Saturday, August 29, 2020

_JANGAN LUPA JALAN PULANG_

*MUHASABAH*

*_JANGAN LUPA JALAN PULANG_*

Saudaraku,
Kehidupan dunia sejatinya adalah perjalanan manusia menuju atau kembali kepada Allah Azza wa Jalla asalnya. Namun, manusia sering kali lupa diri dari tujuannya karena tergoda pesona nikmatnya kehidupan dan gemerlapnya dunia...

Saudaraku,
Sadarilah saudaraku, kita di dunia ini adalah musafir dan sedang melakukan perjalanan. Hal ini harus benar-benar kita sadari dan jangan sampai lalai mengingat hal ini. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,

الناس منذ خلقوا لم يزالوا مسافرين, ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺣﻂٌّ ﻋﻦ ﺭِﺣﺎﻟﻬﻢ ﺇﻻَّ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨَّﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻨﺎﺭ

“Manusia sejak diciptakan senantiasa menjadi musafir, batas akhir perhentian perjalanan mereka adalah surga atau neraka.” 

(Al-Fawaid hlm. 400)

Saudaraku,
Inilah yang selalu diingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kehidupan dunia ini hanya sebentar dalam sebuah perjalanan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَ تَرَكَهَا

“Apa peduliku dengan dunia? Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” 

(HR. Tirmidzi no. 2551. dishahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi)

Renungkan juga, ketika perjalanan pulang kampung: “Apakah kita bisa membawa banyak bekal?” “Apakah semua yang ada di perantauan kita bisa dibawa semuanya ke kampung?”
Demikian juga perjalanan kita ke kampung akhirat, tidak ada dari kekayaan dunia dan kemegahannya yang akan kita bawa. Yang kita bawa adalah amal kebaikan kita saja. Amal ini tidak terlihat (tidak ada bendanya) di dunia, tempat perantauan sekarang. Ketika manusia akan dibawa ke kubur kelak, semua akan mengikutinya yaitu keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan harta, sedangkan yang tetap mengikuti bersamanya adalah hanya amalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻳَﺘْﺒَﻊُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ، ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺍﺛْﻨَﺎﻥِ ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻣَﻌَﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ، ﻳَﺘْﺒَﻌُﻪُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻋَﻤَﻠُﻪُ ، ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ، ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻋَﻤَﻠُﻪُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.”

(HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)

Saudaraku,
Patut untuk kita renungkan juga bahwa yang namanya perjalanan dan safar pastinya ada kesusahan dan ketidaknyamanan. Selama masa safar dan perjalanan jauh lagi panjang, kita tidak merasa senang dan gembira terus-menerus atau bahkan bermain-main.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan,

،ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻥَّ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﻣﺒﻨﻲٌّ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺸﻘَّﺔ ﻭﺭُﻛﻮﺏ ﺍﻷﺧﻄﺎﺭ، ﻭﻣِﻦ ﺍﻟﻤﺤﺎﻝ ﻋﺎﺩﺓً ﺃﻥْ ﻳُﻄﻠَﺐ ﻓﻴﻪ ﻧﻌﻴﻢٌ ﻭﻟﺬَّﺓ ﻭﺭﺍﺣﺔٌ، ﺇﻧَّﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﺑﻌﺪَ ﺍﻧﺘﻬﺎﺀ ﺍﻟﺴﻔﺮ

“Orang yang berakal akan tahu bahwa safar itu identik dengan kesusahan dan terpapar berbagai bahaya. Tempat di mana manusia berharap/menuntut adanya nikmat, kelezatan dan kenyamanan hanya ada pada saat safar telah selesai.”

Saudaraku,
Akhirat lah pemberhentian terakhir dan merupakan kehidupan yang sesungguhnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ﻳَﺎ ﻗَﻮْﻡِ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫَٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉٌ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓَ ﻫِﻲَ ﺩَﺍﺭُ ﺍﻟْﻘَﺮَﺍﺭِ

“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kesenangan sementara. Dan sesungguhya akhirat itu adalah negeri tempat kembali.” 

(QS. Ghafir: 39)

Bagi yang telah dilalaikan dan tertipu oleh kehidupan dunia, ia akan menjalani kehidupan dunia ini dengan bermain-main dan bersenda-gurau serta saling berbangga-bangga saja. Allah Azza wa Jalla berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” 

(QS. Al-Hadid: 20)

Semoga kita semua bisa pulang kampung, kampung bapak kita Nabi Adam ‘alaihis salam dan termasuk orang beruntung dan sukses yaitu dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” 

(QS. Ali Imran: 185)

Saudaraku,
Bila Allah Azza wa Jalla menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya, maka jalan keluar atas berbagai persoalan di dunia akan datang dari jalan yang tidak disangka-sangka. Mereka yang bahagia adalah mereka yang bisa menghadapkan wajahnya pada Allah Azza wa Jalla, hatinya pun terpaut pada-Nya, keyakinannya pun kuat bahwa jalan keluar dari berbagai macam ujian ini hanya datang dari-Nya... 

Saudaraku,
Semua orang yang menghinamu atau yang memujimu tidak akan berpengaruh padamu sedikit pun. Karena kita yakin bahwa kehinaan dan kemuliaan akan datang dari kedekatan atau jauhnya hubungan antara dia dan Allah Azza wa Jalla...

Saudaraku,
Jika langkahmu sudah terlampau jauh dari-Nya, mari segera kembali karena ada bagian yang harus diselesaikan dan dibenarkan. Saat segalanya telah kacau, pulanglah dulu pada hatimu, mungkin ia sedang tidak baik-baik saja, ia butuh kesendirian untuk memutar balik haluan hidupnya, memperbaiki hati...

Sejauh dan setinggi apapun jabatan dan gelarmu, ingatlah bahwa kamu tetap seorang hamba, jangan lupa jalan pulang...

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah pada sisa kehidupan senantiasa mempersiapkan diri dengan bekal amal di akhirat yang terbaik untuk meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.

_Wallahua'lam bishawab_

Saturday, August 22, 2020

MANUSIA YANG HATINYA SEPERTI HATI BURUNG

*KULTUM*

*MANUSIA YANG HATINYA SEPERTI HATI BURUNG*

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ , beliau bersabda:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

Akan ada sekelompok manusia yang masuk surga yang hati mereka seperti hati burung. [Musnad Ahmad : 8032 & Shahih Muslim : 5074]

Apa yang dimaksud dengan manusia yang Hati nya seperti Hati Burung ?

Kalau kita sebagai orang awam pasti akan sulit untuk menafsirkan hadits tersebut.

Merujuk pada kitab Syarh Shahih Muslim (17/177), Imam An-Nawawi menyebutkan, ada 3 pendapat ulama dalam memaknai orang yang Hatinya Seperti Hati Burung,

*Pertama :*  _Orang Yang Hatinya Lembut Seperti Burung_

Hal itu sebagaimana pujian yang pernah diberikan Nabi ﷺ kepada penduduk Yaman. Beliau mengatakan :

أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ ، أَضْعَفُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفْئِدَةً ، الْفِقْهُ يَمَانٍ ، وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ

Ada penduduk Yaman yang datang di tengah kalian. Mereka manusia yang paling lembut hatinya. Pemahaman agama banyak di Yaman, dan hikmah banyak di Yaman. (HR. Bukahri 4390 & Muslim 193).

*Kedua :* _Orang Yang Hatinya Mudah Takut Kepada Allah Seperti Burung_

Sehingga dia menjadi manusia yang mudah kembali kepada kebenaran, bukan anti-nasehat. Merekalah yang dipuji Allah dalam al-Quran, dan Allah gelari sebagai ulama.

Alllah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
_Yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya adalah ulama_. (Fathir: 28)

*Ketiga :*  _Orang Yang Hatinya Sangat Bergantung Dan Tawakkal Kepada Allah Seperti Burung_

Rasulullah ﷺ  pernah menjadikan Burung sebagai *Lambang Tawakkal*.

Umar Bin Al Khaththab berkata : aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ أَلَا تَرَوْنَ أَنَّهَا تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebaik baiknya, niscaya kalian akan diberi rizqi, sebagaimana seekor burung diberi rizqi, tidakkah kalian melihat bahwa dia terbang di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang. [Musnad Ahmad : 351 & Sunan Ibnu Majah : 4154 & Sunan Tirmidzi : 2266]

Dari penjelasan Imam An Nawawi tersebut kita sekarang bisa mengetahui siapa sebenarnya manusia yang Hatinya seperti Hati Burung yaitu : Hatinya Lembut / Santun , Mudah kembali kepada kebenaran jika diingatkan , Mudah menerima ilmu dan Mudah takut kepada Allah.

_Semoga Allah menjadikan Hati kita seperti Hati Burung *Yang mudah menerima Kebenaran* dan *Suka dengan Ilmu* dan *Takut Kepada Allah* serta Berusaha untuk Melembutkan Hati  sehingga kelak kita dimasukkan kedalam Surga dalam Golongan Orang-Orang yang Hatinya seperti Hati Burung_.

Allahu a’lam.

Semoga Bermanfaat.

Semoga Segala Aktivitas Hari Ini Bernilai Ibadah Disisi Nya. Aamiiin.

Salam

Friday, July 31, 2020

Sekilas Tentang Hari Tasyriq

*Sekilas Tentang Hari Tasyriq*


Hari tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah yaitu tiga hari setelah Hari Raya I’dul Adha. Ada juga yang menyatakan, bahwa hari tasyrik meliputi empat hari yaitu Hari Raya Idul Adha dan 3 hari setelahnya.

Secara Bahasa , istilah tasyrik diambil dari kata [شرقت الشمش] yang artinya matahari terbit. Menjemur sesuatu, dalam bahasa Arab dinyatakan: [شَرَّقَ الشَيْءَ لِلشَّمْشِ].

Dinamakan Tasyriq karena pada hari itu banyak daging qurban yang di jemur di terik matahari karena di masa itu tidak ada pendingin atau freezer seperti saat ini. Sehingga agar daging itu awet maka  daging tersebut dijemur atau didendeng.

Dalam Hadiits Rasulullah juga dikatakan bahwa Hari Tasyriq adalah *Hari Makan dan Minum*.

Dari Nubaisyah Al Hudzali ia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda :

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ 
Hari-hari Tasyriq adalah hari makan-makan dan minum. [Shahih Muslim : 1926]

Karena pada hari Tasyriq adalah Hari Makan dan Minum maka Haram hukumnya Berpuasa pada Hari Tasyriq.

Imam Nawawi berkata : _Ini adalah Dalil tidak boleh sama sekali berpuasa pada Hari Tasyriq_. (Syarh Shahih Muslim, 8: 18)

Dalam Hadits lain selain Hari Makan dan Minum juga dikatakan sebagai *Hari Berdzikir Kepada Allah* sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

Dari Nubaisyah Al Hudzali dia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda :

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

_Hari-hari Tasyrik (tanggal 11 , 12 , 13 Dzulhijah) adalah hari-hari untuk makan, minum, dan *Berdzikir kepada Allah 'azza wajalla*_. [Musnad Ahmad : 19797]

Anjuran untuk banyak berdzikir di Hari Tasyriq juga ditegaskan dalam Al Qur’an (Al Baqarah : 200-201).

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنْ خَلَٰقٍ
_Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka *Berdzikirlah* dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: *Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia , dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat*_. [Al Baqarah : 200]

وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ يَّقُوۡلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَّفِى الۡاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
_Dan di antara mereka ada yang berdoa : *Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannar* (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka)_. [Al Baqarah : 201]

Dalam Al Qur’an Hari Tasyriq disebut juga dengan nama Al-Ayyam al-Ma’dudat* (hari-hari yang terbilang)

وَاذۡكُرُوا اللّٰهَ فِىۡٓ اَيَّامٍ مَّعۡدُوۡدٰتٍ‌ؕ 
_Dan berdzikirlah kepada Allah pada *Ayyamim ma’duudat* (hari yang telah ditentukan jumlahnya)_. [Al Baqarah : 203]

Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah al-Qurasyi, bahwa beliau mendengar Abu Musa al-Asy’ari berceramah dalam khutbahnya ketika Idul Adha :

بعد يوم النحر ثلاثة أيام التي ذكر الله الأيام المعدودات لا يرد فيهن الدعاء فارفعوا رغبتكم إلى الله عز و جل

_Setelah hari raya qurban ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya sebagai *Al-Ayyam al-Ma’dudat* (hari-hari yang terbilang), *DOA PADA HARI-HARI INI, TIDAK AKAN DITOLAK*. Karena itu, perbesarlah harapan kalian_. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 506).

Dari Anas dia berkata :

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

_Do'a yang paling banyak dipanjatkan Nabi ﷺ adalah: *RABBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH WAFIL AAKHIRATI HASANAH WAQINAA 'ADZAABAN NAAR* (Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka_). [Shahih Bukhari : 5910]

Dari Ibnu 'Abbas dari Nabi ﷺ , beliau bersabda :

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Tidak ada amal yang lebih utama pada hari-hari (tasyriq) ini selain berkurban." Para sahabat berkata, "Tidak juga jihad?" Beliau menjawab: "Tidak juga jihad. Kecuali seseorang yang keluar dari rumahnya dengan mengorbankan diri dan hartanya (di jalan Allah), lalu dia tidak kembali lagi. [Shahih Bukhari : 916]

Berbahagialah sebagai Muslim Yang setiap tahun selalu menyisihkan rezekinya untuk Berqurban karena *Tidak ada amal yang lebih utama pada hari-hari (Tasyriq) ini selain berkurban*.

Jangan lupa juga untuk banyak berdzikir dan juga berdoa mohon kepada Allah agar diberi kebaikan kehidupan di dunia dan akhirat.

*Salam*

Friday, July 24, 2020

TAWAKKAL SEBAGAI PENYEMBUH THIYARAH

*TAWAKKAL SEBAGAI PENYEMBUH THIYARAH*

*اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ*

  _"Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya."_
 *(HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad No. 909, Abu Dawud No. 3910 dan At-Tirmidzi No. 1614)*

 ☪ Hadits diatas menegaskan bahwa *thiyarah* (merasa sial karena sesuatu) termasuk syirik, dia menafikan kesempurnaan tauhid, karena orang yang menganggap sesuatu akan membawa sial atau celaka, maka keyakinan seperti ini jelas menyalahi  taqdir (ketentuan) Allah Swt.

 ☪ Thiyarah merupakan akidah zaman Jahiliyah, sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun merasa sial karena kehadiran Musa AS. beserta pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa.

🌙 *Allah Swt berfirman :*
  _Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata :_  
 _"Itu adalah karena (usaha) kami."_
 _" Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya."_ 
 _" Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."_
 *(QS. Al A’raf/7 Ayat : 131)*

 ☪ Setelah Islam datang, maka Rasulullah Saw. melarang" thiyarah" dan sangat mencela pelakunya. Islam mengembalikan segala permasalahan kepada sunatullah (ketentuan-ketentuan Allah)  yang pasti dan bertawakkal kepada kekuasaan-Nya yang mutlak. 

🌙 *Allah Swt. berfirman :*
  _"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya)."_
 *(QS. Ath Thalaq/65, Ayat : 3*

 ☪ Kita dilarang untuk
 menuduh kesialan itu karena  tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Swt.

 🌙 *Syekh Sholeh Al Fauzan berkata :* 
  _"Penyembuh dari "thiyarah" adalah dengan bertawakkal pada Allah. Kemudian  meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati."_

 ☪ Jauhkan perasaan sial karena sesuatu secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu, sebagaimana anggapan sial dibulan Shafar. Kalau di negeri kita, yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.

🌙 *Dari Abu Hurairah Ra,  bahwa Rasulullah Saw. bersabda :*
 _"Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar."_
  *(HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)*

 ☪ *Ketika kita mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, dianjurkan untuk berdo'a :*

*اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ*

 _"Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali Engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."_
 *(HR. Abu Daud)*

*Allahumma Aamiin*

*SEMOGA MANFAAT*

*Sumber :*
1. assunnah-qatar.com
2. almanhaj.or.id
3. rumaysho.com

Thursday, July 23, 2020

JANGAN SAMPAI TERGELINCIR DI USIA SENJA.

JANGAN SAMPAI TERGELINCIR DI USIA SENJA.

Bismillahirrahmanirrahim...
Ibnul Jauzi rahimahullahu ta’ala berkata :
“Terkadang suatu hukuman ditunda hingga akhir usia tiba. Duhai (betapa malangnya) orang yang terus tergelincir di hari tua karena sebab dosa-dosanya di masa muda.”

_*Memang hidup tak akan lepas dari adanya masalah,* tapi jika masalah yang dihadapi adalah akibat perbuatan dosa yang dihasilkan diri sendiri itu yang patut disesalkan. Hidup terdegradasi bahkan lenyap segala kebaikan dan kemuliaan sebagai manusia. *Naudzubillah Min Dzalik*_

*↗️Al-Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun :* maka ia telah mengetahui besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga ia terus mensyukurinya.

*↗️Imam Malik rahimahullah berkata :*
“Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan bergaulan bersama manusia. Ketika mereka sampai usia 40 tahun, mereka menjauh dari manusia.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 14:218)

*↗️Ibnu Katsir menyatakan bahwa ketika seseorang berada dalam usia 40 tahun :* maka sempurnalah akal, pemahaman dan kelemah lembutannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:623)

*🗣️Sebagaimana diterangkan oleh Imam Asy-Syaukani rahimahullah :* para ulama pakar tafsir menyatakan bahwa tidaklah seorang nabi diutus melainkan mereka telah berusia 40 tahun. (Fath Al-Qadir, 5:24)

_Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan *masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih.*_

*↗️Ibrahim An-Nakha’i mengatakan :*
"Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. *Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah dalam Quran Surat At-Tin Ayat 6 :* Kecuali orang-orang yang beriman & mengerjakan amal saleh ; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. *Wallahu ta’ala a’lam.*

_Kiranya hidup mewah tak selalu membawa kebahagiaan di hari tua. Kesederhanaan itu lebih meringankan. Sebab terkadang manusia dibuat kehilangan waktu-waktu yang lain saat obsesinya diarahkan kepada mengejar duniawi semata. Hidup menjadi tidak proporsional.(tdk terkontrol)_

Barakallah fii Kum

Sunday, July 19, 2020

SOMBONG TERSELUBUNG

SOMBONG TERSELUBUNG

Seorang pria yang sedang bertamu di rumah seorang Ustadz Kondang tertegun heran,  ketika melihat Sang Ustadz sedang sibuk bekerja sendiri menyikat lantai rumahnya sampai bersih.

Pria itu bertanya,
"Apa yang sedang antum lakukan Pak Ustadz..?
Mengapa bukan pembantu rumah tangga saja yang antum perintahkan untuk mengepel lantai rumah?"

Pak Ustadz menjawab dengan tersenyum,
"Tadi saya kedatangan tamu yang meminta nasihat.

Saya berikan banyak nasihat yang insya Allah bermanfaat.
Namun, setelah tamu itu pulang di dalam hati saya terbersit penilaian bahwa saya ini orang hebat. Dibutuhkan banyak orang.
Kesombongan saya pun mulai muncul.
Oleh karena itu, saya lakukan  pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombong itu."

Kemudian pak Ustadz melanjutkan penjelasannya . 

SOMBONG adalah PENYAKIT HATI yang sering menghinggapi kita semua.

Siapa saja dan apapun statusnya, orang awam atau tokoh masyarakat bisa juga dihinggapi penyakit sombong ini.

Bahkan di kalangan para ustadz, muballigh, kiyai atau habaib,  benih-benih kesombongan bisa muncul tanpa mereka sadari. 

● Ditingkat ke-1:
Sombong disebabkan oleh *Faktor materi,* di mana kita merasa :
~ Lebih kaya,
~ Lebih berkuasa,
~ Lebih tinggi jabatan,
~ Lebih rupawan &
~ Lebih terhormat daripada orang lain. 

●Ditingkat ke-2 :
Sombong disebabkan oleh *Faktor kecerdasan,* kita merasa :
~ Lebih rajin
~ Lebih pintar
~ Lebih kompeten
~ Lebih berpengalaman
~ Lebih berwawasan dibandingkan dengan orang lain. 

●Ditingkat ke-3:
Sombong disebabkan oleh *Faktor kebaikan*, kita sering menganggap diri kita:
~ Lebih bermoral
~ Lebih pemurah
~ Lebih banyak amalnya
~ Lebih semangat berjuang dan beribadah
~ Lebih banyak kontribusinya untuk umat.
~ Lebih besar dari orang lain berdasarkan apa yang sudah dicapai, seraya meremehkan orang lain dengan menganggapnya orang kecil.
~ Lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik...
Semakin Tinggi tingkat KESOMBONGAN kita, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

Sombong karena MATERI mudah terlihat.
 
Namun, 

Sombong karena PENGETAHUAN, apalagi SOMBONG karena KEBAIKAN, SULIT DILIHAT.

Karena, ....
Seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Cobalah setiap hari kita melakukan INTROSPEKSI DIRI.

Kadang kita butuh orang lain untuk membantu mengintrospeksi diri.

Kita juga butuh kritikan dan masukan dari orang lain. 

Mari kita sadari bahwa setiap hal yang baik, yang bisa kita lakukan itu semua adalah karena izin dan pertolonganNya saja.

Maka hendaklah kita banyak bersyukur kepada-Nya.
Semua itu tidak lain adalah ANUGERAH-NYA.

KESOMBONGAN hanya akan membawa kita pada KEHINAAN DIRI dan KEJATUHAN yang mendalam.

Tetaplah BERSABAR dan RENDAH HATI.

Ketika lahir, dua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong...

Waktu datang kita tidak membawa apa-apa, waktu pergi kita juga tidak membawa apapun.

Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan, 
jangan minder karena miskin dan rendah, 
bukankah kita semua hanyalah tamu didunia ini, 
pada waktunya kita pulang ke akherat, dan semua milik kita hanyalah titipan dari Allah Azza Wa Jalla yang sewaktu-waktu  diambilNya.

TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita.

TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita.

HANYA SATU KEPUNYAAN KITA yang bukan pinjaman, yang akan kita bawa kemana pun kita pergi, yaitu 
IMAN + AMAL.

Tidak akan menjadi orang besar jika dalam hati selalu menganggap kecil orang lain.

Kita sama-sama saling belajar merendahkan hati, tetapi tidak merendahkan diri. 


(sekedar renungan juga reminder untuk diri sendiri) 
🌸✨☕~~~

Saturday, June 27, 2020

MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT

MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT

Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RA

Ia adalah seorang sahabat yg tdk menonjol dibandingkan sahabat2 yg lain

Ada suatu kebiasaan unik darinya yaitu setiap masuk masjid sbelum sholat berjamaah ia selalu beritikaf di pojok depan masjid.
Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Roasulullah SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah. 

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rasulullah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA.Namun tak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA.

Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.  

Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA..?
Namun tak ada seorangpun yang menjawab.

Nabi bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA..?

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA

Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.
Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut Nabi SAW mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut

“Benarkah ini rumah Sya'ban ?” Nabi bertanya

“benar ya Rasulullah, saya istrinya” jawab wanita tersebut

“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid ?”

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“Beliau telah meninggal tadi pagi..”

Rasulullah dan para sahabatnya mengucapkan;
“Innalilahi wainna ilaihirojiun Masya Allah, satu-satunya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya”

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rosul SAW :
“Ya Rasulullah, ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya."

“Apa saja kalimat yang diucapkannya ?” tanya Rasul

Di masing2 teriakannya ia berucap kalimat:
“Aduh kenapa tdk lebih jauh..”
“Aduh kenapa tdk yg baru”
“Aduh kenapa tdk semua”

Lalu Nabi menjelaskan dari perkataan yg keluar dari lisan Sya’ban sbelum sakaratul maut
Nabi pun melantukan ayat yg terdapat dalam surat Qaaf 50 ayat 22 :
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah
Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.

Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.

Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya.

Saat melihat itu dia berucap:

“Aduuh kenapa tidak lebih jauh..?”

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya
Jadi dia memakai dua buah baju. 
Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar. Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan sholat dengan baju yang lebih bagus. Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan.

Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.

Sya’ban pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut 

Kemudian dia berteriak lagi:

“Aduuuh kenapa tidak yang baru...?”

 Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.

Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis didepan pintu yg meminta diberi sedikit roti krn sudah lebih 3 hari perutnya tdk diisi makanan
Melihat hal tersebut Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi 2 roti sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama-sama roti itu yg sebelumnya dicelupkan susu dengan porsi yg sama

Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga yg indah

Demi melihat itu diapun berteriak lagi:

"Aduh kenapa tidak semua..?”

Sya’ban kembali menyesal
 Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yang lebih indah

Masya Allah , Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa ia tidak optimal.

Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakaratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia. 

Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan.

Sering sekali kita mendengar ungkapan hadits berikut:
“Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam.”
“Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam .”
“Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya.”

Namun lihatlah, masjid tetap saja lengang.
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah.
Mengapa demikian ?

Karena apa yang dijanjikan Allah SWT itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.
Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah tdk pernah meleset

Allah akan membuka hijab itu pada saatnya
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan
Sya’ban RA telah menginspirasi kita
bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah SWT tsb. 
Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal.
Namun penyesalannya bukanlah karena tidak menjalankan perintah Alloh SWT.
Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan dengan optimal. 

Sudahkah kita semua berhitung siap menghadapi apa yg akan pasti kita hadapi yaitu sakaratul maut, atau masih sibuk dgn urusan dunia yg pasti kita tinggalkan...?

Semoga kita semua selalu bisa mengoptimalkan kebaikan-kebaikan disetiap kesempatan. Aamiin...

Semoga bermanfaat

Sumber : 
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/16/12/24/oio4lo396-sahabat-rasul-syaban-ra-yang-menyesal-saat-sakaratul-maut