Thursday, March 28, 2019

AHMAD BIN MISKIN dan NAFSU TERSEMBUNYI

AHMAD BIN MISKIN dan NAFSU TERSEMBUNYI

Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak pernah bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah.
Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun,
sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak.
Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.

Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain.
Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.

Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku.
Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata:
“Berikan makanan ini kepada keluargamu.”

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:

“Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit.
Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan.”

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya,
dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku.
“Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu.

Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki.
Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu.

Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku,
sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku.

Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.

“Hei, Abu Muhammad...!
Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.

“Subhanallah....!”, jawabku kaget. “Dari mana datangnya?”

“Tadi ada pria datang dari Khurasan.
Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya.
Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta,” ujarnya.

"Terus?”, tanyaku keheranan.

Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu.
Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun.
Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.

Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan.
Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses.
Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu
atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.

Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis.
Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Dengan perubahan drastis nasib hidupnya ini, Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya:

Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisanku.
Sebagai bentuk syukur. Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi.
Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah,
santunan dan berbagai bentuk amal salih.
Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang.

Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku.
Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan.
Ada semacam harapan pasti dalam diri,
bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih.

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain.

Aku juga lihat, bada n mereka membesar.
Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa,
dan setiap orang memanggul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya.

Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar
seukuran kota Basrah, isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan.

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal.

Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu sisi timbangan,
sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain.
Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku..!

Tapi ternyata, perhitungan belum selesai.
Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.

Namun alangkah ruginya aku.
Ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI.
Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih.
Semua itu membuat amalku tak berharga.
Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu.

Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara, “Masihkah orang ini punya amal baik?”

“Masih...”, jawab suara lain. “Masih tersisa ini.”

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa? Aku berusaha melihatnya.

Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan
kepada wanita fakir dan anaknya.

Habis sudah harapanku...
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi-jadinya.

Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku,sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas = Rp 250 juta), dan itu tidak berguna sedikit pun.
Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku.
Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai-sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekanku.

Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku.
Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah.
Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku.
Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.

Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat.
Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata, “Orang ini selamat dari siksa neraka..!”

==============
Masih adakah terselip dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat
oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..?

🌷Jangan pernah bersandar pada amal yg tlh kau lakukan....
Sebab dari *ketertipuan* ini adalah sikap bersandar kpd amal secara berlebih. Ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, riya dan akhlak buruk kepada Allah Ta'ala

Orang yang melakukan *amal ibadah* tidak akan pernah tahu apakah amalnya *diterima atau tidak*....🍀

Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya *bernilai keikhlasan* atau tidak.....

Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba2Nya. Dia Maha Kaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.
Wallahu Ta'ala A'lam....

Teruslah mengerjakan Amal shole sebanyak-banyaknya tapi jangan merasa diri paling sholeh,sebab amal belum cukup mengantarkan kita kesurga tanpa Rahmat & Kasih sayang dari Allah S.W.T

*Barakallah fiikum.*

Astaghfirullahal azhiim..... *Ampunilah kami ya ALLAH jika di hati kami masih ada rasa bangga diri trhdp amal2 kami....*  😢😥

Aamiin Ya Rabbal Alamiin

[ Ar-Rafi’i dalam Wahyul Qalam, 2/153-160 ]

Wallahu a'lam bishawaab

Thursday, March 7, 2019

Inilah 4 Orang yang Haram Disentuh Api Neraka

Inilah 4 Orang yang Haram Disentuh Api Neraka

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?” Para sahabat berkata, Mau, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab: “(Yang Haram tersentuh api neraka adalah) orang yang Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl.” (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani).

1. Hayyin

Ialah orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Tidak labil dan gampang marah, penuh pertimbangan. Tidak mudah memaki, melaknat, serta teduh jiwanya.

2.Layyin

Adalah orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur-kata atau berbuat. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri . Tidak galak, tidak suka memarahi orang yang berbeda pendapat dengannya. Tidak suka melakukan pemaksaan pendapat. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia.

3.Qorib

Yaitu pribadi yang akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan diajak bicara. Biasanya murah senyum jika bertemu.

4.Sahl

Mereka tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan orang lain.

Inilah bingkai akhlak yang mulia, Sahabatku..

Jum'at barokah...

Saturday, December 22, 2018

BELAJAR DARI MR. SANDWiCH

Belajar dari Mr. Sandwich

Mr. Sandwich adalah seorang milyuner Thailand yang jatuh miskin saat krisis ekonomi Asia tahun 1997, lalu ia menjadi penjaja sandwich jalanan. 

Sirivat Voravetvuthikun, nama asli Mr. Sandwich, tadinya hidup super mewah sebagai pengembang properti dan pemain saham. 
Ia biasa berjudi, dan pernah menghabiskan Rp. 2 milyar dalam semalam.

Saat krisis, bank menyita seluruh propertinya, namun Sirivat masih berhutang Rp. 180 milyar.
Ia sempat depresi,
tetapi tidak bunuh diri seperti beberapa pengusaha lain yang bangkrut saat itu.
Sirivat menyalahkan dirinya karena terlalu rakus berhutang untuk bisnis.
Tetapi ia menerima kenyataan lalu memutuskan untuk berjualan sandwich di pinggir jalan dengan sebuah kardus yang dikalungkan di lehernya. 

Hari pertama, ia harus menahan malu mendengar orang bertanya:Anda kan multi milyuner, mengapa berjualan sandwich?
Ia menjual 40 sandwich hari itu. Ia pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan di pinggir jalan. 
Kini usaha sandwich-nya bernilai lebih dari Rp. 45 milyar, meluas menjadi usaha restoran dan minuman kaleng.
Ia berencana membuka warabala serta mendaftarkan bisnisnya di bursa saham.

Walaupun sangat sulit,
Mr. Sandwich menerima hidup apa adanya.
Ia berkisah, ada seorang pengusaha menembak diri gara-gara bangkrut, tetapi ia tidak meninggal justru lumpuh! 

Motto Mr. Sandwich, “Lebih baik bangkrut daripada mati.” 

Keberhasilannya ini didukung oleh kemampuannya mengelola emosi negatif (malu, menyesal, depresi, dll). 
Ia tidak berandai-andai (“Coba waktu itu saya...”), karena ini tidak akan menyelesaikan masalah.

Fokus pada kegagalan justru akan membuat seseorang bertambah gagal.
Fokuslah pada masa depan.

Kata Nelson Mandela: "Jangan nilai aku dengan kesuksesanku, tetapi dari berapa kali aku jatuh dan bangkit kembali.”

SUATU SAAT KEHIDUPAN MEMBERIKU SEBUAH KOTAK PENUH KEGELAPAN.
BUTUH BERTAHUN-TAHUN BAGIKU UNTUK MENGERTI, BAHWA INIPUN SEBUAH HADIAH (Mary Oliver, adapted)

Life once gave me a box full of darkness.
It took me years to understand that this, too, was a gift.
(Mary Oliver, adapted)

Tetap Semangat !!!

Semoga menginspirasi semua........

Wednesday, December 5, 2018

Future-Proof Mentality

Future-Proof Mentality

TERKADANG, kita hanya terpana mendengar atau membaca berita seperti:“Artificial Intelligence akan mengambil alih banyak kegiatan kita”, atau “Bekerja seumur hidup tidak berlaku lagi”. Juga: “Kebanyakan dari kita akan menjadi freelancer di tahun 2025.”

Berita-berita seperti ini seakan membuat kita helpless dan tidak tahu harus berbuat apabila tidak berpikiran positif. Namun, bisakah kita hanya termangu dan tidak berbuat apa-apa? Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa bertahan dan eksis pada masa depan?

Teknologi yang berkembang sedemikian pesat sudah mengubah cara kerja manusia. Hasil studi mengatakan, 50 persen dari pekerjaan, memang bisa diambil alih oleh mesin ataupun diefisienkan oleh teknologi. Keterampilan baru seperti data science atau penguasaan digital disadari memang sangat penting, tetapi masih sedikit jumlah manusia yang menguasainya. Sementara itu, banyak orang dengan keterampilan yang diajarkan di bangku sekolah konvensional merasa terancam menganggur. Pertanyaannya, apakah kita yang memang mendapat pendidikan gaya lama, perlu mempelajari teknologi atau ilmu-ilmu baru agar bisa mengikuti perkembangan jaman dan beradaptasi terhadap disrupsi yang sewaktu-waktu muncul? Ataukah ada jalan lain?

Pada tahun 2018 ini, laporan yang dikeluarkan LinkedIn justru menyatakan bahwa pelatihan yang paling banyak dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan adalah pelatihan softskills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi. Apa artinya? Ternyata, kekuatan manusiawilah yang dibutuhkan ketika teknologi semakin maju dengan semua alat-alat digital ini.

“Stretch"

Ditulis oleh Karie Willyerd dan Barbara Mistick, buku Stretch sedikit membuka pikiran kita tentang bagaimana menyikapi masa depan di dunia yang berubah secara kilat ini. Bila kita lihat di kamus Oxford, kata “stretch” berarti kapabilitas untuk membuat diri lebih panjang, lebar, tetapi tanpa robek atau patah. Di dalam dunia olahraga, kita tidak pernah bisa meniadakan stretching. Sekuat apapun seorang juara, ia tidak akan meninggalkan stretching. Tanpa stretching otot menjadi tegang, kaku, dan pada akhirnya tidak bertenaga.

Secara mental, kita pun harus untuk meregangkan diri kita sejauh mungkin bila kita ingin survive di masa depan yang serba tak jelas ini. Hal yang tampaknya sederhana ini tidak bisa kita lakukan bila kita tidak dengan sengaja berlatih peregangan diri. Secara mental, kita perlu meregangkan cara kita belajar, bersikap terbuka dalam berfikir, membuka pergaulan dan pengalaman, serta meregang motivasi kita.

Ada tiga prinsip yang selalu perlu kita pegang untuk peregangan mental ini. Pertama, kita perlu menyadari bahwa kitalah subyek karier dan kehidupan, bukan orang apalagi alat-alat canggih di sekeliling kita. Kita tidak bisa bertahan pada apa yang kita sudah tahu dan sudah kita pelajari. Kita perlu membuka diri terhadap pelajaran dan pengalaman-pengalaman baru. Kita perlu siap membuang kebiasaan-kebiasaan lama.

Prinsip kedua yang perlu kita pegang adalah bahwa kita tidak pernah boleh terjebak pada pilihan tunggal. Kita harus selalu mempunyai rencana B atau C dan dengan keyakinan bahwa pilihan lain ini pasti bisa diimplementasikan. Tidak ada satu solusi yang sama bagi setiap keadaan. Oleh karena itu, kita perlu menjadi manusia yang rakus akan pengalaman sehingga kesempatan lebih terbuka dan kemungkinan untuk mendapatkan solusi menjadi lebih besar.

Prinsip ketiga adalah “my network is my net worth”, yaitu individu tidak bisa lagi menyepelekan pertemanan, hubungan interpersonal, karena dari hubungan inilah kreativitas, kesamaan tujuan, dan kolaborasi dihidupkan. Kita tidak bisa lagi bermental bounce back karena berdiri di tempat yang sudah tidak in lagi. Kita perlu bounce forward. Untuk itu, kita perlu memiliki semangat ekstra yang tidak pernah boleh pudar, bahkan harus disertai kekuatan genjotan, memantul, dan menyembuhkan luka. Jauh sebelum masa ini, Steven Spielberg sudah bersikap demikian. Kegagalannya diterima di sekolah film USC tidak membuatnya kecut. Ia memulai karirnya tanpa gaji sebagai editor film di Universal Studio. Sekarang nilai film-filmnya sudah lebih dari 10 miliar dollar AS.

Pahami diri dan belajar

Be conscious of the unconscious”. Dengan rutinitas bekerja dan tuntutan berproduksi, kita sering tidak menyadari kekuatan dan kelemahan. Ungkapan Don’t be the best in the world at what you do. Be the only one in the world who does what you do, kita setujui. Namun, dalam hati kita katakan bahwa ini hanya tertuju pada mereka yang terpilih. Kita lupa bahwa kita bisa saja menjadi kunci dari suatu organisasi karena kemampuan kita yang khas, yang bisa berasal dari gabungan beberapa disiplin ilmu yang sudah terinternalisasi dalam diri kita.

Dari sini saja kita bisa terlihat menonjol karena tidak semua orang yang datang dari pendidikan yang sama mempunyai kombinasi kapasitas seperti ini. Untuk itu, dalam menghadapi masa depan yang serba gelap ini, kita setidaknya harus selalu terang dalam melihat diri sendiri, khususnya pada posisi kita dalam percaturan kompetensi yang dibutuhkan untuk menyambut kondisi baru pada masa depan.

Itulah sebabnya, hanya pembelajarlah yang akan bertahan di situasi disruptif masa depan ini. “In times of change, learners inherit the earth” kata Eric Hoffer. Kegiatan belajar tidak berhenti setelah kita mengenyam pendidikan, bahkan sampai S-3 sekalipun. Kita juga tidak bisa duduk manis mengharapkan pekerjaan datang untuk digarap dengan keterampilan yang hanya kita dapatkan dari pendidikan. Kevin Kelly menyebutkan bahwa learning how to learn adalah keterampilan yang menjadi jawaban untuk menghadapi masa depan.

Mindset inilah yang perlu kita tanamkan untuk memperkuat dan melenturkan mental kita. Tidak hanya menghafalkan rumus-rumus jitu, tetapi kita perlu berlatih untuk memetik esensi informasi dari data yang jumlahnya hampir tidak terhingga dan think of the unthinkable.

Like the world and future of work — we’re constantly evolving.

Diterbitkan di harian Kompas 17 November 2018

Monday, September 24, 2018

TEMAN BERGAUL, CERMINAN DIRI ANDA

TEMAN BERGAUL, CERMINAN DIRI ANDA

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc

Sebenarnya, sangat mudah mengetahui seperti apa cerminan diri Anda. Cukup dengan melihat bersama siapa saja Anda sering bergaul, seperti itulah cerminan diri Anda. Kenyataan ini telah dipaparkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ

Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin [1]

Kalau seorang biasa berkumpul dengan seseorang yang hobinya berjudi, maka kurang lebih dia seperti itu juga. Begitu pula sebaliknya, kalau dia biasa berkumpul dengan orang yang rajin shalat berjamaah, maka kurang lebih dia seperti itu.

Allah Azza wa Jalla menciptakan ruh dan menciptakan sifat-sifat khusus untuk ruh tersebut. Di antara sifat ruh (jiwa) adalah dia tidak mau berkumpul dan bergaul dengan selain jenisnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan hakekat ini dengan bersabda:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). (Oleh karena itu), jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah) [2]

Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap remeh. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tak salah dalam memilihnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman [3]

Sudah dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang.

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Qâsim [4] berkata, “Sifat manusia adalah cepat terpengaruh dengan teman pergaulannya". Manusia saja bisa terpengaruh bahkan dengan seekor binatang ternak.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْفَخْرُ وَالْخُيَلاَءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada orang-orang yang meninggikan suara di kalangan pengembala onta. Dan ketenangan terdapat pada pengembala kambing [5]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa mengembalakan onta akan berpengaruh akan timbulnya kesombongan dan keangkuhan dan mengembalakan kambing berpengaruh akan timbulnya sifat ketenangan. Jika dengan hewan saja, makhluk yang tidak punya berakal dan kita tidak tahu apa maksud dari suara yang dikeluarkannya, manusia saja bisa terpengaruh .… maka bagaimana pendapat Anda dengan orang yang bisa bicara dengan Anda, paham perkataan Anda, bahkan terkadang membohongi dan mengajak Anda untuk memenuhi hawa nafsunya serta memperdayai Anda dengan syahwat? Bukankan orang itu akan lebih berpengaruh? [6]

Setelah mengetahui betapa pentingnya memilih teman yang baik, di sini akan dipaparkan sifat dan karakter orang yang pantas dijadikan sebagai teman dan sahabat karib. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Berakidah Lurus
Ini menjadi syarat mutlak dalam memilih teman. Dia harus beragama Islam dan berakidah Ahlus sunnah wa -jamâ’ah. Bukankah kita semua tahu kisah kematian Abu Thalib, paman Rasulullah?

Ya, dalam keadaan terbaring dan menghadapi detik-detik kematian, ada tiga orang yang menyertainya. Mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah, dua orang terakhir ini adalah tokoh kaum kafir Quraisy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak pamannya dengan berseru, “Paman! Katakanlah lâ ilâha illallâh! Satu kalimat yang akan ku jadikan bahan pembelaan bagimu di hadapan Allah.” Dua tokoh kafir itu menimpali, “Abu Thalib! Apakah kamu membenci agama Abdul-Muththalib?”

Tanpa henti, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “menawarkan” kalimat itu dan sebaliknya mereka berdua juga terus melancarkan pengaruh. Sampai akhirnya Abu Thalib masih enggan mengucapkan lâ ilâha illallâh dan tetap memilih agama Abdul-Muththalib.[7] Ia pun mati dalam kekufuran.

Cobalah lihat buruknya pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya! Padahal Abu Thalib sudah membenarkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hatinya.

2. Bermanhaj Lurus
Ini juga menjadi sifat mutlak yang kedua. Oleh karena itu, Islam melarang berteman dengan ahlul-bid’ah dan ahlul-hawa’. Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata, “Janganlah kalian duduk-duduk bersama dengan ahlulhawa! Sesungguhnya duduk-duduk dengan mereka menimbulkan penyakit dalam hati (yaitu bid’ah ).”[8]

3. Taat Beribadah Dan Menjauhi Perbuatan Maksiat
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah, pada waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan wajah-Nya [al-Kahfi/18: 28]

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah menyatakan, “Duduklah bersama orang-orang yang mengingat Allâh, yang ber-tahlîl (mengucapkan lâ ilâha illallâh), memuji, ber-tasbiih (mengucapkan subhaanallah), bertakbir (mengucapkan Allâhu akbar) dan memohon pada-Nya di waktu pagi dan petang di antara hamba-hamba Allâh, baik mereka itu orang-orang miskin atau orang-orang kaya, baik mereka itu orang-orang kuat maupun orang-orang yang lemah.”

4. Berakhlak Terpuji Dan Bertutur Kata Baik
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya [9]

Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah berkata, “Kami dulu selalu mengikuti Qais bin ‘Ashim. Melalui dirinya, kami belajar kesabaran dan kemurahan hati sebagaimana kami belajar ilmu fikih.”[10]

5. Teman Yang Suka Menasehati Dalam Kebaikan
Teman yang baik tentu tidak senang jika kawannya sendiri terjatuh dalam perbuatan dosa. Jika Anda memiliki teman, tetapi tidak pernah menegur dan tidak memperdulikan diri Anda ketika melakukan kesalahan, maka perlu dipertanyakan landasan persahabatan yang mengikat mereka berdua. Ia bukan seorang teman?

Salah satu ciri orang yang tidak rugi sebagaimana disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla pada surat al-‘Ashr, mereka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri [11]

6. Zuhud Terhadap Dunia Dan Tidak Berambisi Mengejar Kedudukan
Teman yang baik tentu tidak akan menyibukkan saudaranya dengan hal-hal yang bersifat keduniawian, seperti sibuk membicarakan model-model handphone, mobil mewah keluaran terbaru dan barang-barang konsumtif yang menjadi incaran kaum hedonis.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersikaplah zuhud terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan bersikaplah tidak membutuhkan terhadap apa-apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu.”[12]

7. Banyak Ilmu Atau Dapat Berbagi Ilmu Dengannya
Tidak salah lagi, berteman dengan orang-orang yang punya dan mengamalkan ilmu agama akan memberi pengaruh positif yang besar pada diri kita.

8. Berpakaian Yang Islami
Teman yang baik selalu memperhatikan pakaiannya, baik dari segi syariat, kebersihan dan kerapiannya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata dalam kitab al-Hilyah, “Perhiasan yang tampak menunjukkan kecondongan hati. Orang-orang akan mengklasifikasikan dirimu hanya dengan melihat pakaianmu…Maka pakailah pakaian yang menghiasimu dan tidak menjelekkanmu, dan tidak menjadi bahan celaan dalam pembicaraan orang atau bahan ejekan orang-orang tukang cemooh.”[13]

9. Ia Selalu Menjaga Kewibawaan Dan Kehormatan Dirinya Dari Hal-Hal Yang Tidak Layak Menurut Pandangan Masyarakat
Teman yang baik selalu memelihara dirinya dari perkara-perkara tersebut, kendatipun merupakan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama, bukan maksiat. Seandainya suatu daerah menganggap bahwa main bola sodok adalah permainan tercela (sebuah aib bagi orang yang ikut bermain), maka tidak sepantasnya bergaul dengan orang-orang yang suka bermain permainan itu.

Betapa indah ucapan Imam Syâfi’i rahimahullah :

لَوْ أَنَّ اْلمَاءَ اْلبَارِدَ يَثْلَمُ مِنْ مُرُوْءَتِيْ شَيْئًا مَا شَرِبْتُ اْلمَاءَ إلاَّ حَارًّا

Seandainya air yang dingin merusak kewibawaanku (kehormatanku), maka saya tidak akan minum air kecuali yang panas saja [14]

10. Sosok Yang Tidak Banyak Bergurau Dan Meninggalkan Hal-Hal Yang Tak Bermanfaat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara ciri baiknya keislaman seseorang, dia meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya [15]

Memang kelihatannya agak sulit mendapatkan teman ideal sesuai dengan pemaparan di atas. Akan tetapi, dengan idzin Allah Azza wa Jalla kemudian dengan usaha yang kuat serta doa kepada Allah, kita akan mendapatkan orang-orang seperti itu.

Catatan Penting :
Perlu menjadi catatan, melalui keterangan di atas yang menganjurkan mencari teman yang berlatar-belakang baik, bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang-orang di sekitar kita. Bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang kafir, ahlul-bid’ah, orang-orang fasik dan orang-orang berkarakter buruk lainnya. Akan tetapi, pergaulan dengan mereka mesti dilandasi keinginan dan niat untuk mendakwahi dan memperbaiki mereka.

Dalam masalah ini, kita harus melihat dan mempertimbangkan sisi kemaslahatan (kebaikan) dan madharat (bahaya) yang akan terjadi pada diri kita dan orang orang lain di sekitar kita pada saat kita bergaul dengan mereka. Jika pergaulan kita dengan mereka mendatangkan manfaat yang besar bagi mereka, maka kita boleh bergaul dengan mereka. Begitu pula sebaliknya, jika tidak mendatangkan manfaat tetapi justru mendatangkan bahaya, maka bergaul dengan mereka menjadi perkara larangan.

Simaklah keterangan Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn rahimahullah berikut, “Jika di dalam pergaulan dengan orang-orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah baginya, maka tidak mengapa berteman dengannya. Engkau bisa undang dia ke rumahmu, kamu datang ke rumahnya atau kamu jalan-jalan bersamanya, dengan syarat tidak mengotori kehormatan dirimu dalam andangan masyarakat. Betapa banyak orang-orang fasik mendapatkan hidayah dengan berteman dengan orang-orang yang baik.”[16]

Di tengah masyarakat, jika Anda tidak memilih teman yang baik, maka tinggal pilih; Andakah yang akan mempengaruhi orang-orang untuk menjadi lebih baik atau Andakah menjadi korban pengaruh buruk lingkungan (kawan-kawan) Ingat! Tidak ada pilihan yang ketiga.

Wallâhul muwaffiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR al-Bukhâri (al-Adabul -Mufrad no. 239) dan Abu Dâwud no. 4918 (ash-Shahîhah no. 926)
[2]. HR al-Bukhâri no. 3336 dan Muslim no. 6708
[3]. HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)
[4]. Beliau adalah imam Masjid Nabawi dan hakim di Mahkamah Syariah Madinah.
[5]. HR. al-Bukhâri no. 3499 dan Muslim no. 187
[6]. Khuthuwât ila as-Sa’âdah hlm. 141
[7]. Lihat al-Bukhâri no. 1360, Muslim no. 131 dan an-Nasâ’i no.2034
[8]. Asy-Syarî’ah, Imam al-Ajurri hlm. 61 dan al-Ibânah al-Kubrâ, Imam Ibnu Baththah (2/ 438). Nukilan dari Mauqif Ahlis Sunnah wa Jjamâ’ah min Ahlil hawâ’ wal Bida’, DR. Ibrâhîm ar-Ruhaili (2/535)
[9]. HR Abu Dâwud no. 4682 dan at-Tirmidzi no.1163. (ash-Shahîhah no. 284)
[10]. Al-‘Afwu wa al-A’dzâr, Ibni ar-Raqqâm. Nukilan dari Sû’ul Khuluq, Muhammad Ibrâhîm al-Hamd hlm. 134
[11]. HR. al-Bukhâri no. 13, Muslim no. 40 , an-Nasâ’i no. 5031, at-Tirmidzi no. 2515 dan Ibnu Mâjah no. 66
[12]. HR Ibnu Mâjah no. 4102 (ash-Shahîhah no.944)
[13]. At-Ta’lîquts Tsamîn ‘ala Syarhi Ibni al’Utsaimîn li Hilyati Thalabil ‘Ilmi hlm. 107
[14]. Manâqib asy-Syâfi’I, Imam ar-Râzy hlm. 85. Nukilan Ma’âlim fi Tharîq Thalabil’ilmi hlm. 166
[15]. Hadits shahîh riwayat at-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Mâjah no. 3976
[16]. At-Ta’lîquts Tsamîn ‘ala Syarhi Ibni al’Utsaimîn li Hilyati Thalabil ‘Ilmi hlm. 24

Read more https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html

Thursday, September 20, 2018

Kadang Aku Minder Karena Miskin

Kadang aku Minder karena Miskin

Entah siapa yg menulis postingan ini..... sangat bagus untk dibaca. Monggo disimak..

Apabila kita telah berusaha dan bekerja keras.
Apabila kita telah jalani Sholat yang lima waktu.
Apabila kita sudah melakukan Sholat Dhuha, Tahajud, Dzikir, Sholawat dan DOA.
Namun tetap miskin juga.
Tak perlu minder apalagi protes pada-NYA.

Seorang anak bertanya kepada ibunya :
Ibu, mengapa kita miskin?

Dengan tenang sang ibu berkata :

Nak, hidup ini seperti jalan2 di Supermarket. Semua orang boleh memilih dan membawa barang apa saja yang ia inginkan.

Siapa yg membawa sepotong roti, maka ia harus membayar seharga sepotong roti,
Siapa yg membawa tiga potong roti, iapun harus membayar tiga potong roti.

Sementara kita tak mungkin membawa apa2. Karena tak punya uang untuk membelinya.
Dipintu kasirpun kita tak akan diperiksa, dibiarkan jalan begitu saja.

Begitu pula kelak di Hari Kiamat Nak.

Saat orang2 kaya antri menjalani pemeriksaan untuk dimintai pertanggung jawaban.

Saat orang2 kaya ditanya tentang :
Darimana hartanya mereka peroleh ?

Dan kemana hartanya mereka gunakan ?

Kita dibiarkan terus berjalan tanpa beban.
Lebih enak bukan !
Apakah engkau masih juga belum bisa menerima ?

Anakku,
Jika kita memang ditakdirkan menjadi orang miskin :

BERSABARLAH SEJENAK,
Karena setelah kematian, kemiskinan itu akan sirna.

BERPIKIRLAH POSITIF,
Barangkali, jika kita kaya belum tentu bisa lebih bertakwa.

Mungkin juga, dengan kemiskinan kita akan lebih mudah meraih SURGA-NYA.

JANGAN PERNAH MINDER,
Karena kaya dan miskin bukanlah ukuran Mulia dan Hinanya manusia.

Tetaplah berprasangka baik pada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.

Singkirkan rasa iri , cemburu & buanglah tanda tanya,

Tentang Kehendak-NYA Pembagi Nikmat.

Mungkin jatah yang buat kita masih tersimpan di SURGA.

Menunggu kita Siap Menerimanya....

Ingatlah apa yg disampaikan Hb Rasulullah.. Bahwa "sesungguhnya kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya harta benda, tapi pada hati dan ketenangan jiwa"

Barakallohu Fiikum
Mudah mudahan bermanfaat

Aamiin ya Rabbal'alamiin..

The test of the truth oleh Adiwarman A. Karim

The Test of The Truth

REPUBLIKA.CO.ID 

Oleh: Adiwarman A Karim

Ekonomi Indonesia tahun 2018 jelas jauh lebih kuat daripada tahun 1998. Namun, menjelaskan ekonomi yang lebih kuat saja tanpa menjelaskan turbulensi ekonomi global yang dihadapi ibarat membicarakan teori di ruang hampa.

Ibarat menjelaskan rumah batu pada tahun 2018 lebih kuat daripada rumah semipermanen pada tahun 1998 tanpa menjelaskan skala gempa yang terjadi pada 1998 lebih kecil daripada gempa 2018. Turbulensi ekonomi pada 1998 dipicu oleh krisis mata uang baht Thailand, sedangkan turbulensi pada 2018 dipicu oleh naiknya suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dan diawalinya perang dagang Cina dan AS.

Pertama, suku bunga Fed diperkirakan akan naik pada September dan Desember ini menjadi 3,0-3,5 persen. Untuk menjaga nilai tukar rupiah, BI diperkirakan akan menaikkan bunga menjadi 6-7 persen.

Bunga LPS dan biaya dana perbankan diperkirakan akan naik. Biaya dana meningkat, maka bunga kredit pun akan naik. Potensi kredit bermasalah akan meningkat.

Kenaikan suku bunga bank sentral AS itu diperkirakan akan terus terjadi sampai akhir tahun 2019. Suku bunga bank sentral AS sebelum kebijakan Pelonggaran Moneter sebesar 5,25 persen. Diperkirakan, setelah kenaikan bulan September dan Desember ini, bank sentral AS akan menaikkan lagi secara bertahap.

Tekanan kenaikan bunga ini bertambah akibat upaya Pemerintah AS menutupi membesarnya defisit anggarannya dengan menaikkan bunga surat berharga pemerintah. Tekanan ganda suku bunga AS ini akan melemahkan rupiah yang efeknya akan terasa selama dua bulan.

Kedua, test of the truth diperkirakan akan terjadi pada Februari-Maret 2019. Pada saat itu, kita akan mengetahui apakah keriuhan perang dagang Cina dan AS akan benar-benar terjadi atau hanya merupakan strategi kampanye menghadapi midterm election di AS yang akan berlangsung sampai November 2018.

Posisi pemerintah yang membela kepentingan domestik melawan negara-negara yang dipandang merugikan perekonomian domestik diperkirakan dapat menaikkan elektabilitas partai Republik dalam midterm election. Ini test of the truth di AS.

Bila sekadar strategi kampanye maka turbulensi nilai tukar akan mereda. Bila perang dagang benar-benar terjadi maka turbulensi semakin besar.

Pada saat itu, indikator yang biasa digunakan untuk masa normal, yaitu rasio defisit transaksi berjalan terhadap PDB, tidak akan digunakan lagi. Rasio ini dipandang tepat untuk mengukur kemampuan ekspor dan impor serta investasi dalam jangka panjang.

Yang dipandang lebih tepat untuk mengukur larinya dana-dana asing adalah rasio net international investment position terhadap PDB. Rasio ini dipandang dapat menggambarkan kepercayaan pasar terhadap suatu negara karena mengukur besarnya dana asing yang keluar dan masuk dalam jangka pendek.
Keadaan larinya dana-dana asing pada saat itu dapat menimbulkan kepanikan bila tidak diantisipasi dengan baik. Hal ini karena hampir 40 persen obligasi pemerintah dalam rupiah dipegang oleh investor asing.

Besarnya porsi kepemilikan asing ini bila dikombinasikan dengan kepanikan, dapat menjadi test of the truth di Indonesia. Larinya dana-dana asing menjelang pilpres dapat dianggap gestur diterima atau tidak diterimanya kandidat oleh pasar, atau lebih tepatnya investor asing.

Ketiga, berdamai dengan kenyataan. Sejak dahulu, Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan. Memaksakan mengurangi defisit ini dalam waktu singkat akan kontraproduktif.
Ibarat melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badan dalam waktu singkat yang malah dapat menimbulkan masalah kurang gizi. Mengurangi defisit transaksi berjalan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena ekspor, impor, dan investasi langsung adalah kegiatan-kegiatan dalam horizon jangka menengah panjang.

Dalam jangka pendek, kita harus berdamai dengan kenyataan adanya defisit transaksi berjalan. Fokusnya pada bagaimana membiayai defisit tersebut.
Selama ini, Indonesia membiayai defisit neraca berjalan dengan dana-dana jangka pendek melalui perbankan dan pasar modal. Itu sebabnya nilai tukar rupiah menjadi rentan bila dana-dana jangka pendek tidak lagi tersedia. Hal itu tergambar dari besarnya defisit transaksi berjalan sekaligus besarnya defisit net international investment position.

Dalam jangka pendek, prioritas yang mendesak adalah memperbaiki dan menjaga net international investment position karena menggambarkan kepercayaan asing terhadap kestabilan ekonomi dan politik suatu negara. Kegaduhan politik, apalagi secara ideologis, ketidakmampuan melakukan rekonsiliasi pascapemilihan, rasa keadilan yang terusik, alienasi sekelompok anak bangsa dari lainnya, tidak akan memberikan kenyamanan dan kepastian keamanan investasi bagi investor asing.

Keempat, mengelola ekspektasi pasar. Mudahnya akses informasi dan semakin banyaknya orang yang memahami ilmu ekonomi, mendorong pemerintah di banyak negara menggunakan mazhab anticipated government policy. Semakin masyarakat dapat mengantisipasi kebijakan yang akan diambil pemerintah, maka akan semakin efektif kebijakan tersebut. Pemerintah membentuk rational expectation masyarakat.

Penjelasan yang sulit diterima logika masyarakat tidak akan dipercaya masyarakat. Bila ekspektasi masyarakat pada akhir tahun 2018 nilai tukar akan mencapai 15 ribu per dolar AS, itulah yang akan terjadi. Dengan rencana kenaikan bunga bank sentral AS dan bunga surat berharga Pemerintah AS, sulit diterima logika masyarakat bahwa nilai tukar akan tetap berada di kisaran 14.300 per dolar AS.

Bila krisis Turki dan Argentina dijadikan penjelasan atas melemahnya rupiah saat ini, dengan logika yang sama dapat diperkirakan juga besarnya dampak bagi pelemahan rupiah bila India ikut terkena imbas turbulensi ekonomi global. Turki, Argentina, Afrika Selatan, India, dan Indonesia adalah the Fragile Five, yaitu negara-negara yang memiliki defisit transaksi berjalan terbesar.

Skala ekonomi India yang jauh lebih besar daripada Turki dan Argentina, tiga kali lebih besar daripada Indonesia, serta dampak pengetatan impor baja oleh AS dan posisi India sebagai penghasil baja dunia yang tiga kali lebih besar daripada Turki. Dengan logika yang sama, akan membentuk ekspektasi masyarakat akan pelemahan yang lebih besar terhadap rupiah bila India terkena efek dominonya.

Turunan dari anticipated policy adalah strategi planned crisis, yaitu krisis yang terencana. Ekspektasi masyarakat dibentuk sehingga menimbulkan saling percaya antara pemerintah dan masyarakat akan turbulensi yang akan terjadi dan langkah-langkah mitigasinya.

Lebih baik menyampaikan perkiraan nilai tukar pada 2019 akan berkisar 15.300-15.700 per dolar AS dan mendapatkan market supporting level yang diyakini masyarakat akan terjadi daripada memberikan harapan nilai tukar pada 2019 di kisaran 14.500 tetapi tidak mendapatkan market support.

Rasulullah SAW berpesan, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya.”