Sunday, March 27, 2022

IKHLAS

 🌻 *I K H L A S*💞

✍️  *_Katakanlah (bahwa) sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam._*
(QS. Al. An'am : 162)


☕️ *_Itulah cermin IKHLAS yang hakiki*_

_*🔘 IKHLAS* itu sesuatu yang sulit namun harus dipelajari dan dilaksanakan secara Istiqomah dalam hidup ini..._

_*🔘 IKHLAS* itu ketika Nasihat, Kritik, bahkan Fitnah_

*_tidak mengendurkan niat baik kita dan tidak membuat kita kehilangan Semangat._*

_*🔘 IKHLAS* itu ketika hasil tak sebanding dengan usaha dan harapan,_

*_namun tak membuat kita menyesal dan tenggelam dalam kesedihan._*

_*🔘 IKHLAS* itu ketika perbuatan baik kita disambut dengan berbagai
 *PRASANGKA BURUK*

*_namun tak membuat kita mengeluh dan putus asa._*

_*🔘 IKHLAS* itu ketika kita dipuji atau dihina,_

_*tetapi kita tidak SAKIT HATI.*_

_*🔘 IKHLAS* itu ketika posisi kita diatas tak membuat kita angkuh dan sombong,_
*_dan ketika posisi kita di bawah tak membuat kita Rendah diri._*

_*🔘 IKHLAS* itu ketika khilaf mendorong kita untuk meminta maaf,_
*_dan ketika salah mendorong kita untuk instropeksi._*

_*🔘 IKHLAS* itu ketika orang lain berbuat salah kepada kita,_
_segera untuk memberikan maaf kepadanya._

_*🔘 IKHLAS* itu ketika kita bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah_

_*🔘 IKHLAS* itu ketika kita senantiasa beramal tanpa pernah menyebut dan menunjukkan kepada orang lain._


*• IKHLAS itu tak terucap,*
*• IKHLAS itu tak terlihat.*
*• IKHLAS hanya terasakan di dalam Hati.*


 *Sahabatku.........*

_*IKHLAS itu...*_
_Ketika Membalas Setetes Kejahatan dengan lautan Kebajikan..._

_*IKHLAS itu...*_
_Ketika Menerima Kenyataan bahwa Takdir, *adalah Kehendak ALLAH,* Walau terkadang di awal tdk seperti yg diinginkan..._

_*IKHLAS Itu...*_
_Ketika kita diberi *Cobaan, Sakit atau Kesedihan,* kita tetap sabar dan berbesar hati. Karena itu kehendakNYA._


📚 *”Hanya orang-orang ikhlaslah yang berhak mendapat surga”*
( H R Muslim )

*SEMOGA BERMANFAAT*

Saturday, February 19, 2022

Bao Zheng 包拯 - JUDGE BAO

Bao Zheng 包拯 - JUDGE BAO 


Bao Zheng (包拯) Bao Gong (包公; Bāo Gōng; 'Lord Bao') atau yang kita kenal dengan sebutan JAKSA BAO adalah seorang hakim dan negarawan terkenal pada zaman Dinasti Song Utara. Beliau lahir pada tahun 999 M dan mangkat pada tahun 1062 M. Karena kejujurannya dia mendapat julukan Bao Qingtian (包青天) yang berarti “Bao si langit biru”; sebuah nama pujian bagi pejabat bersih. Sementara musuh-musuhnya menjulukinya Bao Heizi (包黑子) yang artinya si hitam Bao karena warna kulitnya yang gelap. Nama kehormatannya adalah Xiren (希仁).

Bao dilahirkan pada jaman Dinasti Song tahun 999 dalam keluarga sarjana di Luzhou (sekarang Hefei, propinsi Anhui Tiongkok). Kehidupan awalnya banyak memengaruhi kepribadiannya. Orang tuanya walaupun hidup pas-pasan, namun masih sanggup menyekolahkannya dengan baik.

Ketika sedang mengandungnya, ibunya sering turun naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar. Di kampungnya dia banyak berteman dengan rakyat jelata sehingga dia mengerti beban hidup dan masalah mereka. Hal ini membuatnya membenci korupsi dan bertekad untuk menegakkan keadilan dan kejujuran.
Bao Zheng lahir dalam keluarga sarjana di Shenxian (慎县), Hefei, Luzhou (sekarang Kabupaten Feidong dekat Hefei, Anhui). Keluarga Bao berada di kelas menengah, ayahnya Bao Lingyi (包令仪) adalah seorang sarjana dan pejabat, sedangkan kakeknya Bao Shi Tong (包士通) adalah orang biasa. Meskipun orang tua Bao mampu menyekolahkannya, ibunya harus mendaki gunung untuk mengumpulkan kayu bakar sebelum dia melahirkannya. Ketika Bao tumbuh di antara kelas pekerja rendah, dia sangat memahami kesulitan orang, membenci korupsi dan sangat menginginkan keadilan.

Pada usia 29 tahun, Bao lulus ujian kerajaan tingkat tertinggi dibawah pengujian langsung dari Kaisar hingga menyandang gelar Jinshi. Sesuai hukum dan peraturan saat itu yang mengatakan bahwa seorang sarjana Jinshi dapat ditunjuk menempati posisi penting dalam pemerintahan, maka Bao diangkat sebagai pejabat kehakiman mengepalai Kabupaten Jianchang.
Setelah orang tuanya meninggal, Bao Zheng, yang saat itu berusia 39 tahun, diangkat menjadi hakim Kabupaten Tianchang tidak jauh dari kota kelahirannya. Di sinilah Bao pertama kali membangun reputasinya sebagai hakim yang cerdik. Menurut sebuah anekdot, seorang pria pernah melaporkan bahwa lidah lembunya telah dipotong. Bao menyuruhnya kembali dan menyembelih sapi untuk dijual. Segera seorang pria lain tiba di pengadilan dan menuduh orang pertama secara pribadi membantai "binatang beban", sebuah pelanggaran yang dapat dihukum dengan hukuman satu tahun perbudakan. Bao berteriak: "Mengapa kamu memotong lidah lembunya dan kemudian menuduhnya?" Dalam keterkejutan, pelakunya harus mengaku.

Namun dia mengundurkan diri tak lama kemudian karena sebagai anak berbakti dia memilih pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sudah tua dan lemah selama sepuluh tahun. Baru setelah kematian orang tuanya, dia kembali diangkat sebagai pejabat, kali ini sebagai pejabat kehakiman Propinsi Tianchang. Ketika itu dia telah berumur 40 tahun.

Sebagai pejabat, Bao bekerja dengan adil, berani, dan berpegang pada kebenaran. Kecerdasan dan bakatnya membuat banyak orang kagum, termasuk Kaisar Song Renzhong yang mempromosikannya dan memberikannya jabatan penting termasuk sebagai hakim di Bian (sekarang Kaifeng), ibukota Dinasti Song.

Dia terkenal karena pendiriannya yang tak kenal kompromi terhadap korupsi di antara pejabat pemerintahan saat itu. Dia menegakkan keadilan bahkan menolak untuk tunduk pada kekuasaan yang lebih tinggi darinya bila itu tidak benar.


Sejarah mencatat bahwa selama kurang lebih 30 tahun sejak dia memegang jabatan pertama kalinya, sebanyak lebih dari 30 orang pejabat tinggi termasuk beberapa mentri telah dipecat atau diturunkan pangkatnya olehnya atas tuduhan korupsi, kolusi, melalaikan tugas, dan lain-lain.

Dia sangat berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan menyerah selama dianggapnya sesuai kebenaran. Dalam catatan sejarah, Beliau pernah 6 kali melapor pada Kaisar dan memintanya agar memecat pejabat tinggi, Zhang Yaozhuo, paman dari selir kelas atas kerajaan, 7 kali melapor untuk memecat Wang Kui, pejabat tinggi lain yang kepercayaan Kaisar; bahkan dia pernah beberapa kali membujuk Kaisar untuk memecat Perdana Menteri Song Yang.

Dalam pemerintahan, teman dekatnya adalah paman Kaisar yaitu Zhao Defang yang lebih dikenal dengan nama pangeran kedelapan (八王爷; Ba Wang Ye). Di kalangan rakyat, Bao Zheng dikenal sebagai hakim yang adil dan berani memutuskan segala sesuatu berdasarkan keadilan tanpa rasa takut, juga mampu membedakan mana yang benar dan yang salah.

Baginya siapapun termasuk kerabat dekat Kaisar sekalipun harus dihukum bila terbukti bersalah melakukan pelanggaran. Bao meninggal tahun 1062 dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di makam keluarganya di Hefei, di kota itu juga dibangun sebuah kuil untuk mengenangnya, yang bernama Baogong ci (包公祠).

Bao Zheng banyak menghiasi karya literatur dalam sejarah Tiongkok, kisah hidupnya yang melegenda sering ditampilkan dalam opera dan drama, kebanyakan kisah-kisah ini telah di dramatisasi. Dalam opera biasanya dia divisualisasikan sebagai pria berumur dan berjenggot, dengan wajah hitam serta tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahinya. Beberapa versi menyebutkan tanda ini berasal dari luka ketika dia memberi hormat dengan sangat keras pada ibunya untuk menunjukkan baktinya!
Pada tahun 1040, Bao Zheng dipromosikan menjadi prefek Duanzhou (Zhaoqing modern) di selatan, sebuah prefektur yang terkenal dengan batu tinta berkualitas tinggi, beberapa di antaranya dipersembahkan setiap tahun ke istana kekaisaran. Namun, Bao menemukan bahwa prefek sebelumnya telah mengumpulkan jauh lebih banyak batu tinta dari produsen daripada upeti yang dibutuhkan beberapa puluh kali lebih banyak untuk menyuap menteri yang berpengaruh dengan ekstra. Bao menghapus praktik tersebut dengan memberi tahu produsen untuk memenuhi kuota yang dibutuhkan saja.

Ketika masa jabatannya habis pada tahun 1043, Bao pergi tanpa satu pun batu tinta yang dimilikinya.Di Duanzhou dia menulis puisi ini:
清心為治本 (qīng xīn wèi zhì běn) Inti dari memerintah adalah memiliki hati yang bersih,
直道是身謀 (zhí dào shì shēn móu) Strategi hidup adalah mengikuti jalan lurus.
秀幹終成棟 (xiù gàn zhōng chéng dòng) Batang yang elegan pada akhirnya akan berubah menjadi pilar,
精剛不作鉤 (jīng gāng bù zuò gōu) Baja halus tidak dapat ditekuk menjadi kait.
倉充鼠雀喜 (cāng chōng shǔ què xǐ) Tikus dan burung pipit bergembira saat lumbung penuh,
草盡兔狐愁 (cǎo jǐn tù hú chóu) Kelinci dan rubah khawatir ketika padang rumput mati.
史冊有遺訓 (shǐ cè yǒu yí xùn) Buku-buku sejarah berisi ajaran dari mereka yang telah meninggal:
勿貽來者羞 (wú yí lái zhě xiū) Jangan biarkan keturunanmu hanya dengan rasa malu!


Disebutkan juga bahwa Kaisar menganugerahi Bao 3 buah Guillotine (鍘刀; Zhádāo) atau alat penggal dalam tugasnya sebagai hakim. Ketiga Guilotine itu mempunyai dekorasi yang berbeda dan digunakan untuk menghukum orang sesuai statusnya, yakni :
1. Guilotine kepala anjing (狗頭鍘; Gǒutóu zhá) untuk menghukum kalangan rakyat jelata,
2. Guilotine kepala macan (虎頭鍘; Hǔtóu zhá) untuk menghukum kalangan pejabat,
3. dan Guilotine kepala naga (龍頭鍘; Lóngtóu zhá) untuk menghukum kalangan bangsawan kekaisaran.

Dia juga dianugerahi tongkat emas kerajaan oleh Kaisar sebelumnya untuk menghukum Kaisar sendiri bila bersalah dan pedang pusaka kerajaan sebagai tanda berhak untuk menghukum siapapun termasuk anggota kerajaan tanpa melapor atau mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Kaisar.

Dalam tugasnya dia dibantu oleh 6 pembantunya, yaitu kepala pengawal yang ahli beladiri Zhan Zhao (展昭), sekretaris penasihat yang pandai Gongsun Ce (公孙策), serta 4 pengawal lainnya Wang Chao (王朝), Ma Han (馬漢), Zhang Long (張龍), dan Zhao Hu (趙虎).


Beberapa Kisah Legenda Bao Zheng
1. Zhá měi àn (鍘美案); mengisahkan Bao Zheng mengeksekusi Chen Shimei, seorang sarjana yang meninggalkan anak istrinya setelah lulus ujian kerajaan dan menikahi seorang wanita bangsawan. Chen bahkan mencoba membunuh istrinya dengan mengirim pembunuh bayaran.

2. Límāo huàn tàizǐ (貍貓換太子); mengisahkan Bao Zheng membongkar konspirasi dalam istana, dimana bayi putra mahkota ditukar dengan anak kucing ketika baru dilahirkan. Dalam kasus ini Bao harus berhadapan dengan kasim yang menjadi temannya pada awal kariernya, Guo Huai, sehingga Bao harus memilih antara perasaan pribadi sebagai teman dan kewajibannya menegakkan keadilan. Bao menyamar sebagai Dewa Yama, raja neraka untuk membongkar kejahatan Guo Huai. Guo pun akhirnya mengakui segalanya karena dia mengira telah berada di neraka.

Banyak kisah Jaksa Bao yang difilmkan oleh perusahaan film Taiwan, Hongkong dan Tiongkok dengan judul ‘Justice Bao‘ (包青天; Bao Qingtian) yang meraih popularitas luar biasa di Asia pada dekade 90-an. Meski hampir semua kisah dalam serial tersebut adalah fiksi yang dihubungkan dengan kehidupannya, namun syarat akan nilai-nilai tradisional Tiongkok masih ada, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan pada Negara, dan keadilan bagi rakyat.
Bao Zheng kembali ke ibu kota dan diangkat menjadi penyelidik pada tahun 1044. Selama dua tahun berikutnya dalam posisi ini, Bao menyerahkan setidaknya 13 memorandum kepada Kaisar Renzong dari Song tentang militer, perpajakan, sistem pemeriksaan, dan ketidakjujuran dan ketidakmampuan pemerintah.
Pada 1045, Bao dikirim ke dinasti Liao sebagai utusan. Selama audiensi, seorang pejabat Liao menuduh Song melanggar perdamaian dengan memasang pintu samping rahasia di prefektur perbatasan Xiongzhou, untuk meminta pembelot dari Liao untuk intelijen. Bao membalas: "Mengapa pintu samping diperlukan untuk intelijen?" Subjek Liao tidak bisa menjawab.

Pada tahun-tahun berikutnya, Bao memegang posisi berikut:
Komisaris fiskal Hebei
Wakil Direktur Kementerian Kehakiman
Pembantu di Academy of Scholarly Worthies (直集賢院)
Wakil Komisaris Kementerian Pendapatan


Permaisuri favorit Kaisar Renzong adalah Selir Zhang, yang dia ingin jadikan permaisuri tetapi tidak bisa karena ditentang oleh ibunya (tidak diketahuinya, palsu), Janda Permaisuri Liu. Namun demikian, paman selir Zhang Yaozuo (張堯佐) dengan cepat dipromosikan dalam beberapa tahun dari jabatan lokal kecil ke jabatan tinggi, termasuk komisaris keuangan negara (三司使). Pada tanggal 12 Juli 1050, Bao dan dua sensor lainnya bersama-sama menyampaikan sebuah memorandum, yang dalam bahasa kasar menuduh Zhang biasa-biasa saja dan tidak tahu malu, bahkan menghubungkan bencana alam dengan pengangkatannya. Mungkin kesal, Kaisar Renzong tidak hanya tidak melakukan apa-apa pada Zhang Yaozuo, dia memberikan gelar kepada saudara perempuan Selir Zhang empat hari kemudian. Tapi Bao tidak menyerah. Dalam memorandum lain yang diajukan oleh dirinya sendiri, ia menulis:
Di semua dinasti, anggota keluarga permaisuri kekaisaran, bahkan ketika berbakat, tidak ditunjuk jabatan, apalagi yang biasa-biasa saja, tidak berbakat... Dalam sujud, subjek Anda melihat dinasti bangsa kita karena pendirinya selalu memilih menteri yang cerdas dengan hati-hati. untuk penunjukan, bahkan pada saat perbendaharaan meluap ... Keadaan (keuangan) saat ini mengerikan dan berbahaya dari segala arah, bagaimana mungkin orang ini diangkat ke pos itu dan mempertahankannya, menghancurkan harapan dunia dan mengabaikan urusan dunia ? Subjek Anda benar-benar dan menyakitkan merasa kasihan pada Yang Mulia.

Sebagian untuk meredakan protes Bao dan lainnya, kaisar memberhentikan Zhang Yaozuo dari komisaris keuangan negara, tetapi malah mengangkatnya menjadi empat komisaris sekaligus: komisaris pelayan istana, komisaris militer Huainan, komisaris militer Qunmu (群 ), dan komisaris Istana Jingling (景靈宮). Dalam sebuah memorandum tertanggal 26 Desember, Bao menyuarakan protes kerasnya dan menulis:
Situasi saat ini adalah, jika Yang Mulia bertekad untuk menunjuk Yaozuo, maka usir penasihat ini; jika Yang Mulia mendengarkan penasihat ini, maka (Yang Mulia) harus menghapus Yaozuo.

Dalam sidang pengadilan berikutnya untuk mengautentikasi pos-pos ini, terjadi perdebatan sengit di pengadilan yang dipimpin oleh tujuh menteri termasuk Bao, yang mengakibatkan pencopotan komisaris pelayan istana dan komisaris Istana Jingling dari pengangkatan Zhang. Beberapa dekade kemudian, Zhu Bian (朱弁, 1085–1144) menulis kisah lucu dalam karyanya Anekdot dari Quwei (曲洧舊聞), yang mungkin berkontribusi pada pengembangan legenda masa depan:
Suatu hari, ketika kaisar hendak mengadakan audiensi, Wencheng (nama anumerta Selir Zhang) mengirimnya pergi jauh-jauh ke pintu istana istana, membelai punggungnya dan berkata: "Suamiku, jangan lupa, komisaris pelayan istana hari ini." Kaisar berkata, "Oke, oke." Ketika dia mengeluarkan dekritnya, Bao Zheng meminta untuk berbicara. Bao berbicara panjang lebar tentang alasan untuk menentang, mengucapkan ratusan kalimat berulang kali, suaranya begitu keras dan gelisah sehingga ludah memercik ke wajah kaisar. Kaisar, untuk menghentikannya, menyerah (atas dekrit). Wencheng, ... saat menerima (kaisar), membungkuk dan berterima kasih. Kaisar, menyeka wajahnya dengan lengan bajunya, berkata: "... Yang kamu tahu hanyalah meminta komisaris pelayan istana, komisaris pelayan istana. Tidakkah kamu tahu bahwa Bao Zheng adalah wakil kepala sensor?"

Selama tahun-tahunnya dalam dinas pemerintah, Bao memiliki tiga puluh pejabat tinggi yang diturunkan atau diberhentikan karena korupsi, penyuapan, atau melalaikan tugas. Selain itu, sebagai sensor kekaisaran, Bao menghindari hukuman meskipun banyak sensor kekaisaran kontemporer lainnya telah dihukum karena pernyataan kecil.
Pada 1057, Bao diangkat sebagai hakim ibu kota Bian (sekarang Kaifeng). Bao memegang posisi itu hanya untuk jangka waktu satu tahun, tetapi ia memprakarsai beberapa reformasi administrasi material, termasuk mengizinkan warga untuk secara langsung mengajukan keluhan kepada administrator kota, sehingga melewati pegawai kota yang diyakini korup dan membayar pegawai lokal. keluarga yang kuat.
Meskipun Bao mendapatkan banyak ketenaran dan popularitas dari reformasinya, pelayanannya setelah masa jabatan sebagai Hakim Bian kontroversial. Misalnya, ketika Bao memberhentikan Zhang Fangping (張方平), yang merangkap tiga jabatan penting, Bao diangkat ke jabatan tersebut sebagai penerus Zhang. Ouyang Xiu (欧阳修) kemudian mengajukan teguran terhadap Bao.
Bao juga pernah menjadi Menteri Keuangan. Meskipun berpangkat tinggi di pemerintahan, Bao menjalani kehidupan sederhana seperti orang biasa.
Selain tidak toleran terhadap ketidakadilan dan korupsi, Bao terkenal karena kesalehan anak dan sikapnya yang keras. Pada masa hidupnya, Bao mendapatkan nama "Hakim Berwajah Besi" (鐵面判官) dan juga dikatakan di antara publik bahwa senyumnya "lebih langka daripada air jernih di Sungai Kuning".
Karena ketenarannya dan kekuatan reputasinya, nama Bao menjadi sinonim dengan "pejabat jujur dan jujur" (清官) yang diidealkan, dan dengan cepat menjadi subjek populer dari drama dan sastra vernakular awal. Bao juga dikaitkan dengan dewa Yanluo (Yama) dan "Birokrasi Neraka" dari Marchmount Timur, karena kemampuannya untuk menilai urusan di akhirat serta dia menilai mereka di alam kehidupan.

Keluarga
Bao Zheng memiliki dua istri, Nyonya Zhang dan Nyonya Dong. Bao memiliki satu putra, Bao Yi (鍖呯苟), lahir 1033, dan dua putri dengan Lady Dong. Putra tunggalnya Bao Yi meninggal pada tahun 1053 dalam usia yang relatif muda saat menjadi pejabat pemerintah, dua tahun setelah pernikahannya dengan Lady Cui (宕旀皬). Putra Bao Yi, Bao Wenfu (鍖呮枃杈?, meninggal sebelum waktunya pada usia lima tahun.
Namun, ketika seorang pembantu muda Lady Sun (濯靛瀛欐皬) di keluarga Bao Zheng hamil, Bao menyuruhnya pulang ke kampung halamannya. Nyonya Cui, istri Bao Yi, mengetahui bahwa pembantunya sedang mengandung anak ayah mertuanya, terus mengirim uang dan pakaian ke rumahnya. Setelah kelahiran putra Nyonya Sun bernama Bao Yan (鍖咅珓? pada tahun 1057, Nyonya Cui diam-diam membawanya ke rumahnya untuk mengasuhnya. Tahun berikutnya, dia membawanya kembali ke ayah kandungnya, sehingga memungkinkan kelanjutan garis keluarga Bao. Bao Zheng dan istrinya sangat bersukacita, dan mereka mengganti nama putra baru mereka menjadi Bao Shuo (鍖呯冬).
Istri Bao Yi, Lady Cui, sangat dipuji dalam sumber-sumber resmi atas pengabdiannya pada perlindungan garis keluarga. Kisah ini sangat berpengaruh pada pembentukan legenda bahwa Bao Zheng dibesarkan oleh kakak iparnya, yang ia sebut "ibu ipar" (瀚傚).

Kematian
Bao meninggal di Ibu Kota Kaifeng (sekarang Kaifeng, Henan) pada tahun 1062. Tercatat bahwa dia meninggalkan peringatan berikut untuk keluarganya:
Setiap keturunan saya yang melakukan suap sebagai pejabat tidak diperbolehkan pulang atau dimakamkan di tempat pemakaman keluarga. Dia yang tidak berbagi nilai-nilai saya bukanlah keturunan saya.
Bao dimakamkan di Daxingji pada tahun 1063. Makamnya dibangun kembali oleh pejabat Jalan Huaixi pada tahun 1066. Lady Dong meninggal pada tahun 1068 dan dimakamkan di sebelahnya.
Pemakaman Bao Gong (包公墓园) dibangun kembali di sebelah Kuil Bao Gong di Hefei di kawasan hutan Henan pada tahun 1985 dan selesai pada tahun 1987 untuk melestarikan sisa-sisa Bao Zheng dan artefak dari bekas makam. Adapun lokasi yang tepat untuk sisa Bao Zheng dan keluarganya tetap, keturunannya tetap bungkam.

Keturunan terkenal
Generasi ke-9: Bao Hui
Generasi ke-27: Bao Fang Wu
Generasi ke-28: Pao Siu Loong
Generasi ke-29: Yue-Kong Pao, Yue-Shu Pao, Pao Teh-ming
Generasi ke-30: Anna Pao Sohmen, Bessie Pao Woo, Cissy Pao Watari, Doreen Pao
Generasi ke-32: Bao Zhenming
Generasi ke-33: Bao Huacheng, Bao Huazhang, Bao Huabing, Bao Huajun, Bao Huaxiu, Bao Shengdong, Run Bao, Anthony Bao, Tino Bao
Generasi ke-34: Bao Tingzheng, Bao Wei, Bao Dan, Bao Huifang, Bao Yong, Bao Zunxin

Tradisi sastra
Kisah-kisah Bao Zheng diceritakan kembali dan dilestarikan khususnya dalam bentuk seni pertunjukan seperti opera Cina dan pingshu. Bentuk tertulis dari legendanya muncul di Dinasti Yuan dalam bentuk Qu. Fiksi vernakular Hakim Bao populer di Dinasti Ming dan Qing. Seorang protagonis umum fiksi gong'an, cerita Hakim Bao berputar di sekitar Bao, seorang hakim, menyelidiki dan memecahkan kasus kriminal. Ketika Sherlock Holmes pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Cina pada Dinasti Qing, orang Cina menyebut Sherlock sebagai "Hakim Bao dari Inggris."

Di Dinasti Yuan, banyak drama (dalam bentuk qu dan zaju) yang menampilkan Bao Zheng sebagai tokoh sentral. Lakon tersebut antara lain:
Rescriptor Bao dengan Cerdik Menyelidiki Lingkaran Kapur (包待制智勘灰闌記) oleh Li Qianfu
Rescriptor Bao Tiga Kali Menyelidiki Mimpi Kupu-Kupu (包待制三勘蝴蝶夢) oleh Guan Hanqing, terjemahan bahasa Inggris dapat ditemukan di Yang & Yang 1958
Rescriptor Bao Cleverly Executes Court Official Lu (包待制智斬魯齋郎) oleh Guan Hanqing, terjemahan bahasa Inggris dapat ditemukan di Yang & Yang 1958 (sebagai The Wife-Snatcher)
Rescriptor Bao Sells Rice at Chenzhou (包待制陳州糶米), terjemahan bahasa Inggris dapat ditemukan di Hayden 1978
Ding-ding Dong-dong: The Ghost of the Pot (玎玎當當盆兒鬼), terjemahan bahasa Inggris dapat ditemukan di Hayden 1978
Rescriptor Bao Cerdik Menyelidiki Bunga Halaman Belakang (包待制智勘後庭花) oleh Zheng Tingyu, terjemahan bahasa Inggris dapat ditemukan di Hayden 1978

Juga ditemukan dari periode ini termasuk beberapa balada yang telah diterjemahkan oleh Wilt L. Idema pada tahun 2010.
Novel abad ke-16 Bao Gong An oleh An Yushi (安遇時) (diterjemahkan sebagian oleh Leon Comber pada tahun 1964) meningkatkan popularitasnya dan menambahkan elemen detektif pada legendanya.
Novel abad ke-19 The Seven Heroes and Five Gallants oleh pendongeng Shi Yukun (石玉昆) (sebagian diterjemahkan oleh Song Shouquan pada tahun 1997 serta Susan Blader pada tahun 1997) menambahkan sentuhan wuxia pada ceritanya.
Di Paviliun Sepuluh Ribu Bunga (萬花樓), Lima Macan Taklukkan Barat (五虎平西), Lima Macan Taklukkan Selatan (五虎平南) dan Lima Macan Taklukkan Utara (五虎平北), empat seri wuxia novel yang disusun oleh Li Yutang (李雨堂) selama Dinasti Qing, Bao Zheng, Di Qing dan Yang Zongbao muncul sebagai karakter utama.
Dalam Apa yang Tidak Akan Didiskusikan oleh Guru (子不語), sebuah biji Dinasti Qing oleh Yuan Mei (袁枚), Bao Zheng serta keyakinan bahwa ia mampu menilai urusan manusia dan makhluk gaib ditampilkan.


#Historikal #History 
#WuxiaIndonesia #WuxIn #Wuxia
#JaksaBao #BaoZheng #WoLong

Friday, January 7, 2022

KALA PENGADILAN MEMVONIS POTONG TANGAN SULTAN MUHAMMAD AL FATIH

Beginilah keadilan ditegakkan sehingga Islam jaya.

KALA PENGADILAN MEMVONIS POTONG TANGAN SULTAN MUHAMMAD AL FATIH
------
Sultan Al Fatih secara nyata membuktikan kebenaran Hadist Rasulullah akan takluknya Konstantinopel di tahun 1453. Penaklukkan itu membuat gempar seantero dunia.

Sultan Al Fatih kemudian mengubah Konstantinopel menjadi pusat ibukota Utsmaniyah. Selama kepemimpinan Sultan Al Fatih, Utsmaniyah mencapai puncaknya. Kehidupan berjalan baik dan maju. Namun hasrat Sultan Al Fatih untuk terus menaklukkan tak terhenti. Bahkan dia sempat merangsek menuju kota Roma. Hal inilah yang membuat penguasa Roma, mengungsi dari singgasananya.

Meski demikian, kepemimpinan Sultan Al Fatih di dalam negeri bisa dibilang cukup adil. Hukum yang diterapkan benar-benar berwibawa. Malah dia sendiri sempat divonis bersalah hukuman potong tangan oleh Mahkamah al Isti’naf (pengadilan) di era itu.

Kasusnya bermula ketika Sultan Al Fatih berniat mendirikan sebuah masjid Jami’ di kota Islambol itu. Dia kemudian menugaskan seorang Insinyur Romawi, Epsalanti, untuk memimpin dan mengawasi proyek pembangunan Masjid itu. Epsalanti memang dikenal insinyur yang mumpuni.

 Salah satu perintah Sultan, bahwa tiang-tiang Masjid Jami’ itu mesti dibuat dari bahan marmer. Tiang-tiang itu juga harus dibuat tinggi, agar Masjid Jami’ bisa dilihat dari berbagai penjuru. Sultan Al Fatih pun menentukan batas ketinggian yang harus dicapai itu. Perintah itu langsung ditujukannya kepada Epsalanti tadi.

Akan tetapi dalam pembangunannya, Epsalanti malah memotong tiang-tiang itu. Hingga ketinggian tiang Masjid Jami’ itu tak seperti yang dipesan oleh Sultan. Epsalanti bersikap demikian karena suatu sebab. Ketika Sultan mengetahui hal itu, dia marah besar. Epsalanti dianggap melakukan pencurian karena mengurangi ketinggian tiang-tiang tadi. Sultan Al Fatih pun memerintahkan agar tangan Epsalanti dipotong.

Ternyata keputusan itu langsung dieksekusi. Tangan Epsalanti dipotong. Pasalnya tiang-tiang yang sudah dibawa dari tempat yang jauh, menjadi tak berguna sama sekali. Perintah potong tangan itu dikeluarkan Sultan Al Fatih dalam keadaan emosi dan marah.

 
Tapi nasi sudah jadi bubur. Tangan Epsalanti sudah terpotong. Sultan Al Fatih pun sempat menyesali keputusannya itu. Karena dianggapnya perintah itu terlalu berlebihan.

Namun di mata Epsalanti, tindakan Sultan itu sudah kelewatan. Itu sudah dianggap sebuah kedzaliman, begitulah pandangan Epsalanti. Alhasil dirinya pun mengadukan Sultan Al Fatih kepada Mahkamah Al Isti’naf itu.

Di Mahkamah itu ada seorang Qadhi yang dikenal adil. Namanya Syaikh Shari Khidr Jalabi. Dialah yang kemudian mengadili kasus ini. Qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi kemudian mengutus orang untuk memanggil Sultan Al Fatih untuk datang ke pengadilan. Karena, walau sebagai Sultan, Al Fatih mendapat aduan dari seorang rakyatnya yang menuntut keadilan.
Mendapat panggilan dari Qadhi, Sultan tak ragu menghadiri pengadilan itu. Ketika hari persidangan, Sultan Al Fatih pun masuk ke ruangan sidang. Sultan Al Fatih kemudian duduk di barisan tempat duduk yang disediakan. Tapi sikap Sultan itu kemudian dihardik oleh qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi.

“Anda tidak boleh duduk, Tuan!” hardik sang Qadhi, tanpa ragu. Sultan Al Fatih terkejut. Dia terdiam.

“Engkau harus tetap berdiri di samping lawan engkau itu,” tegas Qadhi lagi.

Sultan Al Fatih pun menurut. Sosok yang begitu disegani oleh belantara Eropa, diam seribu bahasa didepan sang Qadhi. Karena Al Fatih sangat mematuhi hukum Islam.

Kemudian Sultan Al Fatih berdiri berjejer dengan Epsalanti itu. Sang Insiyur itu kemudian membeberkan kedzaliman yang telah diterimanya itu. Ketika giliran Sultan berbicara, Al Fatih mendukung apa yang telah dijelaskan oleh sang Insiyur. Dia tak membantahnya.

Setelah Sultan Al Fatih selesai bicara, ia pun diminta berdiri. Qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi berpikir sejenak. Tidak lama kemudian Qadhi itu mengeluarkan vonisnya untuk Sultan Al Fatih.
“Berdasarkan aturan-aturan Syariat, maka tangan engkau juga harus dipotong sebagai bentuk qishash, wahai Sultan!”

Yang terkejut justru sang insinyur ketika mendengarkan putusan itu. Dia tak menyangka, seorang Sultan Islam, yang menunjuk Qadhi itu sebagai hakim, malah dikenakan hukuman potong tangan oleh qadhi itu sendiri.

Tubuh Epsalanti sampai bergetar mendengar putusan qadhi itu, atas kasus yang dilaporkannya. Sultan Al Fatih hanya terdiam sembari berdoa. Epsalanti sama sekali tak menyangka vonis seperti itu yang bakal dikeluarkan oleh qadhi. Padahal niat awal Epsalanti adalah dia menuntut ganti rugi karena tangannya telah dipotong.

Epsalanti kemudian bangkit. Dengan suara gemetar, tercekak dan terbata-bata, dia malah memutuskan untuk menarik kasusnya itu.

“Saya tak menyangka hasilnya seperti ini, saya memutuskan untuk menarik pengaduan saya terhadap Sultan,” tutur Epsalanti terbata-bata. Padahal Sultan Al Fatih sudah sangat menerima putusan itu. Karena hal itu merupakan konsekwensi yang harus ditegakkan bagi seorang muslim.

Epsalanti pun berujar lagi bahwa sesungguhnya dia berharap adanya ganti rugi belaka atas kasus yang dialaminya. Karena dia beralasan memotong tangan Sultan Al Fatih sama sekali tak memberi manfaat buat dirinya.

Karena permintaan Epsalanti yang seperti itu, Qadhi pun memutuskan agar Sultan Al Fatih membayarkan 10 keping Dinar kepada Epsalanti, sebagai ganti rugi atas memotong tangannya. 10 Dinar itu mesti dibayarkan Sultan Al Fatih setiap bulan kepada Epsalanti. Begitulah hukuman itu dijatuhkan.

Namun Sultan Al Fatih memutuskan untuk membayar 20 Dinar setiap hari sepanjang hidupnya kepada sang insinyur itu. Hal itu dilakukan Sultan Al Fatih sebagai hadiah atas ungkapan kegembiraannya karena lolos dari hukuman qishash dan bentuk penyelesaiannya atas kasus itu.

Begitulah sistem peradilan Islam. Kisah keadilan seperti ini tentu sangat muskyl ditemui dalam sistem hukum yang tak merujuk pada Al Quran dan As Sunnah dalam Negara Islam.

Sumber: Kitab Rawai’ min at-Tarikh al-‘Usmani.

Wednesday, December 29, 2021

Percakapan Pasien RS dengan Jururawat Pria di suatu RS

*KISAH NYATA,*


*Percakapan Pasien RS dengan Jururawat Pria di suatu RS*


*BUAT PERINGATAN DIRI SAYA DAN SAHABAT-SAHABAT SEMUA*


*Pasien:* 

*"Abang Jururawat, seneng ya kerja di Rumah Sakit ? Sdh lama ya kerja di sini ?"*     

 

*Jururawat:"Lumayanlah, ada suka-dukanya. Tapi, selama 5 th kerja di sini, banyak dpt pengalaman yg sangat berkesan, yg orang luar sana tidak akan mengetahuinya".* 

        

*Pasien:* 

*"Apa yg menyenangkan? Perawat-perawatnya (Suster-susternya) cantik-cantik ya?" *       

 

*Jururawat:* 

*"Bukan. Itu biasa saja. Ada lagi yg lebih mengesankan".*       

 

*Pasien:* 

*"Wah, apa itu?"*   

 

*Jururawat:*

*"Di sini setiap hari saya melihat pasien meninggal dunia. Kerja saya ngurusi kencing & kotoran mereka, bersihkan mereka sampai ke urusan jenazah."*

 

*"Apa yg saya lihat sepanjang saya bekerja di RS ini, betapa ramainya di antara mereka, baik yg sdh meninggal...maupun sebelum meninggal, yaitu meminta-minta apakah ada dari keluarga ahli waris atau jururawat yg bawa kitab al-Qur'an ?"*

 

*"Ada yg tidak bisa baca al-Qur'an, ada yg nyuruh kami membacakannya. Ada juga yg tidak sempat sentuh al-Qur'an, tidak sempat membaca al-Qur'an namun Allah telah mengambil nyawanya."*


*"Saat dibacakan al-Qur'an, mereka berlinangan air mata"*.         


*"Saya lihat betapa orang-orang yg berada di saat2 akhir kehidupannya, sebagian besar ingin sekali menyentuh al-Qur'an. Kalau bisa, maunya mati dg memeluk al-Qur'an. Pengalaman-pengalaman yg saya lalui di sini, membuat hati ini insaf, sadar, tentang satu hal yg sangat penting."*    

 

*Pasien:* 

*"Hmm, apa itu?"*    

 

*Jururawat:* 

*"Apa yg kita biasa pegang ketika kita masih sehat, apa yg biasa kita baca dan belai ketika masih hidup......itu jualah yg kita akan dapat pegang dan sentuh di akhir hayat kita."* 

 

*"Jika kita selalu pegang handphone di setiap waktu ...sholat tidak tepat waktu ... sepanjang waktu memegang HP dan sibuk dg gadget..... maka mungkin pula di akhir hayat kita nanti...itu pula yg akan kita kerjakan*. 

 

*Dapatkah kita sentuh dan pegang al-Qur'an? Sedangkan tangan kita tidak biasa memegang al-Qur"an, sehari sekali pun susah kita membuka al-Qur'an, apalagi membaca atau mentadabburinya...Yaa..Allah... Yaa Rahman ... Yaa Rahim..*

 

*Sungguh, kita sdh tidak akan perlu handphone atau gadget lagi di akhir nyawa kita.....kita sangat memerlukan al-Qur'an.... Barulah kita sadar saat itu, bhw waktu yg kita miliki selama ini sdh terbuang sia-sia begitu saja......Yaa Allah, ampunilah aku*..."       

 

*Pasien   (meneteskan air mata..) dan kmd berkata:* 

*"Mas Jururawat tolong bacakan saya al-Qur'an...saya tidak bisa membaca al-Qur'an..saya buta tajwid..."*

 

*Jururawat itu tersenyum, kmd dikeluarkannya al-Qur'an mini dari dlm saku / kantong bajunya, lalu dia membacakannya kepada pasien tsb*     

 

*✔Hampir 9 dari 10 pasien yg beragama Islam, yg berada di Rumah Sakit itu kebanyakannya memperlihatkan wajah penuh kesedihan serta menyesal, menyesal & menyesal tidak mengambil kesempatan untuk membaca al Qur'an di saat sehat & lapang ?*       


*✔Wajah-wajah ketakutan & seram, bila sdh ambang maut, bila maut sdh mendekati ? Naudzubillahi minzalik*  

 

*Saya sbg penulis KISAH ini tersadar pula akan waktu yg sdh tersia-siakan. Juga bagi pembaca yg membaca postingan ini, belum terlambat dan pintu taubat masih terbuka luas untuk kita memuliakannya (al Qur'an, Hadist, dan waktu)... Insyaa Allah*


*Yg singkat itu, "WAKTU"*


*Yg menipu itu, "DUNIA"*


*Yg dekat itu, "KEMATIAN"*


*Yg besar itu, "HAWA NAFSU"*


*Yg berat itu, "AMANAH"*


*Yg sulit itu, "IKHLAS"*


*Yang mudah itu, "BERBUAT DOSA"*


*Yg susah itu, "SABAR"*


*Yg senantiasa lupa itu, "BERSYUKUR"*


*Yg membakar amal itu, "MENGUMPAT"*


*Yg membawa ke neraka itu "LIDAH"*


*Yg berharga itu, "IMAN"*


*Yg menentramkan hati itu, "selalu mengingat Allah, berzikir, serta teman2 sejati yg senantiasa mengingatkan kita"*


*Yg ditunggu Allah Subhana Wa Ta'ala itu "TAUBAT"*


*Semoga bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi..*


*Silahkan share sebanyak2nya, sebagai pengingat dan nasehat diri...*

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

By R & R


Friday, December 3, 2021

MAMAKU PEREMPUAN LUAR BIASA..

MAMAKU PEREMPUAN LUAR BIASA...

(Kisah nyata 😭😭😭)


Namaku Chicha Koeswoyo.
Aku lahir dari orangtua yang berbeda agama. Papaku, *Nomo Koeswoyo*, beragama Islam dan masih keturunan *Sunan Drajat*, salah seorang *Wali Songo*. Seorang wali yang sangat terkenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Jawa Timur. 

Mamaku seorang perempuan Kristen yang taat. Beliau masih berdarah Belanda. Dan banyak saudara-saudara dari pihak Mama yang menjadi pendeta. 
Walaupun berbeda agama, Papa dan Mama tidak pernah mempunyai masalah. Keduanya hidup berbahagia dan saling menghargai kepercayaan masing-masing.

Sejak kecil aku dididik secara Kristen. 
Seperti anak-anak Kristen lainnya, aku diikutsertakan di sekolah Minggu. Setiap kali pergi untuk melaksanakan kebaktian, Papaku sering mengantarkan kami ke gereja. Intinya, kami adalah keluarga yang sangat berbahagia. Baik hari Natal ataupun Hari Lebaran, rumah kami selalu meriah. Semua bersuka-cita merayakan kedua hari besar tersebut.

Usiaku sudah menginjak 16 tahun dan duduk di bangku kelas 1, SMA Tarakanita. Rumah tempat tinggal kami sangat berdekatan dengan masjid. 
Terus terang, aku sangat terganggu dengan suara azan, apalagi di saat magrib. Suara azan dari Toa masjid begitu keras dan sangat memekakkan telinga. Belum lagi suara azan dari televisi. 
Setiap kali azan magrib berkumandang, aku matikan televisi karena di semua chanel, semua stasiun menayangkan azan yang sama.

Di suatu magrib terjadilah sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Ketika itu azan magrib muncul di layar TV. Seperti biasa aku mencari remote control untuk mematikan televisi. Namun hari itu aku tidak bisa menemukannya. 
Dengan hati kesal kutelusuri sela-sela sofa, kuangkat semua bantal, kuperiksa kolong meja tapi alat pengontrol jarak jauh itu tidak juga terlihat. Karena putus asa, aku terduduk di sofa lalu duduk menatap layar TV yang sedang menayangkan azan dengan teks terjemahannya. 
Lalu apa yang terjadi?

Sekonyong-konyong hatiku menjadi teduh. Baris demi baris terjemahan azan tersebut terus kubaca dan entah karena apa, hati ini semakin sejuk. 
Aku seperti orang terhipnotis dan tubuh ini terasa sangat ringan dengan perasaan yang semakin lama semakin nyaman. Di dalam benak ini sekan-akan ada suara yang berkata padaku, 
_“Sampai kapan kau mau mendengar panggilanKu, Chicha. Sudah berapa tahun Aku memanggilmu, masihkah kau akan terus berpaling dariKu?”_

Lalu aku menangis. Entah karena sedih, marah, bingung, galau, hampa, takut atau mungkin juga semua perasaan itu ada dan berbaur menjadi satu. 
Aku terus menangis tanpa tau harus melakukan apa.

Esok harinya, aku curhat pada adikku. Kami berdua memang sangat dekat satu sama lain. 
Adikku ini ternyata sangat berempati atas apa yang menimpaku. Dia tidak mengeluarkan satupun kata yang menyalahkan kakaknya bahkan dia berkata, _“Aku akan support apapun kalau itu memang membahagiakan Kakak.”_

_“Terima kasih, Dik. Sekarang ikut, Kakak, yuk?”_

_“Ikut ke mana?”_ tanyanya.

Dengan diam-diam kami berdua pergi ke sebuah toko muslim yang letaknya tidak jauh dari rumah. 
Di sana kami membeli mukena, Kitab Suci Al’Quran dengan tafsir dan terjemahannya. 
Tidak lupa sebuah buku yang berjudul ‘Tuntunan Sholat’. 

Sesampainya di rumah, kami berdua mempelajari cara berwudhu, melakukan sholat dan menghafal bacaannya. 
Setelah dirasa mampu, kami berdua mencoba mendirikan sholat bersama-sama. 
Perbuatan kami tentu saja di luar pengetahuan kedua orangtua. 
Pernah suatu kali Mama mengetuk pintu dan sangat marah karena kami mengunci kamar dari dalam. 
Begitu mendengar teriakan Mama, secepat kilat kami membuka mukena dan menyembunyikannya di laci paling atas.

_“Dengar, ya, Nduk! Kalian nggak boleh mengunci pintu kamar. Selama kamu tinggal di rumah Mama, kalian ikut peraturan Mama,”_ bentak ibuku dengan galak.

_“Iya, Ma,”_ sahutku dengan suara perlahan karena tak ingin ribut dengan Mama apalagi kami sangat perlu menjaga kerahasiaan ini.

Waktu terus berlalu. 
Bulan Ramadhan pun datang. 
Tentu saja di bulan suci seperti ini, kami juga ingin melakukan puasa seperti muslim lainnya. 
Berpuasa dari waktu subuh sampai magrib sebetulnya sama sekali tidak sulit. 
Masalah yang lebih pelik datang setiap kali Mama mengajak makan bersama. Mama tentunya curiga karena kami berdua selalu menolak.

_“Aku udah makan di sekolah tadi, Ma,”_ kataku dengan suara bergetar.

Mama menatap aku dengan tajam. Sepertinya dia telah mencium ada yang tak beres dengan kami berdua. Ketegangan pun terjadi. Buatku itu adalah saat yang sangat menegangkan sampai akhirnya Mama menghela napas panjang dan berkata, _“Baiklah kalau begitu.”_

Bulan penuh rahmat berlalu. 
Suara takbir yang begitu merdu di telinga berkumandang. 
Idul Fitri adalah hari kemenangan, dan kami tidak mau kehilangan momen untuk sholat bersama Jemaah yang lain. 
Aku dan Adikku berdiskusi menyusun strategi bagaimana cara pergi ke masjid tanpa sepengetahuan orang rumah. 

Esok harinya, sekitar jam 6.30 pagi, kami mengendap-endap membuka membuka pintu depan. 
Setelah itu membuka pagar sampai terbuka lebar. Kami berdua mendorong mobil dalam keadaan mesin mati supaya tidak terdengar oleh orangtua kami yang masih tenggelam dalam nyenyak. 
Pada satpam yang menjaga rumah, aku berpesan, _“Kalau ada yang tanya, bilang kami mau latihan basket, ya, Pak?”_

_“Siap, Non!”_ kata Sang Satpam entah curiga atau tidak.

Setelah mobil dirasa cukup jauh, aku menghidupkan mobil dan meluncur langsung ke masjid terdekat. 
Sesampainya di sana, banyak tetangga-tetangga menatap kami dengan paras keheranan. Mereka tentu saja bingung karena semua orang tau bahwa aku beragama Kristen. Bahkan barisan ibu-ibu yang duduk tepat di depan kami langsung mendekatkan kepalanya dan berbisik kepada kami.

_“Cha, ngapain kamu di sini? Sholat Idul Fitri itu buat kaum muslim. Kamu kan Kristen?”_

Aku cuma tersenyum dan tidak berusaha menjawab. 
Sementara ibu-ibu lain terus berkasak-kusuk sambil menengok bahkan ada yang menunjuk-nunjuk ke arah kami.  
Kami bergeming dan tidak mempedulikan sikap orang yang merasa aneh dengan kehadiran kami. 
Dan akhirnya sholat Idul Fitri dapat kami ikuti dengan sukses. 
Dengan hati berbunga-bunga kami kembali pulang. 
Alhamdulillah...

Baru saja sampai di depan pagar, di depan rumah telah berdiri Papa dan Mama. 
Mereka membantu membuka pagar, membuka pintu mobil lalu Mama langsung menlontarkan pertanyaan tanpa basi-basi.

_“Dari mana kalian?”_ tanya Mama dengan suara keras.

_“Abis latihan basket, Ma,”_ sahutku. 
Kami berdua memang telah berganti pakaian dan semua mukena dan sajadah sudah dimasukkan ke dalam tas dengan rapih.

_“Kalian jangan berbohong, ya? Mama menangkap ada yang aneh dengan kalian berdua,”_ kata Mama lagi.

Aku menatap Mama yang nampak sangat kesal. 
Sementara Papa cuma cengar-cengir bahkan mengedipkan sebelah matanya pada kami. 

_“Kami latihan basket, Ma. Masa Mama gak percaya sama anak sendiri?”_ kata adikku.

Rupanya omongan Adik membuat hati Mama tersentuh juga. Seperti sebelumnya, dia menatap kami bergantian dengan tajam, menghela napas panjang lalu berkata dengan suara halus, _“Hmm…baiklah kalau begitu.”_

_“Yuk, kita ke atas, Ma,”_ kata Papa sambil menggamit tangan Mama untuk mengajaknya pergi dari situ. Sebelum masuk ke dalam rumah, Papa sempat-sempatnya menengok ke arah kami dan mengedipkan sebelah matanya sekali lagi sambil tersenyum dengan paras jail...

Aku masih termangu-mangu di depan rumah. Kecurigaan Mama mulai menghantui perasaanku. _‘Sampai berapa lama aku bisa mempertahankan rahasia ini?’_ tanyaku dalam hati. 
_‘Daripada Mama yang menemukan rahasia ini, bukankah beliau lebih baik mengetahui semuanya langsung dari anaknya sendiri?’_

_“Mama!”_ Aku memanggil dan mengejar Mama yag sudah berada di dalam rumah.
Mama dan Papa membalikkan badan dan menunggu apa yang akan disampaikan anaknya. 
Kembali kediaman berulang. Sesaat aku gentar hendak menyampaikan berita ini.

_“Ya, Cha? Kamu mau ngomong apa?”_ tanya Papa.

Keheningan kembali mendominasi. 
Bibirku bergetar. 
Semua kata dalam tenggorokan telah berkumpul dan berdesak-desakan untuk keluar dari bibir. 
Aku masih diselimuti kebimbangan. 
Ngomong, jangan, ngomong, jangan, ngomong, jangan….

_“Chicha masuk Islam, Ma. Chica masuk Islam, Papa. Chicha minta maaf tapi Chicha mendapat hidayah dan tidak bisa menolak panggilan itu...”_ Akhirnya tanpa dikendalikan oleh otak semua kata terlontar begitu saja. 

_"Alhamdulillah...!”_ Di luar dugaan Papa berteriak kegirangan mendengar berita tersebut. 
Tidak cukup melampiaskan kegembiraannya dengan cara itu, beliau langsung berlutut di lantai dan melakukan sujud syukur atas hidayah yang didapat anaknya. 
Melihat sikap Papa, aku tentu saja menjadi lebih tabah. 
Dengan penuh harap, aku memandang Mama, berharap mendapat dukungan yang sama.

Mama menatapku dengan pandangan tidak percaya. 
Matanya melotot, dadanya kembang kempis dan bibirnya bergetar hebat.

_“Hueeeeek…!!!!”_ 
Tanpa diduga tiba-tiba Mama muntah darah dan tubuhnya sempoyongan, untungnya Papa dengan sigap menangkap tubuh Mama dan mendudukkannya di sofa.

_“Mamaaaaaa….!!!”_ 
Aku menangis sejadi-jadinya. 
Bagaimana tidak sedih? 
Tidak ada kesedihan yang paling menyakitkan kecuali mengetahui bahwa kita telah menyakiti hati ibu kita sendiri.

*******

Papa mengurus Mama dengan telaten. 
Perlahan-lahan kesehatan Mama berangsur-angsur membaik. 
Tapi sejak peristiwa itu, Mama tidak mau lagi berbicara denganku. Selama ini, Mama dan aku hubungannya sangat dekat. 
Melihat Mama bersikap seperti itu, aku sedih sekali. 
Berkali-kali aku mengajak Mama berbicara tapi beliau tidak menyahut sehingga aku memutuskan untuk mengalah dan membiarkannya sendiri. 
Itu adalah salah satu periode hidup yang paling menyiksa buatku. 
Tapi mau bagaimana lagi? 
Aku hanya bisa pasrah dan menunggu perubahan sikap Mama.

Bulan demi bulan berlalu. kami masih belum berkomunikasi satu sama lain. Mama sering meninggalkan rumah. Entah kemana. Aku nggak berani bertanya, takut malahan membuatnya lebih marah. 
Sudah 3 bulan aku tidak berbicara dengan Mama. 
Hari-hari yang kuhadapi sering aku isi dengan mengurung diri di kamar sambil membaca sejarah para Nabi. Terutama kisah-kisah Rasullulah yang membuatku semakin mantap menjadi seorang muslim. 

_BRAAkK..!!!_
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan suara keras. 
Aku menengok dan terlihat Mama masuk dengan membawa sebuah kotak yang cukup besar. 
Parasnya dingin dan sulit ditebak apa yang ada di pikirannya.

_“Nduk, Mama mau tanya. Kamu harus menjawab dengan tegas!”_ katanya.

_“Iya, Ma,”_ sahutku dengan suara hampir tak terdengar. 
Dalam hati aku bersorak karena akhirnya Mama mau berbicara lagi.

_“Kamu sudah mantap mau masuk islam?”_ tanyanya lagi tanpa basa-basi.

_“Mantap, Ma. Chicha rasa ini benar-benar panggilan Allah,”_ jawabku pelan tapi tegas.

_“Okay, kalau begitu,”_ kata Mama lalu dia mengangsurkan kotak yang dibawanya ke tanganku.

Dengan terheran-heran, aku menerima kotak tersebut, _“Apa ini, Ma?”_

_“Nggak usah banyak tanya. Kamu buka aja kotak itu sekarang juga.”_

Dengan gerak perlahan, aku membuka kotak tersebut. 
Masya Allah! 
Ternyata isinya adalah Kitab Suci Al Quran, mukena, kerudung, buku-buku agama Islam yang lumayan tebalnya. 

Aku menatap Mama dengan pandangan bertanya.
Mama membalas menatapku dengan tajam, 
_“Kalau kamu ingin menjadi Islam, be a good one..!”_

Mendengar perkatannya, aku menangis dan menghambur ke pelukan Mama. 
Mama memeluk aku seerat yang dia bisa. 
Tangisku makin menjadi-jadi dan membasahi baju Mama di bagian dada.

Setelah tangis mereda, Mama bertanya lagi, _“Kamu sudah resmi masuk islam?”_

_“Chicha udah ngucapin dua kalimat syahadat, Ma.”_

_“Disaksikan oleh ustad atau Kyai?”_

_“Nggak sih, Ma. Chicha ngucapin sendiri aja.”_

_“Berarti kamu belum resmi masuk Islam. Besok Mama akan antar kamu ke Mesjid Al Azhar di Jalan Sisingamangaraja. Mama udah bikin janji dengan Kyai di sana untuk mengislamkan kamu.”_

_“Huhuhuhuhuhu…”_ Aku nggak sanggup untuk mengatakan apa-apa kecuali memeluk Mama lagi sambari menangis menggerung-gerung. 
Setelah perlakuan Mama yang mendiamkan aku selama tiga bulan, siapa sangka Mama akan bersikap begini akhirnya. Mamaku memang luar biasa.

Esok harinya, di *Masjid Al Azhar*, aku resmi memeluk agama Islam di usia *16 tahun*. 

Ah, bahagianya sulit dilukiskan...

Setelah ritual mengucapkan dua kalimat syahadat berakhir, aku menarik Mama untuk menuju ke mobil dan kembali pulang ke rumah.

_“Eh, tunggu dulu, Nduk. Sekarang kamu harus ikut Mama ke belakang.”_

_“Ke belakang mana, Ma?”_ tanyaku keheranan.

_"Ke SMA Al Azhar. Kamu harus pindah sekolah ke sana.”_

_“Loh? Kenapa harus pindah? Chicha udah betah sekolah di Tarakanita. Semua teman-teman Chicha ada di sana. Chicha nggak mau pindah.”_

_“Nduk! Denger kata Mama. Kalau kamu serius pindah ke Islam, kamu nggak boleh setengah-setengah.”_

_“Maksudnya gimana, Ma?”_

_“Tarakanita itu sekolah Kristen. Kalau kamu pindah Islam maka kamu harus bersekolah di sekolah Islam. Sekali lagi Mama bilang, kamu nggak boleh setengah-setengah. Ini peristiwa besar dan pilihan hidup kamu. Mama mau kamu total dalam menyikapi pilihan kamu sendiri.”_

Lagi-lagi sikap Mama membuatku kagum bukan main. 
Sepertinya dia telah mempersiapkan semuanya dengan baik dan terencana.

_“Mama kok bisa-bisanya punya pemikiran seperti ini?”_ tanyaku penasaran.

Mama menghela napas panjang lagi lau berucap, _“Sejak kamu mengatakan mau masuk Islam, Mama sering berkonsultasi dengan teman Mama yang muslim. Mama minta pendapat dia dan dia banyak menasihati Mama soal ini.”_

_“Oh, pantes Mama sering pergi belakangan ini. Biasanya kan Mama selalu di rumah.”_

_“Iya, Cha. Mama butuh support dan teman Mama itu sangat membantu sehingga membuat Mama jauh lebih tenang.”_

_“Kalau boleh tau, teman Mama siapa namanya?”_ tanyaku lagi.

_“Namanya *Doktor Zakiah Darajat*.”_

_“Itu temen Mama? Wah dia orang hebat di kalangan Islam, Ma.”_

_“Betul. Nama belakangnya mirip dengan *Sunan Drajat*, leluhur Papa kamu. Jadi setelah kamu resmi masuk Islam, rasanya kamu juga perlu berziarah ke makam beliau.”_

Sekali lagi aku memeluk Mamaku. 
Jadi selama tiga bulan ini, dia mendiamkan anaknya bukan karena hendak mengacuhkan tapi beliau tidak tau harus bersikap bagaimana. 
Beliau hendak mencari penerangan pada apa yang terjadi pada anaknya. 
Sudah pastilah Mama kebingungan tapi akhirnya setelah mendapat pencerahan dari *Doktor Zakiah Darajat*, 

Mama sekarang malah mendukung pilihan anaknya. Pilihan anak yang berbeda dengan keyakinannya. 

Ah Mamaku memang luar biasa...

Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya aku hendak mengajak Mama untuk turut memeluk agama Islam. 
Tapi aku mengurungkan niat itu. 
Apa yang terjadi padaku pastilah sudah berat buat Mama. 
Bagaimana mungkin aku mampu mempengaruhinya sementara saudara-saudaranya banyak yang menjadi pendeta. Beban Mama sudah sangat berat. 
Semua butuh waktu. 
Kalau memang Allah SWT mengizinkan, apa yang untuk manusia pikir tidak mungkin pastinya akan terjadi jika Allah berkehendak. 

Waktu berjalan tanpa pernah berhenti. 
Dengan hati tenteram, aku menjalani hidup sebagai perempuan muslim. 

Tahun 2002, Mama meninggal dunia. 
Tiga bulan sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau juga *menjadi mualaf* dan *memeluk agama Islam*. 

Alhamdulillah..! 
Terima kasih, ya, Allah..!

Ah Mamaku memang luar biasa...!

*******
Persembahan buat semua perempuan hebat di Indonesia..!

Copas dari WAG.

Tuesday, November 9, 2021

MENYINDIR DIRI SENDIRI


MENYINDIR DIRI SENDIRI
_Oleh : Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)_ 

Tidak tua
Tidak muda
Tidak laki-laki
Tidak perempuan
Kalau sudah taruh HP, ditinggal sebentar dilihat lagi, ditutup sebentar dibuka lagi..... 

Semua sayang banget sama yang namanya HP,
Bepergian ngantongi HP,
Kumpul-kumpul sama teman bawa tas isinya HP,
Sehari HP bisa keluar-masuk dari tas atau saku kemeja lebih dari lima puluh kali .

Habis mandi, lihat HP
Habis nyapu, lihat HP
Habis masak, lihat HP
Habis nyuci, lihat HP
Habis makan, lihat HP
Habis kedatangan tamu, lihat HP
Habis bangun tidur, lihat HP
Tengah malam terjaga, lihat HP

Pokoknya asal habis apa saja, yang dilihat HP...
Karena setianya sama HP, pulsa tinggal sedikit cepat-cepat dibelikan

Low-batt satu strip bingung cari colokan listrik ,

Sinyalnya lemah bingung cari tempat,
Apa lagi kalau pas low-batt listrik mati lagi, PLN yang diumpat .. .. .. 

Dipanggil suami/ istri pura2 tidak dengar...
HPnya bunyi langsung lari mencari di mana
HP ditaruhnya tadi.

Pokoknya kalau sudah selesai acara apa saja yang dicari HP...

Kalau perempuan, namanya Nokia Binti Samsung

Kalau laki-laki, namanya Sony Bin Lenovo.

Semoga saya tidak ketularan seperti itu.

Yang merasa seperti itu jangan senyam-senyum sendiri...
Nanti suami/ istri kita tidak paham dengan sikap kita..```

*DO'A UNTUK HP*

```YA ALLAH, ampuni dosa2 saya yang mempunyai HP ini YA ALLAH

Karena saya :                                                
1. Lebih banyak NGISI PULSA daripada SEDEKAH ...
 
2. Lebih banyak baca
SMS/ WA/ FB/ BB daripada baca Al Quran

3. Lebih sering update status daripada update amal sholih kepadamu YA ALLAH...

4. Lebih sering buka BLUETOOTH daripada BERLUTUT SUJUD... 

5. Sering TELPON tapi jarang SILATURAHIM.... 

6. Isi pulsa 10.000 tidak puas, tapi isi KOTAK AMAL 10.000 aja merasa kebanyakan banget.... 

7. Kalau dengar HP bunyi langsung buru-buru angkat sama cengar-cengir, tapi pas suara ADZAN dikumandangkan malah
santai INTERNETAN..

Ya ALLAH.. semoga.. Allah mengampuni dosa-dosa saya yang punya HP ini...

Dan semoga HP yang saya punya ini semoga bermanfaat buat sarana IBADAH kepada-Mu YA ALLAH...

Dan semoga Teman-teman saya yang seperti saya juga ALLAH AMPUNI dosa-dosanya YA, YA ALLAH... 

Aamiin..

Edisi bukan nyindir, tapi mengingatkan diriku sendiri

terima kasih dan mohon maaf bila ada yang tersinggung.. saya juga sama tersinggung, hanya untuk renungan lembut tapi nyata...````
 
*_Semoga bermanfaat._*
------
*Abdullah Gymnastiar*
🤴💎🤴💎🤴💎🤴💎

*Ayo bagikan...🤴💎*
*Jangan tersinggung yaahh 🤣🤣.....*

Friday, November 5, 2021

BELAJAR SEUMUR HIDUP

BELAJAR SEUMUR HIDUP 

Eileen Rachman & Emilia Jakob 

Seorang wirausaha berhasil membangun kerajaan bisnisnya dari nol. Ia mempelajari sendiri semua keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkannya dalam berbisnis. Mulai dari berhubungan dengan supplier, pelanggan, sampai pemerintahan. 

Ia selalu menemukan produk yang tidak terpikirkan oleh orang lain, dan berhasil menjualnya ke pasar. Di bawah pimpinannya, perusahaan maju pesat mencengangkan banyak pihak. Namun, sekarang, ia sudah memasuki usia lanjut dan harus mendelegasikan kepemimpinannya.  Ia sangat berharap bahwa para bawahan dapat mewarisi semangat belajar dan berinovasinya. Ia bahkan menggambarkan keinginannya ini dalam bentuk menggariskan learning organization sebagai budaya perusahaan. Namun, kenyataannya, seiring dengan semakin berkurangnya keterlibatannya di organisasi, derap inovasi, dan agresivitas perusahaan juga mengendur.

Ternyata, tidak gampang menularkan semangat belajar, membutuhkan usaha dan proses yang panjang. Sementara itu, dampak dari kegagalan mewariskan semangat belajar ini terasa pada kurangnya inovasi, tumpulnya strategi dan kultur yang tidak menggambarkan sikap eksplorasi yang tadinya ada pada para founding fathers. Padahal, semua sepakat, kesuksesan perusahaan terjadi karena inovasi yang tiada henti. Alangkah saktinya semangat belajar ini untuk menentukan kelangsungan hidup perusahaan. Bagi wirausaha, ini: personal growth = company growth. Masalahnya adalah bagaimana perusahaan dapat mengamalkan semangat belajar ini sebagai sebuah lifelong learning seluruh insan organisasi sehingga perkembangan perusahaan pun berjalan secara berkesinambungan. 

Di kalangan perusahaan-perusahaan yang tergolong muda seperti Google, lifelong learning merupakan nilai yang sangat penting. Para eksekutif mati-matian menanamkan kebiasaan belajar, bertanya, mempertanyakan, dan membuang kebiasaan berpikir lama-lama. Semangat ini pun diturunkan secara top down. Sundar Pichai, sang CEO, mengontrol sendiri keseluruhan proses ini. Ia sangat menyadari, begitu pembelajaran tidak berjalan baik, pengembangan perusahaan akan mati.   

Tampaknya, hampir semua perusahaan sudah menyadari, pembelajaran sangat dibutuhkan dan harus berlangsung sepanjang hidup perusahaan, bukan hanya sesaat. Apalagi saat seperti sekarang ketika perubahan berjalan demikian cepat. Namun, kita sendiri juga menyaksikan, proses pembelajaran ini tidak selamanya berjalan mulus. Pembelajaran yang dimaksud ini adalah penciptaan pemahaman baru, bukan sekedar transfer pengetahuan yang sudah ada atau sekedar program upskilling

Inilah yang sering menjadi salah kaprah. Dengan diadakannya program-program learning di perusahaan, diasumsikan pembelajaran sudah terjadi. Padahal, sebelum pengetahuan meluas dengan terciptanya knowledge baru, pembelajaran sebenarnya belum terjadi. 

Misalnya saja seorang yang bergerak di bidang marketing, harus melihat bagaimana orang melakukan pemasaran melalui berbagai media sosial sampai ia bisa menemukan insight bagaimana metode marketing yang tepat bagi organisasinya. Teknisi Teknologi Informasi perlu mendalami kemajuan artificial intelligence. Kesemuanya tidak cukup hanya dilakukan sekali, eksplorasi ini berjalan sepanjang hidup. Peter Drucker mengatakan, hal ini termasuk dalam human imperative masa kini. 

Passion of the explorer 

Mengapa orang bisa belajar terus tanpa lelah? Apa yang membedakan individu ini dengan individu yang melihat pembelajaran sebagai proses yang terpotong-potong? Ternyata, ada beberapa hal yang membedakan seorang pembelajar sepanjang hidup dan seorang yang belajar karena diwajibkan atau ingin mempelajari keterampilan tertentu. 

Pertama, para explorer memang memiliki komitmen jangka panjang terhadap area khusus yang diminatinya, meskipun bisa saja berbeda dengan keterampilan yang sedang ditekuninya. Misalnya, seorang ahli keuangan yang senang berbelanja dan membandingkan produk kompetitor perusahaannya menyebabkan rasa ingin tahu yang tidak pernah putus seputar merchandising produk. 

Para explorer ini tidak menganggap kegagalan sebagai sebuah kemunduran. Mereka justru bersemangat dan belajar dari penyimpangan, keanehan dan kejutan-kejutan lainnya. Kesemuanya itu dianggap sebagai tantangan baru dalam usahanya mencari solusi baru. Apakah jumlah individu dengan karakteristik seperti ini banyak di perusahaan? 

Penelitian di Amerika terhadap sejumlah perusahaan menunjukkan bahwa hanya sekitar 14 persen karyawan yang memiliki semangat belajar dengan semangat seperti ini. Mengapa demikian rendah? Bukankah kita semua pernah muda menjadi anak kecil yang selalu mewarnai semangat belajarnya dengan rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, keberanian mengambil risiko dan berhubungan dengan orang lain? Mengapa kita seolah melupakannya dan tidak bersemangat lagi dalam belajar kita sekarang? 

Seorang yang bekerja di departemen procurement untuk sebuah perusahaan produsen mobil, berusaha mencari cara baru agar pihak perusahaan dapat menyeleksi vendor dengan lebih teliti. Ia begitu bersemangat dengan menerapkan metode barunya ini. Namun, rupanya direksi tidak menyukai tindakannya yang dianggap terlalu berani sehingga kariernya pun bermasalah. Fixed mindset seperti ini dapat menyebabkan semangat dan motivasi individu untuk bereksperimen dan menemukan hal baru menjadi padam. Hal inilah yang perlu diperangi bila kita ingin membangun semangat pembelajaran tanpa henti di perusahaan.  

Fokus pada penghambat yang nyata 

Setiap departemen dalam organisasi pasti memiliki ukuran prestasinya sendiri. Hal inilah yang sering menyebabkan sulitnya mengontrol perkembangan spirit belajar. Kita bisa memulainya dengan mencari tahu apa aspek terpenting dalam KPI perusahaan yang menjadi target bersama seluruh departemen. Aspek ini diumumkan ke seluruh perusahaan, lengkap dengan segala langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai target perubahannya. Hargai setiap ide secara positif karena proses belajar tentunya akan lebih mengalir dan membangkitkan semangat bila semua individu saling menghargai ide dan pemikiran satu sama lain. Dengan demikian, upaya membentuk kembali budaya belajar yang penuh semangat pun mulai terbangun. 

Continuous learning is the minimum requirement for success in any field. 

 – Brian Tracy 

EXPERD   |   HR Consultant/Konsultan SDM 

Diterbitkan di Harian Kompas Karier 30 Oktober 2021