Pertama, ia merupakan bagian penting dari makna syahadat. Maka, menetapkan “hanya Allah” dalam syahadat tauhid berarti seorang Muslim harus berserah diri hanya kepada Allah, membenci dan mencintai hanya karena Allah, lembut dan marah hanya kepada Allah, dan ia harus memberikan dedikasi maupun loyalitasnya hanya kepada Allah.
“Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’aam: 162)
“Dan
dikatakan kepada orang-orang
yang bertakwa, ‘Apakah
yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab,
‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang
yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan)
yang baik.
Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang
yang bertakwa.” (an-Nahl: 30)
Kedua, ia merupakan bagian dari ikatan iman yang kuat. Rasulullah saw. bersabda,
“Ikatan iman
yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR Ahmad dalam Musnadnya dari al-Bara’ bin ‘Azib)
Ketiga, ia merupakan SEBAB UTAMA yang menjadikan hati bisa merasakan manisnya iman. Rasulullah saw. bersabda,
“Ada tiga hal
yang apabila seseorang mendapatkan dalam dirinya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: hendaklah
Allah dan Rasulnya lebih ia cintai daripada dirinya sendiri; hendaklah ia tidak mencintai seseorang kecuali karena
Allah; hendaklah ia benci kepada kekufuran seperti bencinya untuk dilemparkan ke dalam neraka setelah
Allah menyelamatkannya daripadanya.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Keempat, ia merupakan tali PENGIKAT di mana masyarakat Islam dibangun di atasnya.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada
Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10)
Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.” (HR Ahmad dalam Musnadnya)
Kelima, pahala
yang sangat besar bagi orang yang mencintai karena Allah. Rasulullah saw. bersabda,
“Orang-orang
yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku
(Allah) akan berada di atas mimbar dari cahaya pada hari kiamat di mana para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi)
“Ada tujuh golongan
yang akan mendapatkan naungan
Allah, di mana pada hari itu tiada naungan kecuali naungan-Nya.
(Di antara mereka) adalah dua orang laki-laki
yang saling mencintai karena
Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena
Allah.” (HR Muslim)
Keenam, perintah syariat untuk mendahulukan Loyalitas kepada Allah daripada hubungan yang lain.
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal
yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai
Allah mendatangkan keputusan-Nya.’
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.” (at-Taubah: 24)
Ketujuh, mendapatkan PERLINDUNGAN dari Allah
“Allah
Pelindung orang-orang
yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).
Dan orang-orang
yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan,
yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)
sumber : dakwatuna.com

No comments:
Post a Comment