Monday, August 20, 2018

Ekonomi Turki membaik Superman-nya Itu Tetangganya Sendiri.

Ekonomi Turki membaik
Superman-nya Itu Tetangganya Sendiri.

Oleh: Dahlan Iskan

Sabtu 18 Agustus 2018

Merdeka!
Dan Turki merdeka juga. Dari krisis moneter yang begitu mencekam.

Merdeka!
Dan Turki berhasil menginjak rem tepat waktu: saat roda ekonominya berada di bibir jurang.

Memang posisi rodanya masih tetap di tebing. Tapi sudah ada superman. Yang menahannya. Untuk tidak terjungkal.

Superman itu tetangganya sendiri: Emir Syeikh Tamim bin Hamal Al Thani. Pemimpin tertinggi Qatar. Negara kecil yang sakunya besar.

Syeikh Tamim datang ke Turki. Rabu lalu. Tepat waktu. Setelah bicara-bicara 3,5 jam semuanya beres: Qatar akan meminjami Turki. Dana besar. Angkanya luar biasa: 15 miliar Dolar. Hampir Rp 200 triliun.

Begitu mendapat obat penurun panas dari Qatar itu, suhu Lira turun. Mata uang Turki itu langsung menguat. Tiga hari terakhir sudah menguat 17 persen.

Memang belum bisa kembali seperti tahun lalu: 1 Dolar 4 Lira. Tapi kemarin 1 Dolar sudah 5,9 Lira. Tidak lagi 7 Lira. Krisis sudah bisa dihindari.

Betapa bahagia punya tetangga sebaik Qatar. Mau membantu. Dengan cepat. Dengan dana besar. Bahkan sang Emir yang datang sendiri ke Turki.

Tetangga mulia macam apa Qatar itu. Begitu terharu saya mencermatinya.

Mengingatkan saya pada tahun 1997/98. Saat kita dilanda krisis moneter. Yang luar biasa. Yang berlarut-larut. Menjadi krisis politik. Krisis rasial. Soeharto jatuh. Kepercayaan nasional runtuh.

Kalau saja tetangga kita seperti Qatar. Kalau saja ada yang mengulurkan tangan. Kerusuhan sosial tidak sampai terjadi.

Saya tidak bisa bayangkan. Betapa ‘nelongso’-nya Pak Harto saat itu. Minta bantuan ke tetangga kaya. Hanya dapat nasihat kata-kata.
Terpaksa Pak Harto ngemis ke IMF. Yang menyakitkan itu.

Qatar memang pernah merasakan budi baik Turki. Belum lama ini. Saat Qatar dikucilkan oleh negara-negara sesama Arab. Tetangga yang mengitarinya.

Saat itu Turki mendukung Qatar. Ketika negara-negara Arab melarang kirim barang ke Qatar, Turki turun tangan. Qatar bisa bertahan. Sampai hari ini. Di tengah isolasi.

Begitu marahnya pada Qatar, Arab Saudi sampai akan menggali daratannya. Yang berbatasan dengan Qatar. Selebar 200 meter. Sepanjang 200 km. Menjadi laut pemisah dua negara.
Qatar tidak menyerah. Tidak mau tunduk. Boikot Arab Saudi tidak sakti.

Dengan turunnya Superman itu Presiden Erdogan tidak perlu ngemis ke IMF. Martabatnya tidak perlu jatuh.

Bahkan Turki tetap bisa mempertahankan ideologi ekonominya: anti bunga tinggi. Yang dianggap sebagai ibu segala setan ekonomi.

Hanya saja Turki menerima saran ini: mengurangi defisit anggaran. Dengan cara mengurangi pengeluaran. Membatalkan proyek.
Tiap departemen diminta berhemat. Potong anggaran. Antara 20 sampai 30 persen.

Memang, pertumbuhan ekonomi Turki akan melambat. Tapi akan bisa lebih berkelanjutan. Daripada crash. Toh sudah 10 tahun Turki berhasil tumbuh cepat. Sampai pendapatan perkapitanya sangat tinggi: 17 ribu USD. Enam kali lipat lebih makmur dari kita.

Amerika masih terus berkoar. Akan meningkatkan lagi sanksi untuk Turki. Katanya: terbukti Turki bukan sahabat baik. Tidak mau membebaskan pastor Andrew Brunson. Asal Amerika. Yang kini ditahan di sebuah rumah, di Turki.

Ternyata punya tetangga baik itu membahagiakan. Baik dan kaya. Kaya dan baik. (dahlan iskan)

https://www.disway.id/superman-itu-tetangganya-sendiri/

Monday, August 13, 2018

CARA PRAKTIS MENGHITUNG DAGING QURBAN

CARA PRAKTIS MENGHITUNG DAGING QURBAN

Dari seekor sapi
Berat misal : 350 kg

Maka berat Karkasnya = 50% dari Berat hidupnya = 175 kg

Berat daging= 70% dari berat karkas =122,5 kg atau
35% dari Berat Hidup = 122,5 kg

Berat Jeroan 10% dari berat karkas = 17,5  kg atau 5% dari Berat Hidup.

Berat kaki sebanyak 4 kaki rata2 dagingnya 4,5 kg

Berat kepala 4% dari Berat Hidup= 14.5 kg per ekor

Berat ekor = 0,7% dari Berat Hidup = 2,45 kg

Ini penting untuk Panitia Qurban utk membagikan dan menyesuaikan jumlah ternak dengan jumlah mustahik. Perhitungan ini hanya memudahkan Panitia Qurban terlepas dari daging yg tercecer maupun yg masih melekat pada tulang.

Demikian untuk dimaklumi.

Nasional Qurban Center
(Disarikan dari Buku Pedoman Ber-Qurban yg Aman & Benar)
Halalan Thoyiban dan Ihsan

Wednesday, July 18, 2018

BUGHATS DAN REZEKINYA

BUGHATS (ANAK BURUNG GAGAK)

Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do'a yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭﺯُﻗﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙََ

Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats.

Apakah "bughats" itu?
Dan bagaimana kisahnya?

"Bughats" anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut "bughats".

Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab).
Apa perbedaan antara bughats dan ghurab?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.
Saat induknya menyaksikanya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.

Lalu bagaimana ia makan dan minum...?
Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah Subhanahuwata'ala menciptakan _aroma_ tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya.
ماشاءالله
Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri.

Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki.

... نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا

...Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia...
(QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)

Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah Subhanahuwata'ala, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah Subhanahuwata'ala, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah Subhanahuwata'ala. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah Subhanahuwata'ala. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah Subhanahuwata'ala kecuali dengan menta'atinya."

Jadi tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.

Mari introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yang kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum. Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat.

Itulah sikap selayaknya seorang muslim.

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

"Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu." (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu wahai kaum muslim, janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata'ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nikmat. Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahuwata'ala.

Selamat bekerja.
Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan didalam mencari karunia Allah Subhanahuwata'ala diatas muka bumi ini. Aamiin

Copas dari WA grup

Friday, June 22, 2018

800.000 titik cahaya , ide transformasi manajemen masjid

Tulisan bagus dari Rendy Saputra

*800.000 TITIK CAHAYA*

ummat saat ini memiliki 800.000 gedung yang hanya dipakai 5 jam per hari. Gedung itu bernama : *MASJID*.

Disinilah awal mula ide pemberdayaan Masjid sebagai asset ummat. Dari pondasi pemikiran ini, kita harus kembali memaknai... sudah sejauh mana kita MEMANFAATKAN 800.000 asset ini.

*****

Narasi tentang pemberdayaan masjid ini akan Saya sampaikan secara runut.

Pertama, optimalisasi masjid sebagai sarana ibadah.
Kedua, optimalisasi masjid sebagai titik manajemen ummat.
Ketiga, optimalisasi masjid sebagai asset fisik.

*****

Kita masuk pada pemikiran *pertama*, masjid sebagai sarana ibadah.

Sahabat, masjid biasanya dibangun secara bersama-sama oleh warga, walaupun ada masjid yang memang dibangun oleh pribadi. Perbedaan yang nampak nyata adalah... masjid yang dibangun oleh kekuatan publik biasanya lemah pada pengelolaan, dan masjid yang dibangun personal biasanya terkelola baik. Sederhananya, karena ada sponsor personal yang terus menyuplai kebutuhan perawatan masjid.

Pada ruang pemikiran pertama ini, Saya lebih memodelkan masjid yang memang dibangun bersama.

Masjid yang dibangun bersama berarti dimiliki bersama, dimiliki oleh warga. Artinya ia adalah milik ummat. Didalam bisnis, ummat menjadi "owner" dari masjid.

Tapi disisi lain, masjid juga dituntut melayani ibadah jamaah, maka ummat juga berada pada posisi "market" dalam waktu yang bersamaan.

Yang biasanya belum ada adalah "Dewan Eksekutif" yang memang menjalankan masjid secara profesional. Dewan direksi beserta jajarannya.

Sebagian masjid membentuk Dewan Kepengurusan Masjid (DKM), dan DKM secara sukarela menyisihkan waktu untuk mengurus masjid. _Pada pengurus DKM usia produktif, mengurus masjid tidak bisa menjadi aktivitas utama, karena harus bekerja dan berbisnis mencari nafkah_. Akhirnya mengurus masjid menggunakan waktu sisa.

Jika para pensiunan mewarnai DKM, aura eksekusinya juga tidak bisa diharapkan cepat, kurang kreatif ...karena natural nya organisasi itu dijalankan oleh usia produktif. (Dengan tetap menghargai para pensiunan yang menjadi DKM)

Maka, perlu digagas dewan eksekutif yang profesional dalam kepengurusan masjid. Muda, berkapasitas dan memang full dedikasinya untuk mengurusi masjid.

Artinya..., ada Owner beserta jajaran komisaris dan ada CEO beserta jajaran eksekutornya.

*Ide gila* nya disini : 1 masjid, harus dikelola oleh 1 CEO profesional dengan kepuasan jamaah sebagai Key Perfirmance Indicator nya.

1 CEO
1 direktur operasional-ibadah
1 direktur keuangan
1 direktur komunikasi-media
1 direktur ziswaf
1 direktur pembinaan jamaah
1 direkrur General Affair

1 CEO... 6 Direktur ... 7 BOD.

1 direktorat bisa merekrut lagi 5 staff. Akhirnya 1 masjid bisa menyerap 37 tenaga kerja.

Bayangkan angka 800.000 masjid x 37 tenaga pengelola. Anggaplah dengan masjid kecil, menjadi 20 pengelola per masjid, berarti untuk ranah pelayanan masjid saja, terbuka 16 juta lebih lapangan kerja baru.

Turunan dari cara kerja seperti ini akan sehat. Bapak-bapak DKM tetap elegan menjadi pengurus DKM. Bapak-bapak akan menjadi owner dan mengawasj kerja jajaran eksekutif. Ini mirip owner bisnis ngontrol pekerja.

Kan memang iya, uang ummat menggaji CEO+team dan mereka kembali melayani ummat, diawasi oleh perwakilan ummat... share holders..., namanya DKM.

Selanjutnya, SDM timur tengah yang sudah belajar diinul Islam, Quran, Hadist, akan terberdayakan dengan baik. Jika 1 masjid butuh 1 imam hafidz dan terdidik, maka kita bisa menyerap 800.000 hafidz. 800rb imam, 800rb muadzin.

Selanjutnya, SDM yang sekolah zakat, sekolah ekonomi, bisa duduk di direktorat keuangan dan zakat. Semua terberdayakan. Belum lagi kita bicara direktorat pembinaan jamaah yang akan saya sampaikan detail di poin ketiga.

******

Poin *kedua* adalah masjid sebagai titik menajemen ummat.

Jika kita bicara manajemen, kita bicara tentang SIAPA yang kita kelola dan BAGAIMANA, mau diapakan.

Jika kita hadir ke sebuah masjid, dan hadir ke jajaran DKM, mari tanyakan hal ini :

1. Berapa KK yang dilayani oleh masjid ini.
2. Ada berapa laki-laki dewasa yang telah sadar menjadi jamaah ini, nama, usia, profesi, keahlian, dan rumahnya dimana.
3. Berapa anak-anak muslim yang harus menjadi perhatian masjid ini.
4. Berapa muslimah...

Terus.. terus dan terus.. data.. data.. dan data.. dan saya yakin.. datanya tidak ada.

Kecuali memang masjidnya profesional.

Saya ingin membuka mata anak bangsa : Jumlah kelurahan dan desa di Negeri ini, menurut data BPS 2016, itu ada 82,030. Ada selisih dengan data lain, tapi bisa dibilang 80.000an

Jika jumlah masjid ada 800.000 dan jumlah desa kelurahan ada 80rb, berarti 1 desa/kelurahan terdapat 10 masjid. Sebuah proporsi yang pas untuk manajemen ummat.

Sahabat, bayangkan,....

Islam menuntun shalat berjamaah 5 waktu di masjid. Berarti ada sekumpulan laki-laki baligh dewasa yang "meet up" 5x sehari. Anehnya, meet up 5x sehari... tetapi hampir tidak ada sinergi yang terjadi. Yang nganggur tetap nganggur, yang sulit kuliah tetap sulit kuliah. Aneh bukan?

Konsep masjid sebagai wahana manajemen ummat, dalam benak Saya adalah benar-benar mengurus dan mensinergikan seluruh kekuatan yang ada dalam tubuh ummat.

Masjid memutuskan sejauh mana rentang wilayah layanannya. Petakan. Tarik area pake spidol. Arsir. Ini wilayah layanan masjid A. Clear.

Lalu masjid mendata seluruh kaum muslimin pada area tersebut, pokoknya yang muslim didata. Mau ke mesjid atau tidak,  harus menjadi target layanan masjid. _Kan dimandikan dan disholatkannya disitu toh?_

Dari data ini akan terbaca, tingkat pendidikan, keahlian, engagement dengan masjid, bahkan sampai kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi.

Lucu donk, ada anak muda bolak balik 5 waktu ke masjid, 5 bulan nganggur, sementara di mesjidnya ada pengusaha yang punya bisnis 100 outlet. Ini gak lucu blasss.

Lucu donk, ada jamaah yang bingung nyari guru private kalkulus anaknya, sementara sarjana matematika bolak balik berjamaah disebelah si bapak.

Pendataan ini adalah fungsi manajamen dan dengan begini... CEO masjid tidak hanya berfikir proses ibadah berjalan baik, tetapi juga beliau memiliki LIST UMMAT yang harus dilayani. Makanya wajar SDM dedicated, karena kerjanya full time.

- bapak itu sudah dapat kerjaan belum?
- ibu itu single parent butuh dicarikan suami nggak?
- anak keluarga itu pinter tapi kok gak kuliah kenapa?
- adek itu kok masih nganggur aja.
- mas itu bisnis kayaknya kurang modal.
Hayuk.. masjid bantu.. kira-kira jamaah kita ada yang punya solusi gak ya?

Bahasan-bahasan seperti ini harusnya menjadi wahana kerja setiap BOD masjid di 800.000 masjid yang ada. Bayangkan... saya membayangkan saja merinding.

Konsep pelayanan seperti ini akan menarik kekuatan donasi ummat lebih besar. Karena ada programnya be-RESONANSI. Ummat Islam Indonesia ini mudah, selama ada program, urunan jalan. Gampang. Asal konkret, komunikasi baik. Semua akan mengalir.

Dengan begini, potensi kekuatan ummat akan hadir. Setiap warga muslim yang terdaftar di masjid tertentu akan terperhatikan. Ikatan-ikatan sosial kita sebagai ummat akan kokoh. Karena masjid hadir bukan hanya sebagai fungsi fisiknya, tetapi fungsi intrinsiknya : melayani kebutuhan ummat

*****

Poin *ketiga*, masjid sebagai asset fisik ummat.

Sahabat, jika Anda berbisnis, Anda pasti memahami usability. Tingkat kegunaan asset yang Anda punya.

Masjid yang dibangun oleh sebagian besar ummat ini, relatif HANYA digunakan 5 waktu dalam sehari. Itu saja. Jika dari adzan hingga selesai dzikir dan doa itu anggaplah 1 jam, maka masjid hanya digunakan 5 jam dari 24 jam yang ada.

Anda punya pabrik, dipakai 5 jam saja.
Anda punya warung, buka 5 jam saja.
Anda punya mesin fotokopi, bekerja 5 jama saja.
Bagaimana perasaan Anda?

Ratusan bahkan miliaran rupiah UANG UMMAT sudah di investasikan untuk bangun masjid, tetapi dipakai hanya 5 jam bahkan kurang per hari. Bagaimana perasaan Anda? Bagaimana guncangan fikiran Anda saat ini?

Dari pemikiran ini, sahabat muslim dengan fikiran pemberdaya, tidak boleh mengijinkan hal ini terjadi. Mubazir.

Mari tantang fikiran kita.

Setelah subuh, masjid lengang mulai pukul 7.00. Coba kita bikin program :

7.00 sd 9.00 : ruang utama masjid jadi wahana kelas hafalan quran untuk remaja yang belum kerja, masih nunggu kuliah, atau memang bisnis, entrepreneur waktunya bebas.

09.00 sd 11.30 : masjid menjadi kampus. Buka kelas non formal. Bikin silabus. Pengajar cari relawan. Masjid dipakai gratis. Berarti mahasiwanya bisa gratis. Ini solusi pendidikan.

Pada jam ini, ibu-ibu relatif sudah antar anak ke sekolah. Bisa dilakukan taklim ibu-ibu. Jika tidak, selasar masjid menjadi wahana pengajaran bikin roti, menyulam, kerajinan, bahkan kejar paket A, B, C. Apa aja... yang penting manfaat untuk ummat.

13.00 sd 15.00 : mata kuliah kedua. Untuk masjid kampus. Selasar bisa adakan kegiatan lain.

16.00 sd 17.00 : TQA dihidupkan, jika sudah banyak anak-anak yang sekolah si SDIT, bisa jadi sekolah Quran untuk jamaah dewasa.

20.00 keatas : dirosah islami, ajarkan ummat shiroh, hadist, fiqh, selesai jam 21.00. Majelis cair terbuka setiap malam.

Pertanyaannya, yang ngajar siapa, SDM nya mana...

kan ada nomor 2 diatas. Masjid banyak uang. Manajemen kokoh. Ada SDM dedicated. SDM pengajar bisa dibayar secara profesional. Dan akan sangat layak.

Intinya mari kita maksimalkan. Bahkan lebih dahsyat lagi, malam harinya bisa gunakan area tertentu untuk tempat inap musafir atau sahabat tunawisma. Kenapa nggak? Semacam shelter inap semalam.

Ambil satu space, lapisi karpet khusus, beri hijab pembatas, jadikan masjid ramah musafir, ramah orang lemah. Disitulah da'wah akan terasa sangat mendalam dihati ummat.

Anak-anak muda bisa wifi-an di masjid. Block aja konten yang negatif.

Beri space berkumpul dan bercengkarama di masjid. Masjid ramah pertemuan.

Ada area masjid untuk playground anak-anak balita. Biar akrab sama masjid, dan saat shalat fardhu dijaga baby sitter khusus. Digaji oleh masjid.

Masjid menjadi tempat bimbel, pelatihan bisnis, diskusi, meet up, yang gak boleh kan jualan di dalam masjid. Pekarangan boleh kayaknya. Banyak koperasi di komplek mesjid kok.

Intinya gunakan. Jangan begitu mau digunakan, ada info : "adik-adik remaja masjid pake acaranya di selasar ya, soalnya karpet masjidnya baru beli"

Ya Salaammm... ini terjadi... aseli... karpet dibelain.. generasi muda Islam gak dikasih tempat... YA Rabb...

******

Tulisan Saya apa adanya. Saya sudah memaksimalkan diri sesopan dan sesantun mungkin. Ini sebabnya, dalam setiap roadshow, Saya selalu minta sesi kuliah subuh ke masjid-masjid.

Alasan pertama biar ada yang jemput paksa shalat subuh. Hehehehe..

Alasan kedua, karena di masjidlah kekuatan utama ummat ini. Itupun kalo dimaksimalkan.

Karakteristik ummat Islam Indonesia ini "wait and see". Mereka tidak begitu cepat dan inisiatif membangun sesuatu. Pemalu, gak enakan, takut konflik, malas ngasih saran. Keranan masjid bocor aja gak ada yang berani ngasih masukan.

Tetapi ketika ruang-ruang kolaborasi dan sinergi dibuka, maka kekuatan akan datang. Ketika pelayanan jelas terasa, donasi akan hadir berlimpah.

Sama seperti bisnis. Maaf banget. Logika ini harus saya sampaikan.

Jika perusahaan Anda jasa layanannya baik, maka market akan berulang beli layanan Anda. Jika tidak. Market tidak repeat.

Saya merasakan sendiri, jika sebuah masjid progressnya baik, terawat, ekosistem pengelolaannya terasa, maka kita pasti mau dukung maksimal.

Saya secara pribadi berharap, tulisan ini bisa mendorong banyak DKM untuk berbenah diri. Kemudian melangkah berani membangun sistem layanan profesional pada masjid. Dan kemudian menyadarkan ummat Islam, untuk kemudian MENGINDUK ke masjid-masjid terdekat. Shalatlah fardhu di masjid, dan bangunlah ikatan sosial sesam ummat Islam.

Perlu ada keberanian membayar 1 CEO masjid senilai 15 juta rupiah per bulan, ketika memang beliau mampu membangun layanan untuk 1.000 KK muslim, dengan raihan donasi 1M per bulan, baik dari jamaah, donatur corporate ataupun amal usaha masjid. Kenapa tidak?

Jika masjid melakukan 3 fungsi diatas, maka secara cepat kita akan meningkatkan kualitas pendidikan ummat, kualitas ekonomi ummat dan kualitas sosial ummat.

Ummat Islam yang 225 juta ini akan ter urus baik melalui kehadiran masjid-masjidnya yang menjadi simpul layanan sosial.

Pada keadaan yang cukup gelap, maka Saya menyebut masjid sebagai 800.000 titik cahaya.

Teranglah wahai bangsa ku.... nyalakan cahayamu...

******

Saturday, May 19, 2018

NAIK HAJI

*NAIK HAJI*

Ini adalah kisah nyata saya di bulan Ramadhan 2008 dan sahabat saya seorang pengusaha hiburan, Helmy Yahya.

Saya berada di Palembang bersama mitra saya, Helmy yahya. Kami sedang melakukan perjalanan untuk bertemu dengan maestro pujaanku, untuk sebuah pekerjaan idealis. Kami akan bertemu dengan pengarang lagu anak legendaris, AT Mahmud.

Terdengar bunyi telpon yang langsung diangkat Helmy dengan speaker mode.
”Bos, kita belum dapat talent buat acara naik haji gratis.” Suara di seberang telpon terdengar galau.
“Kok bisa?,“ Helmy berkata dengan nada tinggi.
“Sudah 3 hari shooting kok bisa gak nemu?” Lanjut Helmy.

Setelah itu, Helmy diam mendengarkan argumen dari teamnya yang panjang. Wajahnya memerah. Bibirnya merapat dan jari tangannya didekatkan dan di gigit. Itu kebiasaanya kalau panik.

“Untung lagi di Palembang, saya gak tau kalau ada anak triwarsana di sini. Kita ke tempat shooting dulu”, Demikian sebuah kata terucap dari mulutnya dan setelah itu diam. Setiba di lokasi, sebuah rumah yang disewa sebagai tempat tersembunyi dari hidden kamera yang sedang menguji kelayakan seorang talent untuk berangkat di hajikan gratis sesuai thema acara tersebut.

Helmy memiliki standard yang ketat. Seseorang tersebut bukan ”layak dihajikan gratis”, bukan karena rekomendasi dari orang lain saja. Tapi dia harus lulus test. Ini memang memakan biaya. Memang memakan waktu. Tapi inilah kesempurnaan yang menjadi cirinya.

“Mana data shooting talent hidden kamera?”, kemarin-kemarin katanya lagi. Dalam sekejap kami menyaksikan video rekaman para talent tersebut di test berbagai cara. Dengan hidden kamera kita memperhatikan. Ustad ini, bapak anu, ujung-ujungnya tidak ada yang layak. Lalu, saya disuruh menilai.

“Mas Wowiek, kamu lihat tuh yang di test pas sebelum jumatan. Dua ustad,” Helmy keluar dengan muka merah. Saya turuti perintahnya dan menyaksikan.

Biasa kami menggunakan penguji si Rini, specialis penguji. Cantik, dewasa, anggun. Lengkap dengan jilbab dan kerendahan hatinya. Dia melakukan aksi ujiannya. Di depan ustad yang dimaksud dia datang jam 11.30, lalu ia berkata, ”Saya ada masalah dengan perkawinan, suami saya,” dan seterusnya dia bercerita sangat meyakinkan.

Sang ustad talent yang sedang diuji mulai berdalih, mulai mewejang, dan menyaksikan adegan tersebut. Saya paham sekali dengan expresi wajah. Maka saya tahu sekali mimik wajah dan gerak mata seseorang yang ber”minat”. Darah saya naik.

”Kok begini sih?!,”. Ini orang yang terpandang didaerahnya yang direkomendasi banyak orang. Menggeser duduknya dekat-dekat si Rini. Hidden kamera menangkap seluruh adegan dengan jelas. Dan yang mengherankan, dia abaikan sholat jumat.

“Huh..hilang sudah rasa di hati, dasar buaya!,” saya berkata dalam hati.

Di video satunya. Setali tiga uang sama saja, malah pake pegang-pegang pundak si Rini. Setiap berapa kalimat menyentuh apalah bagian tubuh si Rini, tangan, seperti menepis kotoran dari jilbab, yang rasanya gak ada apa-apanya. Darah emosi saya naik memuncak. “Gile nih..sama aja..dasar bandot semua!”. Saya mendadak sangat marah. Sebagai pria, tahu banget niat laki-laki macam itu. Emosi saya naik.

Saya keluar ruangan. Helmy nafasnya turun naik dengan cepat. “Gila nih, besok harus naik tayang jam 4 sore belum ada talent. Dimana Rini?”.

“Lagi ada talent, deket sini pak,” seorang staf triwarsana menjawab.

“Nih, lagi kita test. Live tuh di ruang belakang,”. Bergegas kami melihat. Seluruh crew berharap harap cemas. Muka semuanya tegang. “Jauh gak dari sini?”, saya bertanya. “Engak mas, paling 500 meter”, Jawab kameramen triwarsana.

“Siapa dia?”,tanya saya lagi.
”Dia guru bahasa Indonesia, kalo sore ngajar ngaji,”.

Dalam monitor, terlihat seorang bapak sedang duduk. Kelelahan. Dia habis mengajar ngaji. Di masjid. Masuklah si Rini. Dengan gayanya yang meyakinkan dia berkata, ”Pak, saya ada anak angkat usianya 8 tahun kelas 2 SD. Saya sudah tidak kuat merawatnya,”. Dipotongnya kalimat ditambah emosinya. ”Nakal banget pak. Saya mau buang, saya mau kasih bapak saja,.”

Si Rini menyelesaikan kalimatnya dengan muka memerah. Dan membetulkan jilbabnya. Sehingga seluruh lekuk tubuhnya sengaja terbentuk kesan seksi.

Sang bapak membuang muka. Kemudian ia menunduk sambil menjawab, “Aku terima,“
”Maksud bapak?”, Kata Rini lagi.
“Ya, sini anak itu. Aku rawat dia. Ini pasti kehendak Allah. Aku ikhlas,”. Dia menjawab sambil tetap menundukkan wajahnya.

Muka rini yang terlihat gugup, “Boleh saya beri anak itu hari ini? Rumah kami jauh di tujuh ulu”, Rini menambahkan bobot ceritanya.

Sang bapak memiringkan pantatnya. Di rogoh sakunya. Ada uang ribuan berlembar-lembar. Kira-kira 15 lembar dia berkata, “Uangku hanya segini,”. Diberikan ke Rini semua, ”Kamu ambil angkot bawa anak itu kemari,” tuturnya dengan santun.

Setiap adegan itu kami saksikan dengan tegang. Bahkan penduduk sekitar mulai menggerombol ditempat kami. Sesak udara ruangan monitor. “Ayo kita ke sana, full kamera”, kata Helmy memecah ketegangan.

Bergegas kami berangkat. Penduduk sekitar mengikuti gerak crew sebanyak 15 orang. 3 kamera. 2 sound boom. Sangat menarik perhatian warga kampung sekitar.

Setiba kami di lokasi masjid. Kamera langsung keluar dari segala penjuru. Sang bapak terkejut. Wajahnya bingung. Kemudian Helmy Yahya muncul dengan mengatakan, ”Alhamdulillah... Bapak dapat hadiah naik haji gratis!”

Sang bapak terkejut bukan main. Wajahnya tergetar. Giginya bergemerutuk. Tak bisa berkata-kata. Bersujud di sajadah berkali-kali. Dan selang beberapa menit hadir penduduk sekitar kira-kira 5000 an warga kampung sekitar tersebut tanpa komando mengumandangkan, “Labaik allauhumma labaik...,” 5000 orang lebih meneriakkan kata-kata tersebut berulang. Bergetar kami semua.

Airmata saya turun tanpa sebab. Saya bertanya pada seorang ibu berdiri sambil menangis..”Siapa dia bu? “,Tanya saya.

”Oh dia pak Rahmat. Dia guru bahasa Indonesia di SD sini. Setiap bulan dia memberikan setengah dari gajihnya untuk membayar anak-anak dengan permen dengan apapun supaya mereka mau mengaji,”. Jawab sang ibu sambil menggendok anaknya yang sudah agak besar.

”Setengah?!“, Saya terperanjat.

“Iya mas”, lanjut ibu tadi. “Dan itu dia sudah lakukan 25 tahun kira-kira, saya adalah muridnya pertama-tama, karena sangat miskin kami tak sanggup belajar. Tapi dia membimbing kami. Sekarang pun anakku belajar ngaji sama pak Rahmat. Dan masih diberi bonus hadiah supaya rajin mengaji,”.

Saya tersentak. Saya menyaksikan seorang bapak. Ia lagi dipakaikan kain ihram. Di kumandangkan talbiah, labaik Allamulabaik oleh separuh warga kampung yang mencintainya. Di arak beramai-ramai dari masjid ke rumahnya. Tempat kediamannya berjarak 200 meter dari masjid. Untuk dipamitkan dan mohon izin ke sang istri.

Setiba di rumah yang masih beralas tanah, sepasang suami istri renta berpelukan. Saya masih mendengar sang bapak berkata, ”Allah mengabulkan doa kita bu. Aku berhaji. Aku yang miskin ini berhaji,” Suaranya lirih, “Mohon izin ya,”.

Tersungkur di tanah saya seketika mendengar kata-katanya. ”Terima kasih Allah. Terima kasih, masih ada orang seperti pak Rahmat, Engkau sisakan untuk kami.” Tak henti-henti saya bersyukur.

Berangkat haji ke Baitullah, tidak lagi persoalan pekerjaan dan jabatan maupun uang. Berangkat haji adalah tentang kejernihan hati. Siapa yang pantas, maka Allah SWT akan mengundang orang itu, lewat jalan yang tidak pernah kita bayangkan.

Semoga pengalaman kecil ini bermanfaat. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Mardigu Wowiek,
_Channel Telegram : t.me/mardiguwp_

Saturday, February 10, 2018

Warung Murah untuk Kaum Dhuafa

*Warung Murah ....*
*UTK KAUM DHUAFA.*

Bahagiakan Dhuafa, Warung Tionghoa Muslim di Jakarta Jual Makanan (menu makan lengkap) hanya Rp 3 Ribu.

Banyak cara untuk berbagi.

Bukan hanya langsung memberikan uang atau barang, menjual makanan enak dengan harga super murah pun bisa disebut demikian.

Di Jalan Yos Sudarso Kav 28 Jakarta, di sebelah kiri, tepatnya di samping gerbang utama gedung bertingkat PT Citra Marga Nusa Pala, berdiri sebuah rumah makan murah meriah dengan lauk mewah.

Bagaimana tidak, hanya dengan membayar Rp 3 ribu, pembeli bisa menikmati menu nasi dengan aneka lauk pauk yang sangat menggugah selera.

Tak hanya menjamu pengunjung dengan aneka ragam menu, pemilik warung juga memanjakan siapa pun yang datang dengan suasana yang nyaman dan asri, mirip seperti di pedesaan.

Warung istimewa ini bernama Podjok Halal, berdiri di bawah tenda biru berdampingan dengan pohon kelapa yang menjulur tinggi ke atas.

Suasana semakin asri dengan adanya tanaman-tanaman yang melingkari bangku pengunjung.

Warung ini merupakan milik seorang pengusaha Tionghoa muslim bernama Jusuf Hamka.

Dia membuka tempat makan murah ini dengan satu tujuan, mengurangi beban kaum dhuafa dan orang-orang berpenghasilan rendah.

Jusuf berharap, mereka yang datang bisa makan enak tapi bisa berhemat.

“Misal penghasilan Rp 20 ribu. Dulu biaya makan Rp 10 ribu. Jadi orang itu bawa pulang Rp 10 ribu.

Kalau dia makan Rp 3 ribu, bisa bawa pulang Rp 17 ribu kan. Itu menurut saya cukup membantu,” ujar Jusuf menguraikan maksud dibuatnya warung Podjok Halal.

Ide warung makan Podjok Halal ini memodifikasi sistem berbagi pada saat bulan Ramadan.

Saat itu, dia memberikan makanan berbuka 1.000 porsi secara gratis kepada pengguna jalan.

Setiap Senin hingga Jumat, selama tujuh tahun berturut-turut.

“Saat bulan puasa kami bagikan 1.000 porsi.

Tapi kami siapkan 200 takjil.

Jadi jika ada yang tidak kebagian, kami kasih takjil sama air,” ungkap dia.

Dari sini Jusuf lalu berpikir.

Setiap hari Tuhan memberikan rezeki berlimpah, masa berbuat kebaikan mesti menunggu bulan Ramadan.

Dari situlah, Jusuf kemudian mendirikan warung makan murah ini.

Ide Jusuf ini pun ternyata disambut banyak pengusaha, yang juga ingin menyalurkan bantuan.

“Teman-teman kami (pengusaha) yang nyumbang.

Saya melihat, kok gak ada salahnya kami membuat satu warung makan yang dijual dengan harga Rp 3 ribu,” ucap Jusuf.

Warung makan Podjok Halal ternyata tak mengharuskan pembeli untuk selalu membayar.

Bagi pengunjung yang ingin makan namun tidak memiliki uang, pemilik warung akan memberikan secara cuma-cuma alias gratis. Intinya, ingin beramal sambil mendidik.

“Harga Rp 3 ribu bukan patokan bahwa itu harga mati.

Saya bilang kalau nggak mampu bener kasihlah gratis.

Misal, ada 10 orang datang. Dia cuma punya uang Rp 3 ribu.

Ambil uangnya, sisanya kasih gratis,” tutur dia.

Warung ini dibuka 6 Februari 2018 lalu.

Karena masih baru, belum banyak masyarakat tak mampu yang mengetahuinya.

“Kemarin kami sediakan 100 porsi, hanya 10 porsi saja yang laku.

Sisanya 90 porsi kami bungkus dan bagikan secara gratis kepada orang-orang pinggir jalan,” tutur Jusuf.

Jusuf pun meminta agar masyarakat dan media menginformasikan keberadaan warung khusus kaum dhuafa dan fakir miskin ini.

Sehingga peminatnya semakin bertambah.

Jusuf berharap, setiap hari ratusan bahkan ribuan pelanggan bisa hilir mudik mampir ke warung makannya.

*Tolong sampaikan kepada teman-teman supaya mereka tau ada warung murah.*

Siapa tahu ada supir ojek on line , supir ojek pangkalan, penyapu jalanan, pemulung, pengamen mau makan di sini, silahkan....

Tidak punya uang, tidak apa-apa.

Tetap kami layani. Kami nawaitu (niatkan), Insya Allah berkah,” ucap Jusuf.

Untuk menyebarkan kebaikan melalui warung murah meriah ini, Jusuf berencana akan membuka lima cabang di Jakarta.

Targetnya minimal seribu porsi.

Sekarang ini, sedang menyusun bentuk kerja sama.

Apakah dengan ormas Islam atau mengumpulkan sejumlah pengusaha,” papar Jusuf.

Saat ini, warung Podjok Halal menggunakan sistem katering.

Tapi nanti setelah berjalan, sistemnya akan diubah dengan membeli makanan di warung setempat.
Sudah ada tiga warung yang mengajukan.

“Saya sudah bicara dengan pengusaha.

Dia bilang ya udah lo buktiin dulu, Nanti gua ikut buat depan kantor gua,” ucap dia.

Jusuf berharap programnya menjadi pola percontohan ke seluruh Indonesia.

Semoga dengan begini, pemerintah dapat menirunya.

Dia yakin, jika ini berhasil, Presiden akan menginstruksikan membentuk warung murah di setiap departemen.

“Saya pikir kalau kami tidak memulai, hanya memberikan konsep kurang efektif.

*You never try you never know,*”

Jusuf menandaskan.

Monday, December 25, 2017

Pakar Genetika : Wanita terbersih di muka bumi, adalah Wanita Muslimah

http://beritaislampopuler.blogspot.co.id/2017/01/pakar-genetika-wanita-terbersih-di-muka.html?m=1#

Pakar Genetika : Wanita Terbersih Di Muka Bumi, Adalah Wanita Muslimah, Subhanallah

Seorang pakar genetika Robert Guilhem mendeklarasikan keislamannya setelah terperangah kagum oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang Masa Iddah (yaitu masa tunggu selama tiga bulan bagi wanita, untuk boleh menikah lagi) bagi wanita Muslimah yang dicerai suaminya seperti yang diatur Islam.

Guilhem, membuktikan dalam penelitiannya, bahwa jejak rekam seorang laki-laki di tubuh wanita akan hilang setelah tiga bulan. Guilhem yakin dengan bukti-bukti ilmiahnya. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuhan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan.

Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Dan, setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan.

Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya. Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian di sebuah

perkampungan Afrika Muslim di Amerika.

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa setiap wanita Muslim di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja. Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain di Amerika (perkampungan non Muslim) membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki, dua hingga tiga.

Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim dengan laki-laki selain pernikahan yang sah. Yang mengagetkan sang pakar ini, adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri.

Ternyata ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki, alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu saja, dari tiga anaknya berasal dari dirinya, yaitu setelah ia melakukan test DNA terhadap anak anaknya.

Setelah penelitian-penelitian yang dilakukannya, ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan, dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin, bahwa wanita muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini.

Guru besar anatomi medis di Pusat Nasional Mesir, dan konsultan medis, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa Robert Gelhem, pemimpin Yahudi di Albert Einstein College, dan pakar genetika ini mendeklarasikan dirinya masuk Islam, ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah, dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan. (Dian Bango Alamanda)

Sumber: sharia.co.id