punya pabrik, dipakai 5 jam saja.
Anda punya warung, buka 5 jam saja.
Anda punya mesin fotokopi, bekerja 5 jama saja.
Bagaimana perasaan Anda?

Ratusan bahkan miliaran rupiah UANG UMMAT sudah di investasikan untuk bangun masjid, tetapi dipakai hanya 5 jam bahkan kurang per hari. Bagaimana perasaan Anda? Bagaimana guncangan fikiran Anda saat ini?

Dari pemikiran ini, sahabat muslim dengan fikiran pemberdaya, tidak boleh mengijinkan hal ini terjadi. Mubazir.

Mari tantang fikiran kita.

Setelah subuh, masjid lengang mulai pukul 7.00. Coba kita bikin program :

7.00 sd 9.00 : ruang utama masjid jadi wahana kelas hafalan quran untuk remaja yang belum kerja, masih nunggu kuliah, atau memang bisnis, entrepreneur waktunya bebas.

09.00 sd 11.30 : masjid menjadi kampus. Buka kelas non formal. Bikin silabus. Pengajar cari relawan. Masjid dipakai gratis. Berarti mahasiwanya bisa gratis. Ini solusi pendidikan.

Pada jam ini, ibu-ibu relatif sudah antar anak ke sekolah. Bisa dilakukan taklim ibu-ibu. Jika tidak, selasar masjid menjadi wahana pengajaran bikin roti, menyulam, kerajinan, bahkan kejar paket A, B, C. Apa aja... yang penting manfaat untuk ummat.

13.00 sd 15.00 : mata kuliah kedua. Untuk masjid kampus. Selasar bisa adakan kegiatan lain.

16.00 sd 17.00 : TQA dihidupkan, jika sudah banyak anak-anak yang sekolah si SDIT, bisa jadi sekolah Quran untuk jamaah dewasa.

20.00 keatas : dirosah islami, ajarkan ummat shiroh, hadist, fiqh, selesai jam 21.00. Majelis cair terbuka setiap malam.

Pertanyaannya, yang ngajar siapa, SDM nya mana...

kan ada nomor 2 diatas. Masjid banyak uang. Manajemen kokoh. Ada SDM dedicated. SDM pengajar bisa dibayar secara profesional. Dan akan sangat layak.

Intinya mari kita maksimalkan. Bahkan lebih dahsyat lagi, malam harinya bisa gunakan area tertentu untuk tempat inap musafir atau sahabat tunawisma. Kenapa nggak? Semacam shelter inap semalam.

Ambil satu space, lapisi karpet khusus, beri hijab pembatas, jadikan masjid ramah musafir, ramah orang lemah. Disitulah da'wah akan terasa sangat mendalam dihati ummat.

Anak-anak muda bisa wifi-an di masjid. Block aja konten yang negatif.

Beri space berkumpul dan bercengkarama di masjid. Masjid ramah pertemuan.

Ada area masjid untuk playground anak-anak balita. Biar akrab sama masjid, dan saat shalat fardhu dijaga baby sitter khusus. Digaji oleh masjid.

Masjid menjadi tempat bimbel, pelatihan bisnis, diskusi, meet up, yang gak boleh kan jualan di dalam masjid. Pekarangan boleh kayaknya. Banyak koperasi di komplek mesjid kok.

Intinya gunakan. Jangan begitu mau digunakan, ada info : "adik-adik remaja masjid pake acaranya di selasar ya, soalnya karpet masjidnya baru beli"

Ya Salaammm... ini terjadi... aseli... karpet dibelain.. generasi muda Islam gak dikasih tempat... YA Rabb...

******

Tulisan Saya apa adanya. Saya sudah memaksimalkan diri sesopan dan sesantun mungkin. Ini sebabnya, dalam setiap roadshow, Saya selalu minta sesi kuliah subuh ke masjid-masjid.

Alasan pertama biar ada yang jemput paksa shalat subuh. Hehehehe..

Alasan kedua, karena di masjidlah kekuatan utama ummat ini. Itupun kalo dimaksimalkan.

Karakteristik ummat Islam Indonesia ini "wait and see". Mereka tidak begitu cepat dan inisiatif membangun sesuatu. Pemalu, gak enakan, takut konflik, malas ngasih saran. Keranan masjid bocor aja gak ada yang berani ngasih masukan.

Tetapi ketika ruang-ruang kolaborasi dan sinergi dibuka, maka kekuatan akan datang. Ketika pelayanan jelas terasa, donasi akan hadir berlimpah.

Sama seperti bisnis. Maaf banget. Logika ini harus saya sampaikan.

Jika perusahaan Anda jasa layanannya baik, maka market akan berulang beli layanan Anda. Jika tidak. Market tidak repeat.

Saya merasakan sendiri, jika sebuah masjid progressnya baik, terawat, ekosistem pengelolaannya terasa, maka kita pasti mau dukung maksimal.

Saya secara pribadi berharap, tulisan ini bisa mendorong banyak DKM untuk berbenah diri. Kemudian melangkah berani membangun sistem layanan profesional pada masjid. Dan kemudian menyadarkan ummat Islam, untuk kemudian MENGINDUK ke masjid-masjid terdekat. Shalatlah fardhu di masjid, dan bangunlah ikatan sosial sesam ummat Islam.

Perlu ada keberanian membayar 1 CEO masjid senilai 15 juta rupiah per bulan, ketika memang beliau mampu membangun layanan untuk 1.000 KK muslim, dengan raihan donasi 1M per bulan, baik dari jamaah, donatur corporate ataupun amal usaha masjid. Kenapa tidak?

Jika masjid melakukan 3 fungsi diatas, maka secara cepat kita akan meningkatkan kualitas pendidikan ummat, kualitas ekonomi ummat dan kualitas sosial ummat.

Ummat Islam yang 225 juta ini akan ter urus baik melalui kehadiran masjid-masjidnya yang menjadi simpul layanan sosial.

Pada keadaan yang cukup gelap, maka Saya menyebut masjid sebagai 800.000 titik cahaya.

Teranglah wahai bangsa ku.... nyalakan cahayamu...

******