Friday, January 7, 2022

KALA PENGADILAN MEMVONIS POTONG TANGAN SULTAN MUHAMMAD AL FATIH

Beginilah keadilan ditegakkan sehingga Islam jaya.

KALA PENGADILAN MEMVONIS POTONG TANGAN SULTAN MUHAMMAD AL FATIH
------
Sultan Al Fatih secara nyata membuktikan kebenaran Hadist Rasulullah akan takluknya Konstantinopel di tahun 1453. Penaklukkan itu membuat gempar seantero dunia.

Sultan Al Fatih kemudian mengubah Konstantinopel menjadi pusat ibukota Utsmaniyah. Selama kepemimpinan Sultan Al Fatih, Utsmaniyah mencapai puncaknya. Kehidupan berjalan baik dan maju. Namun hasrat Sultan Al Fatih untuk terus menaklukkan tak terhenti. Bahkan dia sempat merangsek menuju kota Roma. Hal inilah yang membuat penguasa Roma, mengungsi dari singgasananya.

Meski demikian, kepemimpinan Sultan Al Fatih di dalam negeri bisa dibilang cukup adil. Hukum yang diterapkan benar-benar berwibawa. Malah dia sendiri sempat divonis bersalah hukuman potong tangan oleh Mahkamah al Isti’naf (pengadilan) di era itu.

Kasusnya bermula ketika Sultan Al Fatih berniat mendirikan sebuah masjid Jami’ di kota Islambol itu. Dia kemudian menugaskan seorang Insinyur Romawi, Epsalanti, untuk memimpin dan mengawasi proyek pembangunan Masjid itu. Epsalanti memang dikenal insinyur yang mumpuni.

 Salah satu perintah Sultan, bahwa tiang-tiang Masjid Jami’ itu mesti dibuat dari bahan marmer. Tiang-tiang itu juga harus dibuat tinggi, agar Masjid Jami’ bisa dilihat dari berbagai penjuru. Sultan Al Fatih pun menentukan batas ketinggian yang harus dicapai itu. Perintah itu langsung ditujukannya kepada Epsalanti tadi.

Akan tetapi dalam pembangunannya, Epsalanti malah memotong tiang-tiang itu. Hingga ketinggian tiang Masjid Jami’ itu tak seperti yang dipesan oleh Sultan. Epsalanti bersikap demikian karena suatu sebab. Ketika Sultan mengetahui hal itu, dia marah besar. Epsalanti dianggap melakukan pencurian karena mengurangi ketinggian tiang-tiang tadi. Sultan Al Fatih pun memerintahkan agar tangan Epsalanti dipotong.

Ternyata keputusan itu langsung dieksekusi. Tangan Epsalanti dipotong. Pasalnya tiang-tiang yang sudah dibawa dari tempat yang jauh, menjadi tak berguna sama sekali. Perintah potong tangan itu dikeluarkan Sultan Al Fatih dalam keadaan emosi dan marah.

 
Tapi nasi sudah jadi bubur. Tangan Epsalanti sudah terpotong. Sultan Al Fatih pun sempat menyesali keputusannya itu. Karena dianggapnya perintah itu terlalu berlebihan.

Namun di mata Epsalanti, tindakan Sultan itu sudah kelewatan. Itu sudah dianggap sebuah kedzaliman, begitulah pandangan Epsalanti. Alhasil dirinya pun mengadukan Sultan Al Fatih kepada Mahkamah Al Isti’naf itu.

Di Mahkamah itu ada seorang Qadhi yang dikenal adil. Namanya Syaikh Shari Khidr Jalabi. Dialah yang kemudian mengadili kasus ini. Qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi kemudian mengutus orang untuk memanggil Sultan Al Fatih untuk datang ke pengadilan. Karena, walau sebagai Sultan, Al Fatih mendapat aduan dari seorang rakyatnya yang menuntut keadilan.
Mendapat panggilan dari Qadhi, Sultan tak ragu menghadiri pengadilan itu. Ketika hari persidangan, Sultan Al Fatih pun masuk ke ruangan sidang. Sultan Al Fatih kemudian duduk di barisan tempat duduk yang disediakan. Tapi sikap Sultan itu kemudian dihardik oleh qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi.

“Anda tidak boleh duduk, Tuan!” hardik sang Qadhi, tanpa ragu. Sultan Al Fatih terkejut. Dia terdiam.

“Engkau harus tetap berdiri di samping lawan engkau itu,” tegas Qadhi lagi.

Sultan Al Fatih pun menurut. Sosok yang begitu disegani oleh belantara Eropa, diam seribu bahasa didepan sang Qadhi. Karena Al Fatih sangat mematuhi hukum Islam.

Kemudian Sultan Al Fatih berdiri berjejer dengan Epsalanti itu. Sang Insiyur itu kemudian membeberkan kedzaliman yang telah diterimanya itu. Ketika giliran Sultan berbicara, Al Fatih mendukung apa yang telah dijelaskan oleh sang Insiyur. Dia tak membantahnya.

Setelah Sultan Al Fatih selesai bicara, ia pun diminta berdiri. Qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi berpikir sejenak. Tidak lama kemudian Qadhi itu mengeluarkan vonisnya untuk Sultan Al Fatih.
“Berdasarkan aturan-aturan Syariat, maka tangan engkau juga harus dipotong sebagai bentuk qishash, wahai Sultan!”

Yang terkejut justru sang insinyur ketika mendengarkan putusan itu. Dia tak menyangka, seorang Sultan Islam, yang menunjuk Qadhi itu sebagai hakim, malah dikenakan hukuman potong tangan oleh qadhi itu sendiri.

Tubuh Epsalanti sampai bergetar mendengar putusan qadhi itu, atas kasus yang dilaporkannya. Sultan Al Fatih hanya terdiam sembari berdoa. Epsalanti sama sekali tak menyangka vonis seperti itu yang bakal dikeluarkan oleh qadhi. Padahal niat awal Epsalanti adalah dia menuntut ganti rugi karena tangannya telah dipotong.

Epsalanti kemudian bangkit. Dengan suara gemetar, tercekak dan terbata-bata, dia malah memutuskan untuk menarik kasusnya itu.

“Saya tak menyangka hasilnya seperti ini, saya memutuskan untuk menarik pengaduan saya terhadap Sultan,” tutur Epsalanti terbata-bata. Padahal Sultan Al Fatih sudah sangat menerima putusan itu. Karena hal itu merupakan konsekwensi yang harus ditegakkan bagi seorang muslim.

Epsalanti pun berujar lagi bahwa sesungguhnya dia berharap adanya ganti rugi belaka atas kasus yang dialaminya. Karena dia beralasan memotong tangan Sultan Al Fatih sama sekali tak memberi manfaat buat dirinya.

Karena permintaan Epsalanti yang seperti itu, Qadhi pun memutuskan agar Sultan Al Fatih membayarkan 10 keping Dinar kepada Epsalanti, sebagai ganti rugi atas memotong tangannya. 10 Dinar itu mesti dibayarkan Sultan Al Fatih setiap bulan kepada Epsalanti. Begitulah hukuman itu dijatuhkan.

Namun Sultan Al Fatih memutuskan untuk membayar 20 Dinar setiap hari sepanjang hidupnya kepada sang insinyur itu. Hal itu dilakukan Sultan Al Fatih sebagai hadiah atas ungkapan kegembiraannya karena lolos dari hukuman qishash dan bentuk penyelesaiannya atas kasus itu.

Begitulah sistem peradilan Islam. Kisah keadilan seperti ini tentu sangat muskyl ditemui dalam sistem hukum yang tak merujuk pada Al Quran dan As Sunnah dalam Negara Islam.

Sumber: Kitab Rawai’ min at-Tarikh al-‘Usmani.

Wednesday, December 29, 2021

Percakapan Pasien RS dengan Jururawat Pria di suatu RS

*KISAH NYATA,*


*Percakapan Pasien RS dengan Jururawat Pria di suatu RS*


*BUAT PERINGATAN DIRI SAYA DAN SAHABAT-SAHABAT SEMUA*


*Pasien:* 

*"Abang Jururawat, seneng ya kerja di Rumah Sakit ? Sdh lama ya kerja di sini ?"*     

 

*Jururawat:"Lumayanlah, ada suka-dukanya. Tapi, selama 5 th kerja di sini, banyak dpt pengalaman yg sangat berkesan, yg orang luar sana tidak akan mengetahuinya".* 

        

*Pasien:* 

*"Apa yg menyenangkan? Perawat-perawatnya (Suster-susternya) cantik-cantik ya?" *       

 

*Jururawat:* 

*"Bukan. Itu biasa saja. Ada lagi yg lebih mengesankan".*       

 

*Pasien:* 

*"Wah, apa itu?"*   

 

*Jururawat:*

*"Di sini setiap hari saya melihat pasien meninggal dunia. Kerja saya ngurusi kencing & kotoran mereka, bersihkan mereka sampai ke urusan jenazah."*

 

*"Apa yg saya lihat sepanjang saya bekerja di RS ini, betapa ramainya di antara mereka, baik yg sdh meninggal...maupun sebelum meninggal, yaitu meminta-minta apakah ada dari keluarga ahli waris atau jururawat yg bawa kitab al-Qur'an ?"*

 

*"Ada yg tidak bisa baca al-Qur'an, ada yg nyuruh kami membacakannya. Ada juga yg tidak sempat sentuh al-Qur'an, tidak sempat membaca al-Qur'an namun Allah telah mengambil nyawanya."*


*"Saat dibacakan al-Qur'an, mereka berlinangan air mata"*.         


*"Saya lihat betapa orang-orang yg berada di saat2 akhir kehidupannya, sebagian besar ingin sekali menyentuh al-Qur'an. Kalau bisa, maunya mati dg memeluk al-Qur'an. Pengalaman-pengalaman yg saya lalui di sini, membuat hati ini insaf, sadar, tentang satu hal yg sangat penting."*    

 

*Pasien:* 

*"Hmm, apa itu?"*    

 

*Jururawat:* 

*"Apa yg kita biasa pegang ketika kita masih sehat, apa yg biasa kita baca dan belai ketika masih hidup......itu jualah yg kita akan dapat pegang dan sentuh di akhir hayat kita."* 

 

*"Jika kita selalu pegang handphone di setiap waktu ...sholat tidak tepat waktu ... sepanjang waktu memegang HP dan sibuk dg gadget..... maka mungkin pula di akhir hayat kita nanti...itu pula yg akan kita kerjakan*. 

 

*Dapatkah kita sentuh dan pegang al-Qur'an? Sedangkan tangan kita tidak biasa memegang al-Qur"an, sehari sekali pun susah kita membuka al-Qur'an, apalagi membaca atau mentadabburinya...Yaa..Allah... Yaa Rahman ... Yaa Rahim..*

 

*Sungguh, kita sdh tidak akan perlu handphone atau gadget lagi di akhir nyawa kita.....kita sangat memerlukan al-Qur'an.... Barulah kita sadar saat itu, bhw waktu yg kita miliki selama ini sdh terbuang sia-sia begitu saja......Yaa Allah, ampunilah aku*..."       

 

*Pasien   (meneteskan air mata..) dan kmd berkata:* 

*"Mas Jururawat tolong bacakan saya al-Qur'an...saya tidak bisa membaca al-Qur'an..saya buta tajwid..."*

 

*Jururawat itu tersenyum, kmd dikeluarkannya al-Qur'an mini dari dlm saku / kantong bajunya, lalu dia membacakannya kepada pasien tsb*     

 

*✔Hampir 9 dari 10 pasien yg beragama Islam, yg berada di Rumah Sakit itu kebanyakannya memperlihatkan wajah penuh kesedihan serta menyesal, menyesal & menyesal tidak mengambil kesempatan untuk membaca al Qur'an di saat sehat & lapang ?*       


*✔Wajah-wajah ketakutan & seram, bila sdh ambang maut, bila maut sdh mendekati ? Naudzubillahi minzalik*  

 

*Saya sbg penulis KISAH ini tersadar pula akan waktu yg sdh tersia-siakan. Juga bagi pembaca yg membaca postingan ini, belum terlambat dan pintu taubat masih terbuka luas untuk kita memuliakannya (al Qur'an, Hadist, dan waktu)... Insyaa Allah*


*Yg singkat itu, "WAKTU"*


*Yg menipu itu, "DUNIA"*


*Yg dekat itu, "KEMATIAN"*


*Yg besar itu, "HAWA NAFSU"*


*Yg berat itu, "AMANAH"*


*Yg sulit itu, "IKHLAS"*


*Yang mudah itu, "BERBUAT DOSA"*


*Yg susah itu, "SABAR"*


*Yg senantiasa lupa itu, "BERSYUKUR"*


*Yg membakar amal itu, "MENGUMPAT"*


*Yg membawa ke neraka itu "LIDAH"*


*Yg berharga itu, "IMAN"*


*Yg menentramkan hati itu, "selalu mengingat Allah, berzikir, serta teman2 sejati yg senantiasa mengingatkan kita"*


*Yg ditunggu Allah Subhana Wa Ta'ala itu "TAUBAT"*


*Semoga bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi..*


*Silahkan share sebanyak2nya, sebagai pengingat dan nasehat diri...*

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

By R & R


Friday, December 3, 2021

MAMAKU PEREMPUAN LUAR BIASA..

MAMAKU PEREMPUAN LUAR BIASA...

(Kisah nyata 😭😭😭)


Namaku Chicha Koeswoyo.
Aku lahir dari orangtua yang berbeda agama. Papaku, *Nomo Koeswoyo*, beragama Islam dan masih keturunan *Sunan Drajat*, salah seorang *Wali Songo*. Seorang wali yang sangat terkenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Jawa Timur. 

Mamaku seorang perempuan Kristen yang taat. Beliau masih berdarah Belanda. Dan banyak saudara-saudara dari pihak Mama yang menjadi pendeta. 
Walaupun berbeda agama, Papa dan Mama tidak pernah mempunyai masalah. Keduanya hidup berbahagia dan saling menghargai kepercayaan masing-masing.

Sejak kecil aku dididik secara Kristen. 
Seperti anak-anak Kristen lainnya, aku diikutsertakan di sekolah Minggu. Setiap kali pergi untuk melaksanakan kebaktian, Papaku sering mengantarkan kami ke gereja. Intinya, kami adalah keluarga yang sangat berbahagia. Baik hari Natal ataupun Hari Lebaran, rumah kami selalu meriah. Semua bersuka-cita merayakan kedua hari besar tersebut.

Usiaku sudah menginjak 16 tahun dan duduk di bangku kelas 1, SMA Tarakanita. Rumah tempat tinggal kami sangat berdekatan dengan masjid. 
Terus terang, aku sangat terganggu dengan suara azan, apalagi di saat magrib. Suara azan dari Toa masjid begitu keras dan sangat memekakkan telinga. Belum lagi suara azan dari televisi. 
Setiap kali azan magrib berkumandang, aku matikan televisi karena di semua chanel, semua stasiun menayangkan azan yang sama.

Di suatu magrib terjadilah sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Ketika itu azan magrib muncul di layar TV. Seperti biasa aku mencari remote control untuk mematikan televisi. Namun hari itu aku tidak bisa menemukannya. 
Dengan hati kesal kutelusuri sela-sela sofa, kuangkat semua bantal, kuperiksa kolong meja tapi alat pengontrol jarak jauh itu tidak juga terlihat. Karena putus asa, aku terduduk di sofa lalu duduk menatap layar TV yang sedang menayangkan azan dengan teks terjemahannya. 
Lalu apa yang terjadi?

Sekonyong-konyong hatiku menjadi teduh. Baris demi baris terjemahan azan tersebut terus kubaca dan entah karena apa, hati ini semakin sejuk. 
Aku seperti orang terhipnotis dan tubuh ini terasa sangat ringan dengan perasaan yang semakin lama semakin nyaman. Di dalam benak ini sekan-akan ada suara yang berkata padaku, 
_“Sampai kapan kau mau mendengar panggilanKu, Chicha. Sudah berapa tahun Aku memanggilmu, masihkah kau akan terus berpaling dariKu?”_

Lalu aku menangis. Entah karena sedih, marah, bingung, galau, hampa, takut atau mungkin juga semua perasaan itu ada dan berbaur menjadi satu. 
Aku terus menangis tanpa tau harus melakukan apa.

Esok harinya, aku curhat pada adikku. Kami berdua memang sangat dekat satu sama lain. 
Adikku ini ternyata sangat berempati atas apa yang menimpaku. Dia tidak mengeluarkan satupun kata yang menyalahkan kakaknya bahkan dia berkata, _“Aku akan support apapun kalau itu memang membahagiakan Kakak.”_

_“Terima kasih, Dik. Sekarang ikut, Kakak, yuk?”_

_“Ikut ke mana?”_ tanyanya.

Dengan diam-diam kami berdua pergi ke sebuah toko muslim yang letaknya tidak jauh dari rumah. 
Di sana kami membeli mukena, Kitab Suci Al’Quran dengan tafsir dan terjemahannya. 
Tidak lupa sebuah buku yang berjudul ‘Tuntunan Sholat’. 

Sesampainya di rumah, kami berdua mempelajari cara berwudhu, melakukan sholat dan menghafal bacaannya. 
Setelah dirasa mampu, kami berdua mencoba mendirikan sholat bersama-sama. 
Perbuatan kami tentu saja di luar pengetahuan kedua orangtua. 
Pernah suatu kali Mama mengetuk pintu dan sangat marah karena kami mengunci kamar dari dalam. 
Begitu mendengar teriakan Mama, secepat kilat kami membuka mukena dan menyembunyikannya di laci paling atas.

_“Dengar, ya, Nduk! Kalian nggak boleh mengunci pintu kamar. Selama kamu tinggal di rumah Mama, kalian ikut peraturan Mama,”_ bentak ibuku dengan galak.

_“Iya, Ma,”_ sahutku dengan suara perlahan karena tak ingin ribut dengan Mama apalagi kami sangat perlu menjaga kerahasiaan ini.

Waktu terus berlalu. 
Bulan Ramadhan pun datang. 
Tentu saja di bulan suci seperti ini, kami juga ingin melakukan puasa seperti muslim lainnya. 
Berpuasa dari waktu subuh sampai magrib sebetulnya sama sekali tidak sulit. 
Masalah yang lebih pelik datang setiap kali Mama mengajak makan bersama. Mama tentunya curiga karena kami berdua selalu menolak.

_“Aku udah makan di sekolah tadi, Ma,”_ kataku dengan suara bergetar.

Mama menatap aku dengan tajam. Sepertinya dia telah mencium ada yang tak beres dengan kami berdua. Ketegangan pun terjadi. Buatku itu adalah saat yang sangat menegangkan sampai akhirnya Mama menghela napas panjang dan berkata, _“Baiklah kalau begitu.”_

Bulan penuh rahmat berlalu. 
Suara takbir yang begitu merdu di telinga berkumandang. 
Idul Fitri adalah hari kemenangan, dan kami tidak mau kehilangan momen untuk sholat bersama Jemaah yang lain. 
Aku dan Adikku berdiskusi menyusun strategi bagaimana cara pergi ke masjid tanpa sepengetahuan orang rumah. 

Esok harinya, sekitar jam 6.30 pagi, kami mengendap-endap membuka membuka pintu depan. 
Setelah itu membuka pagar sampai terbuka lebar. Kami berdua mendorong mobil dalam keadaan mesin mati supaya tidak terdengar oleh orangtua kami yang masih tenggelam dalam nyenyak. 
Pada satpam yang menjaga rumah, aku berpesan, _“Kalau ada yang tanya, bilang kami mau latihan basket, ya, Pak?”_

_“Siap, Non!”_ kata Sang Satpam entah curiga atau tidak.

Setelah mobil dirasa cukup jauh, aku menghidupkan mobil dan meluncur langsung ke masjid terdekat. 
Sesampainya di sana, banyak tetangga-tetangga menatap kami dengan paras keheranan. Mereka tentu saja bingung karena semua orang tau bahwa aku beragama Kristen. Bahkan barisan ibu-ibu yang duduk tepat di depan kami langsung mendekatkan kepalanya dan berbisik kepada kami.

_“Cha, ngapain kamu di sini? Sholat Idul Fitri itu buat kaum muslim. Kamu kan Kristen?”_

Aku cuma tersenyum dan tidak berusaha menjawab. 
Sementara ibu-ibu lain terus berkasak-kusuk sambil menengok bahkan ada yang menunjuk-nunjuk ke arah kami.  
Kami bergeming dan tidak mempedulikan sikap orang yang merasa aneh dengan kehadiran kami. 
Dan akhirnya sholat Idul Fitri dapat kami ikuti dengan sukses. 
Dengan hati berbunga-bunga kami kembali pulang. 
Alhamdulillah...

Baru saja sampai di depan pagar, di depan rumah telah berdiri Papa dan Mama. 
Mereka membantu membuka pagar, membuka pintu mobil lalu Mama langsung menlontarkan pertanyaan tanpa basi-basi.

_“Dari mana kalian?”_ tanya Mama dengan suara keras.

_“Abis latihan basket, Ma,”_ sahutku. 
Kami berdua memang telah berganti pakaian dan semua mukena dan sajadah sudah dimasukkan ke dalam tas dengan rapih.

_“Kalian jangan berbohong, ya? Mama menangkap ada yang aneh dengan kalian berdua,”_ kata Mama lagi.

Aku menatap Mama yang nampak sangat kesal. 
Sementara Papa cuma cengar-cengir bahkan mengedipkan sebelah matanya pada kami. 

_“Kami latihan basket, Ma. Masa Mama gak percaya sama anak sendiri?”_ kata adikku.

Rupanya omongan Adik membuat hati Mama tersentuh juga. Seperti sebelumnya, dia menatap kami bergantian dengan tajam, menghela napas panjang lalu berkata dengan suara halus, _“Hmm…baiklah kalau begitu.”_

_“Yuk, kita ke atas, Ma,”_ kata Papa sambil menggamit tangan Mama untuk mengajaknya pergi dari situ. Sebelum masuk ke dalam rumah, Papa sempat-sempatnya menengok ke arah kami dan mengedipkan sebelah matanya sekali lagi sambil tersenyum dengan paras jail...

Aku masih termangu-mangu di depan rumah. Kecurigaan Mama mulai menghantui perasaanku. _‘Sampai berapa lama aku bisa mempertahankan rahasia ini?’_ tanyaku dalam hati. 
_‘Daripada Mama yang menemukan rahasia ini, bukankah beliau lebih baik mengetahui semuanya langsung dari anaknya sendiri?’_

_“Mama!”_ Aku memanggil dan mengejar Mama yag sudah berada di dalam rumah.
Mama dan Papa membalikkan badan dan menunggu apa yang akan disampaikan anaknya. 
Kembali kediaman berulang. Sesaat aku gentar hendak menyampaikan berita ini.

_“Ya, Cha? Kamu mau ngomong apa?”_ tanya Papa.

Keheningan kembali mendominasi. 
Bibirku bergetar. 
Semua kata dalam tenggorokan telah berkumpul dan berdesak-desakan untuk keluar dari bibir. 
Aku masih diselimuti kebimbangan. 
Ngomong, jangan, ngomong, jangan, ngomong, jangan….

_“Chicha masuk Islam, Ma. Chica masuk Islam, Papa. Chicha minta maaf tapi Chicha mendapat hidayah dan tidak bisa menolak panggilan itu...”_ Akhirnya tanpa dikendalikan oleh otak semua kata terlontar begitu saja. 

_"Alhamdulillah...!”_ Di luar dugaan Papa berteriak kegirangan mendengar berita tersebut. 
Tidak cukup melampiaskan kegembiraannya dengan cara itu, beliau langsung berlutut di lantai dan melakukan sujud syukur atas hidayah yang didapat anaknya. 
Melihat sikap Papa, aku tentu saja menjadi lebih tabah. 
Dengan penuh harap, aku memandang Mama, berharap mendapat dukungan yang sama.

Mama menatapku dengan pandangan tidak percaya. 
Matanya melotot, dadanya kembang kempis dan bibirnya bergetar hebat.

_“Hueeeeek…!!!!”_ 
Tanpa diduga tiba-tiba Mama muntah darah dan tubuhnya sempoyongan, untungnya Papa dengan sigap menangkap tubuh Mama dan mendudukkannya di sofa.

_“Mamaaaaaa….!!!”_ 
Aku menangis sejadi-jadinya. 
Bagaimana tidak sedih? 
Tidak ada kesedihan yang paling menyakitkan kecuali mengetahui bahwa kita telah menyakiti hati ibu kita sendiri.

*******

Papa mengurus Mama dengan telaten. 
Perlahan-lahan kesehatan Mama berangsur-angsur membaik. 
Tapi sejak peristiwa itu, Mama tidak mau lagi berbicara denganku. Selama ini, Mama dan aku hubungannya sangat dekat. 
Melihat Mama bersikap seperti itu, aku sedih sekali. 
Berkali-kali aku mengajak Mama berbicara tapi beliau tidak menyahut sehingga aku memutuskan untuk mengalah dan membiarkannya sendiri. 
Itu adalah salah satu periode hidup yang paling menyiksa buatku. 
Tapi mau bagaimana lagi? 
Aku hanya bisa pasrah dan menunggu perubahan sikap Mama.

Bulan demi bulan berlalu. kami masih belum berkomunikasi satu sama lain. Mama sering meninggalkan rumah. Entah kemana. Aku nggak berani bertanya, takut malahan membuatnya lebih marah. 
Sudah 3 bulan aku tidak berbicara dengan Mama. 
Hari-hari yang kuhadapi sering aku isi dengan mengurung diri di kamar sambil membaca sejarah para Nabi. Terutama kisah-kisah Rasullulah yang membuatku semakin mantap menjadi seorang muslim. 

_BRAAkK..!!!_
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan suara keras. 
Aku menengok dan terlihat Mama masuk dengan membawa sebuah kotak yang cukup besar. 
Parasnya dingin dan sulit ditebak apa yang ada di pikirannya.

_“Nduk, Mama mau tanya. Kamu harus menjawab dengan tegas!”_ katanya.

_“Iya, Ma,”_ sahutku dengan suara hampir tak terdengar. 
Dalam hati aku bersorak karena akhirnya Mama mau berbicara lagi.

_“Kamu sudah mantap mau masuk islam?”_ tanyanya lagi tanpa basa-basi.

_“Mantap, Ma. Chicha rasa ini benar-benar panggilan Allah,”_ jawabku pelan tapi tegas.

_“Okay, kalau begitu,”_ kata Mama lalu dia mengangsurkan kotak yang dibawanya ke tanganku.

Dengan terheran-heran, aku menerima kotak tersebut, _“Apa ini, Ma?”_

_“Nggak usah banyak tanya. Kamu buka aja kotak itu sekarang juga.”_

Dengan gerak perlahan, aku membuka kotak tersebut. 
Masya Allah! 
Ternyata isinya adalah Kitab Suci Al Quran, mukena, kerudung, buku-buku agama Islam yang lumayan tebalnya. 

Aku menatap Mama dengan pandangan bertanya.
Mama membalas menatapku dengan tajam, 
_“Kalau kamu ingin menjadi Islam, be a good one..!”_

Mendengar perkatannya, aku menangis dan menghambur ke pelukan Mama. 
Mama memeluk aku seerat yang dia bisa. 
Tangisku makin menjadi-jadi dan membasahi baju Mama di bagian dada.

Setelah tangis mereda, Mama bertanya lagi, _“Kamu sudah resmi masuk islam?”_

_“Chicha udah ngucapin dua kalimat syahadat, Ma.”_

_“Disaksikan oleh ustad atau Kyai?”_

_“Nggak sih, Ma. Chicha ngucapin sendiri aja.”_

_“Berarti kamu belum resmi masuk Islam. Besok Mama akan antar kamu ke Mesjid Al Azhar di Jalan Sisingamangaraja. Mama udah bikin janji dengan Kyai di sana untuk mengislamkan kamu.”_

_“Huhuhuhuhuhu…”_ Aku nggak sanggup untuk mengatakan apa-apa kecuali memeluk Mama lagi sambari menangis menggerung-gerung. 
Setelah perlakuan Mama yang mendiamkan aku selama tiga bulan, siapa sangka Mama akan bersikap begini akhirnya. Mamaku memang luar biasa.

Esok harinya, di *Masjid Al Azhar*, aku resmi memeluk agama Islam di usia *16 tahun*. 

Ah, bahagianya sulit dilukiskan...

Setelah ritual mengucapkan dua kalimat syahadat berakhir, aku menarik Mama untuk menuju ke mobil dan kembali pulang ke rumah.

_“Eh, tunggu dulu, Nduk. Sekarang kamu harus ikut Mama ke belakang.”_

_“Ke belakang mana, Ma?”_ tanyaku keheranan.

_"Ke SMA Al Azhar. Kamu harus pindah sekolah ke sana.”_

_“Loh? Kenapa harus pindah? Chicha udah betah sekolah di Tarakanita. Semua teman-teman Chicha ada di sana. Chicha nggak mau pindah.”_

_“Nduk! Denger kata Mama. Kalau kamu serius pindah ke Islam, kamu nggak boleh setengah-setengah.”_

_“Maksudnya gimana, Ma?”_

_“Tarakanita itu sekolah Kristen. Kalau kamu pindah Islam maka kamu harus bersekolah di sekolah Islam. Sekali lagi Mama bilang, kamu nggak boleh setengah-setengah. Ini peristiwa besar dan pilihan hidup kamu. Mama mau kamu total dalam menyikapi pilihan kamu sendiri.”_

Lagi-lagi sikap Mama membuatku kagum bukan main. 
Sepertinya dia telah mempersiapkan semuanya dengan baik dan terencana.

_“Mama kok bisa-bisanya punya pemikiran seperti ini?”_ tanyaku penasaran.

Mama menghela napas panjang lagi lau berucap, _“Sejak kamu mengatakan mau masuk Islam, Mama sering berkonsultasi dengan teman Mama yang muslim. Mama minta pendapat dia dan dia banyak menasihati Mama soal ini.”_

_“Oh, pantes Mama sering pergi belakangan ini. Biasanya kan Mama selalu di rumah.”_

_“Iya, Cha. Mama butuh support dan teman Mama itu sangat membantu sehingga membuat Mama jauh lebih tenang.”_

_“Kalau boleh tau, teman Mama siapa namanya?”_ tanyaku lagi.

_“Namanya *Doktor Zakiah Darajat*.”_

_“Itu temen Mama? Wah dia orang hebat di kalangan Islam, Ma.”_

_“Betul. Nama belakangnya mirip dengan *Sunan Drajat*, leluhur Papa kamu. Jadi setelah kamu resmi masuk Islam, rasanya kamu juga perlu berziarah ke makam beliau.”_

Sekali lagi aku memeluk Mamaku. 
Jadi selama tiga bulan ini, dia mendiamkan anaknya bukan karena hendak mengacuhkan tapi beliau tidak tau harus bersikap bagaimana. 
Beliau hendak mencari penerangan pada apa yang terjadi pada anaknya. 
Sudah pastilah Mama kebingungan tapi akhirnya setelah mendapat pencerahan dari *Doktor Zakiah Darajat*, 

Mama sekarang malah mendukung pilihan anaknya. Pilihan anak yang berbeda dengan keyakinannya. 

Ah Mamaku memang luar biasa...

Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya aku hendak mengajak Mama untuk turut memeluk agama Islam. 
Tapi aku mengurungkan niat itu. 
Apa yang terjadi padaku pastilah sudah berat buat Mama. 
Bagaimana mungkin aku mampu mempengaruhinya sementara saudara-saudaranya banyak yang menjadi pendeta. Beban Mama sudah sangat berat. 
Semua butuh waktu. 
Kalau memang Allah SWT mengizinkan, apa yang untuk manusia pikir tidak mungkin pastinya akan terjadi jika Allah berkehendak. 

Waktu berjalan tanpa pernah berhenti. 
Dengan hati tenteram, aku menjalani hidup sebagai perempuan muslim. 

Tahun 2002, Mama meninggal dunia. 
Tiga bulan sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau juga *menjadi mualaf* dan *memeluk agama Islam*. 

Alhamdulillah..! 
Terima kasih, ya, Allah..!

Ah Mamaku memang luar biasa...!

*******
Persembahan buat semua perempuan hebat di Indonesia..!

Copas dari WAG.

Tuesday, November 9, 2021

MENYINDIR DIRI SENDIRI


MENYINDIR DIRI SENDIRI
_Oleh : Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)_ 

Tidak tua
Tidak muda
Tidak laki-laki
Tidak perempuan
Kalau sudah taruh HP, ditinggal sebentar dilihat lagi, ditutup sebentar dibuka lagi..... 

Semua sayang banget sama yang namanya HP,
Bepergian ngantongi HP,
Kumpul-kumpul sama teman bawa tas isinya HP,
Sehari HP bisa keluar-masuk dari tas atau saku kemeja lebih dari lima puluh kali .

Habis mandi, lihat HP
Habis nyapu, lihat HP
Habis masak, lihat HP
Habis nyuci, lihat HP
Habis makan, lihat HP
Habis kedatangan tamu, lihat HP
Habis bangun tidur, lihat HP
Tengah malam terjaga, lihat HP

Pokoknya asal habis apa saja, yang dilihat HP...
Karena setianya sama HP, pulsa tinggal sedikit cepat-cepat dibelikan

Low-batt satu strip bingung cari colokan listrik ,

Sinyalnya lemah bingung cari tempat,
Apa lagi kalau pas low-batt listrik mati lagi, PLN yang diumpat .. .. .. 

Dipanggil suami/ istri pura2 tidak dengar...
HPnya bunyi langsung lari mencari di mana
HP ditaruhnya tadi.

Pokoknya kalau sudah selesai acara apa saja yang dicari HP...

Kalau perempuan, namanya Nokia Binti Samsung

Kalau laki-laki, namanya Sony Bin Lenovo.

Semoga saya tidak ketularan seperti itu.

Yang merasa seperti itu jangan senyam-senyum sendiri...
Nanti suami/ istri kita tidak paham dengan sikap kita..```

*DO'A UNTUK HP*

```YA ALLAH, ampuni dosa2 saya yang mempunyai HP ini YA ALLAH

Karena saya :                                                
1. Lebih banyak NGISI PULSA daripada SEDEKAH ...
 
2. Lebih banyak baca
SMS/ WA/ FB/ BB daripada baca Al Quran

3. Lebih sering update status daripada update amal sholih kepadamu YA ALLAH...

4. Lebih sering buka BLUETOOTH daripada BERLUTUT SUJUD... 

5. Sering TELPON tapi jarang SILATURAHIM.... 

6. Isi pulsa 10.000 tidak puas, tapi isi KOTAK AMAL 10.000 aja merasa kebanyakan banget.... 

7. Kalau dengar HP bunyi langsung buru-buru angkat sama cengar-cengir, tapi pas suara ADZAN dikumandangkan malah
santai INTERNETAN..

Ya ALLAH.. semoga.. Allah mengampuni dosa-dosa saya yang punya HP ini...

Dan semoga HP yang saya punya ini semoga bermanfaat buat sarana IBADAH kepada-Mu YA ALLAH...

Dan semoga Teman-teman saya yang seperti saya juga ALLAH AMPUNI dosa-dosanya YA, YA ALLAH... 

Aamiin..

Edisi bukan nyindir, tapi mengingatkan diriku sendiri

terima kasih dan mohon maaf bila ada yang tersinggung.. saya juga sama tersinggung, hanya untuk renungan lembut tapi nyata...````
 
*_Semoga bermanfaat._*
------
*Abdullah Gymnastiar*
🤴💎🤴💎🤴💎🤴💎

*Ayo bagikan...🤴💎*
*Jangan tersinggung yaahh 🤣🤣.....*

Friday, November 5, 2021

BELAJAR SEUMUR HIDUP

BELAJAR SEUMUR HIDUP 

Eileen Rachman & Emilia Jakob 

Seorang wirausaha berhasil membangun kerajaan bisnisnya dari nol. Ia mempelajari sendiri semua keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkannya dalam berbisnis. Mulai dari berhubungan dengan supplier, pelanggan, sampai pemerintahan. 

Ia selalu menemukan produk yang tidak terpikirkan oleh orang lain, dan berhasil menjualnya ke pasar. Di bawah pimpinannya, perusahaan maju pesat mencengangkan banyak pihak. Namun, sekarang, ia sudah memasuki usia lanjut dan harus mendelegasikan kepemimpinannya.  Ia sangat berharap bahwa para bawahan dapat mewarisi semangat belajar dan berinovasinya. Ia bahkan menggambarkan keinginannya ini dalam bentuk menggariskan learning organization sebagai budaya perusahaan. Namun, kenyataannya, seiring dengan semakin berkurangnya keterlibatannya di organisasi, derap inovasi, dan agresivitas perusahaan juga mengendur.

Ternyata, tidak gampang menularkan semangat belajar, membutuhkan usaha dan proses yang panjang. Sementara itu, dampak dari kegagalan mewariskan semangat belajar ini terasa pada kurangnya inovasi, tumpulnya strategi dan kultur yang tidak menggambarkan sikap eksplorasi yang tadinya ada pada para founding fathers. Padahal, semua sepakat, kesuksesan perusahaan terjadi karena inovasi yang tiada henti. Alangkah saktinya semangat belajar ini untuk menentukan kelangsungan hidup perusahaan. Bagi wirausaha, ini: personal growth = company growth. Masalahnya adalah bagaimana perusahaan dapat mengamalkan semangat belajar ini sebagai sebuah lifelong learning seluruh insan organisasi sehingga perkembangan perusahaan pun berjalan secara berkesinambungan. 

Di kalangan perusahaan-perusahaan yang tergolong muda seperti Google, lifelong learning merupakan nilai yang sangat penting. Para eksekutif mati-matian menanamkan kebiasaan belajar, bertanya, mempertanyakan, dan membuang kebiasaan berpikir lama-lama. Semangat ini pun diturunkan secara top down. Sundar Pichai, sang CEO, mengontrol sendiri keseluruhan proses ini. Ia sangat menyadari, begitu pembelajaran tidak berjalan baik, pengembangan perusahaan akan mati.   

Tampaknya, hampir semua perusahaan sudah menyadari, pembelajaran sangat dibutuhkan dan harus berlangsung sepanjang hidup perusahaan, bukan hanya sesaat. Apalagi saat seperti sekarang ketika perubahan berjalan demikian cepat. Namun, kita sendiri juga menyaksikan, proses pembelajaran ini tidak selamanya berjalan mulus. Pembelajaran yang dimaksud ini adalah penciptaan pemahaman baru, bukan sekedar transfer pengetahuan yang sudah ada atau sekedar program upskilling

Inilah yang sering menjadi salah kaprah. Dengan diadakannya program-program learning di perusahaan, diasumsikan pembelajaran sudah terjadi. Padahal, sebelum pengetahuan meluas dengan terciptanya knowledge baru, pembelajaran sebenarnya belum terjadi. 

Misalnya saja seorang yang bergerak di bidang marketing, harus melihat bagaimana orang melakukan pemasaran melalui berbagai media sosial sampai ia bisa menemukan insight bagaimana metode marketing yang tepat bagi organisasinya. Teknisi Teknologi Informasi perlu mendalami kemajuan artificial intelligence. Kesemuanya tidak cukup hanya dilakukan sekali, eksplorasi ini berjalan sepanjang hidup. Peter Drucker mengatakan, hal ini termasuk dalam human imperative masa kini. 

Passion of the explorer 

Mengapa orang bisa belajar terus tanpa lelah? Apa yang membedakan individu ini dengan individu yang melihat pembelajaran sebagai proses yang terpotong-potong? Ternyata, ada beberapa hal yang membedakan seorang pembelajar sepanjang hidup dan seorang yang belajar karena diwajibkan atau ingin mempelajari keterampilan tertentu. 

Pertama, para explorer memang memiliki komitmen jangka panjang terhadap area khusus yang diminatinya, meskipun bisa saja berbeda dengan keterampilan yang sedang ditekuninya. Misalnya, seorang ahli keuangan yang senang berbelanja dan membandingkan produk kompetitor perusahaannya menyebabkan rasa ingin tahu yang tidak pernah putus seputar merchandising produk. 

Para explorer ini tidak menganggap kegagalan sebagai sebuah kemunduran. Mereka justru bersemangat dan belajar dari penyimpangan, keanehan dan kejutan-kejutan lainnya. Kesemuanya itu dianggap sebagai tantangan baru dalam usahanya mencari solusi baru. Apakah jumlah individu dengan karakteristik seperti ini banyak di perusahaan? 

Penelitian di Amerika terhadap sejumlah perusahaan menunjukkan bahwa hanya sekitar 14 persen karyawan yang memiliki semangat belajar dengan semangat seperti ini. Mengapa demikian rendah? Bukankah kita semua pernah muda menjadi anak kecil yang selalu mewarnai semangat belajarnya dengan rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, keberanian mengambil risiko dan berhubungan dengan orang lain? Mengapa kita seolah melupakannya dan tidak bersemangat lagi dalam belajar kita sekarang? 

Seorang yang bekerja di departemen procurement untuk sebuah perusahaan produsen mobil, berusaha mencari cara baru agar pihak perusahaan dapat menyeleksi vendor dengan lebih teliti. Ia begitu bersemangat dengan menerapkan metode barunya ini. Namun, rupanya direksi tidak menyukai tindakannya yang dianggap terlalu berani sehingga kariernya pun bermasalah. Fixed mindset seperti ini dapat menyebabkan semangat dan motivasi individu untuk bereksperimen dan menemukan hal baru menjadi padam. Hal inilah yang perlu diperangi bila kita ingin membangun semangat pembelajaran tanpa henti di perusahaan.  

Fokus pada penghambat yang nyata 

Setiap departemen dalam organisasi pasti memiliki ukuran prestasinya sendiri. Hal inilah yang sering menyebabkan sulitnya mengontrol perkembangan spirit belajar. Kita bisa memulainya dengan mencari tahu apa aspek terpenting dalam KPI perusahaan yang menjadi target bersama seluruh departemen. Aspek ini diumumkan ke seluruh perusahaan, lengkap dengan segala langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai target perubahannya. Hargai setiap ide secara positif karena proses belajar tentunya akan lebih mengalir dan membangkitkan semangat bila semua individu saling menghargai ide dan pemikiran satu sama lain. Dengan demikian, upaya membentuk kembali budaya belajar yang penuh semangat pun mulai terbangun. 

Continuous learning is the minimum requirement for success in any field. 

 – Brian Tracy 

EXPERD   |   HR Consultant/Konsultan SDM 

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 30 Oktober 2021 



 

Saturday, October 16, 2021

KISAH TELADAN; AMPLOP HABIB LUTHFI BIN YAHYA

KISAH TELADAN; AMPLOP HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Ada sebuah peristiwa yang sampai saat ini masih saja membekas dalam ingatan tentang Habib Luthfi Bin Yahya. Malam itu, ketika aku duduk berdesak-desak dengan para tetamu yang memenuhi ruangan itu, tiba-tiba beliau menunjukkan kepada semua yang hadir itu sesuatu yang di luar dugaan. Manakala beberapa orang tamu dari berbagai daerah itu tengah menyampaikan keluh kesah mereka, tanpa malu-malu beliau membuka amplop yang bertebaran di atas meja. Dikeluarkan isinya. Lalu ditumpuk di atas meja.

Mula-mula, aku merasa tak nyaman dengan pemandangan itu. Sebab, isi amplop itu semuanya lembaran uang. Ada yang berwarna merah, ada pula yang berwarna biru. Semua uang itu tak lain berasal dari pemberian secara cuma-cuma dari para tetamu. Itulah yang membuatku agak risih. Rasanya kok seperti kurang etis jika hal itu dilakukan di hadapan para tamu yang ada di situ.

Semua isi amplop itu dikeluarkan. Tanpa satu pun tertinggal. Tak dihitung memang oleh Habib Luthfi. Tetapi, kalau aku perkirakan, bisa jadi itu jumlahnya sudah mencapai angka jutaan. 

Setelah semua isi amplop itu dikeluarkan, beliau memasukkan tumpukan uang itu ke dalam satu amplop yang ukurannya cukup besar. Lalu, tiba-tiba memanggil salah seorang perempuan, seorang ibu yang masih muda untuk mendekat. Ibu itu awalnya duduk di pojokan.

“Nduk, sini Nduk,” ucap Habib Luthfi.

Perempuan itu pun agak malu-malu untuk maju ke depan, mendekati beliau. Tampilannya sederhana. Sangat sederhana. Menunjukkan kalau perempuan ini dari kalangan masyarakat biasa. Mungkin dari keluarga yang kurang beruntung nasibnya.

“Sampeyan rene karo sapa? (Anda ke sini sama siapa?)” tanya Habib Luthfi.

“Kaliyan lare, Bah (Bersama anakku),” jawab perempuan itu agak malu dan penuh hormat.

Habib Luthfi pun segera mengedarkan pandangan, mencari anak dari perempuan itu, “Ndi? Ndi anakmu? Gawa rene (Yang mana anakmu? Bawa ke sini),” pinta Habib Luthfi.

Entah senang atau bagaimana, reaksi perempuan itu langsung bergegas ke belakang lagi. Ke tempat duduknya semula. Tetapi, sebelum perempuan ini beringsut, beliau langsung bilang, “Sampeyan ora usah rono maneh. Ngger kene bae. Ben anake sampeyan sing mrene, ya? (Anda tak perlu ke sana lagi. Di sini saja. Biarkan anakmu yang ke sini),” ucap Habib Luthfi sambil tersenyum.

Dari belakang terdengar beberapa orang menyampaikan pada Habib Luthfi jika anak dari perempuan itu tertidur. “Wis ra kaiki. Ben. Nek wis turu ora usah digugah, melas. (Sudah tak apa. Biarkan. Kalau sudah tidur tak perlu dibangunkan, kasihan),” kata Habib Luthfi.

Tak berselang lama, anak dari perempuan itu terbangun. Lalu segera diberi jalan oleh para tetamu untuk mendekat Habib Luthfi. Perempuan itu pun segera menyambut anak perempuannya. Segera pula ia memeluknya.

“Nah iki wis tangi dhewe. Sampun maem durung? (Nah kan, bangun sendiri. Sudah makan belum?),” tanya beliau.

Gadis kecil itu mengangguk.

“Wis? Temenan wis? (Sudah? Beneran sudah?),” tanya Habib Luthfi memastikan.

“Sampun wau, Bah (Sudah tadi),” jawab si Ibu.

“Oh ya wis (Oh ya sudah)...” ucap Habib Luthfi. “Nggonmu iseh kena rob? (Rumahmu masih terkena air rob?)” tanya beliau kemudian.

Si Ibu muda ini menjawab, “Takseh, Bah. Malah sakniki saya parah. (Masih, Bah. Malah sekarang makin parah),” jawab si Ibu itu.

“Lha sampeyan yen turu piye? Terus kerjaane piye? (Lha kalau tidur bagaimana? Kerjanya bagaimana?)” tanya Habib Luthfi.

Perempuan itu menjawab, “Nggih, susah, Bah. Kerjaan ugi susah.”

Tampak tatapan Habib Luthfi menaruh empati yang amat mendalam. Amplop yang ada pada genggaman beliau, seketika itu diberikan kepada Ibu muda itu. “Iki nggo nempur beras karo nggo nyukupi kebutuhanmu ya, Nduk. (Ini untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya ya, Nduk). Nggonen sing bener lan sing pas karo kebutuhanmu,” kata beliau kemudian.

Perempuan itu terkejut. Ia tak menyangka akan menerima pemberian yang demikian besar dan sangat berarti bagi dirinya dan keluarganya. Ia pun membungkukkan badan berkali-kali, sambil mengucapkan terimakasih kepada Habib Luthfi.

“Iki dudu saka aku. Ning iki saka kabeh sing ning kene. Insya Allah, kabeh ikhlas. (Ini bukan dari saya. Melainkan dari semua yang ada di sini. Insyaallah semua ikhlas.) Wis ya... ditrima ya, Nduk?” kata Habib Luthfi.

“Nggih, Bah. Maturnuwun...”

“Wis ya... iki wis bengi. Melaske anakmu. Saiki sampeyan luwih becik mulih omah. Ben anakmu sesuk ora kawanan tangine. Sampeyan rene mau diterke bojone sampeyan? (Sudah... ini sudah larut. Kasihan anakmu. Sekarang lebih baik pulang ke rumah agar anakmu tidak kesiangan. Anda ke sini diantar suami?” tanya Habib Luthfi.

“Nggih, Bah. Wau dianter garwa kula nitih becak (Ya, Bah. Tadi diantar suami dengan becaknya)” jawab si Ibu muda itu.

“Lha saiki ning ndi bojomu? (Sekarang di mana suamimu?)”

“Narik becak malih Bah. Sanjange wau wonten sing nyuwun dianter becak (Narik lagi, Bah. Katanya ada orang yang menumpang)” jawab si Ibu muda itu.

“Nek ngono ben diter nganggo mobil wae. Mengko ben sopir sing ngeter Sampeyan mulih. Karo iki, jajan iki digawa ya, (Kalau begitu biar diantar mobil saja. Nanti ada sopir yang mengantar pulang. Dan ini, jajan-jajan ini dibawa pulang ya),” kata Habib Luthfi.

Perempuan itu memperlihatkan roman wajah antara senang dan bingung. Senang, karena malam itu ia mendapatkan pemberian yang luar biasa banyaknya dari beliau. Bingung, karena ia tidak tahu caranya membawa semua pemberian itu. Ada roti satu kaleng besar. Ada makanan lainnya yang berkaleng-kaleng. Ada yang kardusan pula. Semuanya diberikan beliau untuk si ibu muda ini.

Habib Luthfi pun segera memanggil sopir dan memintanya agar membantu membawakan semua barang yang dibawa pulang. Semuanya. Beliau juga berpesan agar sopir mengantarkan sampai depan rumah. Jangan hanya berhenti di tepi jalan.

Setelah peristiwa itu, semua tamu yang hadir malam itu sejenak melongo. Terbengong dengan ulah beliau. Tak berselang jeda yang lama, beliau baru katakan sebuah pesan yang amat mendalam, “Pengorbanan ibu tadi sungguh luar biasa. Ia rela datang ke sini dengan membawa seabreg kebingungan atas nasibnya. Ibu itu korban rob. Hidupnya pas-pasan. Dan tidak hanya ia saja yang mengalami nasib begitu. Ada banyak. Merekalah yang sesungguhnya berhak untuk kita bantu. Ngenes kalau lihat nasib bangsa ini. Sebab, masih banyak orang-orang yang seperti ibu itu.”

Sejenak kemudian, Habib Luthfi terdiam. Seketika itu pula, aku menyaksikan sebuah peristiwa yang membuatku keliru menafsirkan apa yang beliau lakukan. Ya, semula aku berprasangka buruk terhadap tindakan beliau yang mengeluarkan semua isi amplop itu dan meletakkannya di atas meja. Tetapi, prasangka buruk itu kemudian menjadi keliru ketika seluruh uang yang dikeluarkan dari lembar-lembar amplop itu diberikan kepada seorang ibu muda yang dalam kesusahan. Betapa dangkalnya nalarku ini. Oh! Rasanya malu dan teramat malu semalu-malunya.

Betapa tidak, beliau yang sudah memiliki nama besar pun tak segan untuk melayani orang-orang kecil. Bahkan bisa lebih mendahulukan mereka ketimbang tamu-tamu lain yang tampak lebih berkelas. Beliau juga tak sungkan-sungkan untuk mengingatkan siapapun yang hadir di situ, ada kiai, santri, dan orang-orang yang paham agama sekalipun tanpa kata-kata yang berbusa. Langsung melalui tindakan yang boleh dibilang tindakan itu seperti sebuah tamparan keras buat semua tetamu.

Ya, begitulah beliau. Semoga Abah Habib Luthfi Bin Yahya senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan lahir batin dan panjang umur. Amin. (Sumber: IbjmArt.com).

Sunday, May 23, 2021

J•e•r•u•s•a•l•e•m

J•e•r•u•s•a•l•e•m

Al-Quds atau yang juga dikenal dengan nama Jerusalem, menjadi topik pembicaraan hangat akhir-akhir ini, terutama setelah Trump secara terbuka menyampaikan pengakuannya sebagai Ibukota Israel. Pernyataan yang menyulut kemarahan banyak pihak, karena seolah menafikkan sejarah peradaban umat manusia bahwa kota itu merupakan tempat suci bagi 3 penganut agama samawi, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. 
Daerah inilah yang menjadi tempat tinggalnya banyak Nabi dan Rasul serta juga tempat yang menjadi awal perjalanan menuju Sidratul Muntaha oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Mungkin Trump perlu belajar sejarah, setidaknya ia perlu meneladani bagaimana Khalifah Umar bin Khattab, menunjukkan kebesarannya sebagai seorang pemimpin, penguasa sekaligus negarawan yang mulia. 

Saat terjadi pertempuran pembebasan wilayah utara Timur Tengah, mulai wilayah Palestina, Yordania, pesisir Levantina, dan Suriah oleh pasukan Islam dari penguasaan tentara Byzantium (Kekaisaran Romawi-Yunani) yang berakhir dengan pengepungan Jerusalem pada tahun 637 M, terjadi perdebatan antara pimpinan pasukan Byzantium, Artavon dengan Uskup Agung Gereja Jerusalem yaitu Patriarch Sophronius. Artavon tidak ingin bila Jerusalem diserahkan pada pasukan Islam. Di lain sisi, Sophronius menginginkan Jerusalem diserahkan pada pasukan Islam dengan damai. Dia yakin kedatangan pasukan Islam sebagai bentuk kehendak Tuhan. 

Keputusan akhir inilah yang kemudian diambil, dan hal itu lalu disampaikan kepada pasukan Islam dengan syarat bahwa yang harus menerima “kunci kota” adalah Khalifah Umar bin Khatab sendiri dari tangan Sophronius. Menerima kabar ini, maka berangkatlah Sang Khalifah dari Madinah memenuhi undangan itu menuju Jerusalem.

Yang ingin diceritakan disini adalah bagaimana reaksi kekaguman dan rasa hormat Uskup Sophronius kepada Khalifah Umar ketika beliau tiba di kota Jerusalem.

Pertama, beliau sudah menyiapkan penyambutan arak-arakan yang meriah, namun terkejut ketika melihat kenyataan bahwa yang datang adalah hanya dua orang berpakaian sederhana bersama seekor keledai. Yang satu naik di atas punggung keledai, sedangkan satunya menuntun keledainya. Banyak orang yang menyambut saat itu mengira bahwa Khalifah Umar adalah yang di punggung keledai. Dugaan itu keliru, sebab justru Sang Penguasa lah yang menuntun keledai, sebab ia memberlakukan pengawalnya secara manusiawi, artinya mereka bergantian menunggangi keledai itu selama menempuh perjalanan panjang ke kota Jerusalem. Saat itu, kebetulan giliran sang pengawal lah yang menunggangi keledai.

Keduanya, beliau juga terkesima ketika mengajak Khalifah Umar berkeliling kota Jerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (dalam keyakinan Kristen, Nabi Isa dimakamkan di gereja ini). 

Karena sudah tiba waktu shalat, Uskup Sophronius mempersilakan Khalifah Umar untuk shalat di dalam gereja, namun beliau serta merta menolaknya, lalu memilih shalat di luar gereja. Khalifah Umar khawatir kalau seandainya ia shalat di dalam gereja tersebut, nanti umat Islam yang tidak paham di masa depan akan merubah gereja ini menjadi masjid dengan dalih Khalifah Umar pernah shalat disitu. Ini dikhawatirkan akan menzalimi hak umat Nasrani. Kelak sebagai bentuk penghormatan atas kemuliaan hati sang Khalifah, di tempat beliau shalat lalu dibangunlah Masjid Umar bin Khattab r.a.

Ketiga, ketika kemudian Khalifah Umar minta diantar ke Kuil Sulaiman di kompleks Al Aqsha, beliau mendapati bahwa lokasi itu telah berubah menjadi tempat penimbunan sampah yang sengaja dibuang disana sebagai bentuk penghinaan kepada orang Yahudi yang telah membunuhi tawanan Nasrani di wilayah Persia (namun dalam kitab Yahudi dituliskan bahwa penimbunan sampah, bahkan kotoran bulanan wanita pun sengaja dibuang kesana, karena rasa kemarahan umat Kristen kepada umat Yahudi yang dianggap bertanggungjawab terhadap kematian Nabi Isa Al Masih). 

Sang Khalifah kemudian dengan tangannya sendiri dan dibantu pasukannya, serta masyarakat Yahudi, membersihkan lokasi tersebut dan lalu merenovasi Komplek Al Aqsa sehingga suci kembali. Dalam penguasaan muslim selama 462 tahun kemudian, Jerusalem berubah menjadi tempat peribadatan yang aman bagi 3 agama samawi, termasuk didirikannya Dome of Rock (Qubatu Shakhrah) di komplek tersebut pada tahun 691 M.

Keempat, perlakuan adil yang diberlakukan oleh Khalifah Umar dan penerusnya Bani Umayyah di wilayah Jerusalem, merupakan pengejawantahan dari perjanjian tertulis yang telah ditandatangani Khalifah Umar saat menerima kunci kota dari Uskup Sophronius, yang bunyinya antara lain adalah sbb:

“Bismillahirrahmanirrahim.
Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Jerusalem….”

Dari semua hal di atas, kita bisa belajar bagaimana seharusnya berlaku adil dalam menghormati keyakinan agama yang berbeda-beda. Bahkan pada saat berkuasa pun, ia akan menjamin hak masing-masing sepenuhnya secara adil, termasuk pihak minoritas sekalipun. 

Kemuliaan tidak diperoleh dari sikap kesewenang-wenangan, terutama pada saat kekuasaan dan kekuatan di tangan kita, tetapi justru digunakan untuk melindungi hak-hak setiap orang yang berada di bawah kekuasaannya. Trump harus belajar dari sikap elegan ini, agar ia tidak terkubur oleh sikap arogansi dan kesewenang-wenangannya sendiri di masa yang akan datang. Sebab keyakinan adalah sesuatu yang tidak perlu digugat apalagi dihinakan, kecuali untuk saling dihormati dan diterima apa adanya. Semoga.

Penulis: Joni Hermana – ITS

NB: _Tulisan ini dibuat Desember 2017 yang lalu dan pernah direlease oleh beberapa media, yaitu Republika dan Radarindonesianews di tahun yang sama._